AKU KAMU DN SEKUNTUM RINDU {SERI MINI KUMCER #2}


MODAL DUSTA

Mas, kamu dimana? Jadi nggak kita jalan hari ini?
Gadis berwajah cantik tampak gelisah di depan tugu patung sarjana. Ia mengenakan dress panjang bermotif bunga-bunga kecil dengan kardigan coklat dan keudung berwarna senada. Bosan mondar-mandir dengan gelisah, sesekali ia duduk dan merenung di sudut taman. Tak lama merenung, ia menatap ponselnya yang bergetar, sebuah pesan masuk untuk dia.
Maaf sayang, Mas baru selesai latihan teater. Ini lagi OTW kesana. 10 menit lagi aku sampai.
Gadis itu menghela nafas nafas, tampak sekali raut kecewa di wajah cantiknya.
Seorang laki-laki membuka helm dan bergegas menghampiri gadis berwajah cantik yang tengah menopang dagu, wajah gadis di depannya benar-benar sedang menampakkan kebosanan. Laki-laki itu tersenyum dan menyapa sang gadis.
“Rani, kelamaan yaa nunggunya. Maaf ya, lain kali nggak lagi deh.”
Gadis yang disapa Rani itu menganggkat muka dan menatap laki-laki di hadapannya dengan jutek.
“Lain kali kalau Mas Imam ada latihan teater, mending kita batalin aja deh Mas hunting fotonya. Ampe jamuran deh aku nungguin disini.”
“Kamu lucu deh kalau udah jutek kayak gini. Nih, pakai helm, kita berangkat sekarang.”
Mereka bergegas menuju motor dan meninggalkan taman. Sesampainya di pelataran Masjid Bayumi mereka berhenti dan mulai mempersiapkan kamera. Setelah lama memotret, Rani duduk dibawah pohon tak jauh dari aula masjid. Pandangannya menerawang.
“Studionya benar-benar mengagumkan, seperti perkiraanku. Hm, pemiliknya ganteng, teduh dan pinter banget ngambil foto. Lengkap deh. Nggak sia-sia aku kepoin Instagramnya..” Rani tersenyum, benar-benar terlihat bahagia.
Ditengah kerumunan pengunjung yang datang ke studio pameran fotografi, Rani mencari-cari seseorang.
“Dia dimana ya? Harusnya aku bisa ketemu dia sebelum pulang ke rumah..,” Rani celingukan diantara kerumunan orang,”Please kak Randi, nongolin muka dong..bentaaar ajaa..”
“Cari siapa dek?” seseorang menyapa Rani.
Rani terkejut dan menoleh ke samping. Dia nyaris berteriak, namun menahannya.
“Eh, Maaf. Cari temen. Oh ya, ini semua foto-foto kak Randi sendiri?”
“Nggak semua, beberapa ada yang miliknya teman-teman komunitas fotografi. Gimana, tertarik dengan foto-fotonya?” jawab Randi.
Lebih tertarik sama yang moto sih sebenarnya. “Iya, kak. Tertarik banget. Kebetulan saya sering juga sih foto-foto, tapi nggak sebagus hasil foto kak Randi.” Kilah Rani.
“Awal yang bagus, kalau mau kamu bisa gabung di komunitas kami. Nanti bisa sambil belajar dengan teman-teman yang lain.”
“Oh ya?” Rani tampak antusias,”Kapan kak?”
“Kami hangout biasanya tiap sabtu dan minggu, di danau retensi UNSRI. Datang aja, oh ya nama kamu siapa dek?”
“Rani, Indah Aviaarani lengkapnya.” Jawab Rani malu-malu, wajahnya benar-benar memancarkan kebahagiaan.
“Baik, silahkan menikmati foto-foto di studio saya hari ini. Sampai ketemu lagi, saya tinggal dulu ya.”
“Iya,kak. Terima kasih.”
Rani memandangi Randi yang sibuk menyapa pengunjung studionya. Tak henti-hentinya ia mengatupkan kedua telapak tangan ke wajahnya, refleksnya jika terkesan dengan sesuatu yang disukai. Binar matanya turut menegaskan kebahagiaan dalam hatinya. Tiba-tiba dia terkejut, seseorang memegang bahunya.
“Mas imam. Ada apa?”
“Udahan yuk, pulang. Kamu udah dapat banyak foto kan sore ini? Takut kesorean nih, udah hampir maghrib loh.” Imam menarik pergelangan tangan Rani, mengajaknya menuju motor.
“Ampun, untung nggak kelepasan tadi. Bisa-bisanya aku ngelamunin orang lain di depan pacar sendiri. Bodoh!” Gerutu Rani dalam hati.
Rani bergegas menuju parkiran motor dan memasang helm di kepala. Dilihatnya Imam masih terpaku menatap Masjid Bayumi dengan tatapan gelisah. Rani menghampiri Imam.
“Mas Imam, kok sedih gitu? Tadi ngajakin pulang, kalau masih mau lama kita sholat disini aja. Pulangnya setelah maghrib.”
Imam menoleh dan tampak gugup. Dia lalu memasang helm dan menghidupkan motor.
“Nggak apa-apa kok, hanya teringat sesuatu aja tadi. Tapi nggak tau sesuatu itu apa.”
Rani naik ke belakang motor. Mereka berdua segera melaju menuju rumah Rani. Sepanjang perjalanan, Imam tak mampu menhilangkan pikiran yang berkecamuk dibenarknya.
Rani, maaf kalau membuatmu nggak nyaman sore ini. Mas merasa hubungan kita nggak bisa terus-terusan begini. Aku selalu merasa bersalah setiap kali melihat masjid. Aku juga tertekan jika harus beralasan ada latihan teater setiap kali kamu memintaku untuk mengantarmu jalan-jalan.