HUJAN


Aku merenung sore itu
Tentang banyak hal, ruwet sekali
Tentang kaum ku, negeriku
Aku merenungkan raga, sementara tanggal sudah bernota 20 April
Lusa, seluruh negeriku merayakan hari ke-21, segala rupa.

Dari yang biasa, pagelaran, hingga hura-hura
Dari sekedar kebaya, napak tilas hingga unjuk suara
Katanya, ini seumpama hari raya wanita
Semua serba kita-kita
Aku merenung sore itu
Tentang banyak hal, kusut sekali
Tentang kaum ku, negeriku
Kitab ku berbicara, coba kau buka pada surah ke-8
Sampailah pada pertengahan ayat ke empat puluhan, bilang kedelapan.
Aku merenungkan, ruwet sekali
Lusa, tak terkirakan berapa dosa yang menguar atas nama hari kaumku

Kami dibuai penghormatan, kesempatan, keadilan dan persamaan
Apakah kami bisa tak menjadi nila?
Lusa, katanya seumpama hari raya wanita
Apakah bisa kami tak jadi bahan bakar neraka?
Sedikit luput, bisa-bisa kami tak menjangkau aroma surga
Sore itu, ditemani hujan yang terus menganak rinai
Aku merenungkan banyak hal, ruwet sekali

Aku terkenang pada sosok-sosok itu
Yang namanya tetap terabadikan zaman

Ruwet sekali urusan kaumku, negeriku
Kami bukan asiyah, bukan pula anak perempuan Imran
Apakah kami bisa tak jadi bara?
Fitrah kaumku kabarnya malah jadi fitnah
Lusa, pembenaran, pelurusan,pembiasan, pembodohan beradu atas nama hari ke-21

Hujan merinai lagi
Tilawahku terhenti pada Surah ke-4, coba buka pada ayat ke seratusan, bilang kedua puluh
Berlanjut hingga bilang kedua puluh tiga

Aku merenungkan mereka, kaum ku, negeriku

*Umi Qonaah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s