TARBIYAH, DALAM SEBUAH CATATAN PEMIKIRAN


Oleh:
Umi Qona’ah
[Sekretaris KIW KAMMI SUMSEL]

 

Saya masih mengingat diskusi beberapa waktu lalu di grup Instruktur Sumsel tentang pembahasan ta’dib dan tarbiyah.

Sesungguhnya perbincangan itu terhenti secara sepihak, dengan tetap masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang masih mungkin untuk di lanjutkan.

Saya tertarik pada pertanyaan mengapa kita mengikuti gagasan konsep mendidik manusia dengan gagasan yang dibangun oleh Imam Hasan Albanna: Tarbiyah, sebagai istilah dlm konsep pendidikan islam.

Pada tulisan sebelumnya, saya merujukkan buku yang terkait. Namun sepertinya, rujukan hanyalah sebatas rujukan teori.
Baik, kita ulas lagi soalan ta’adib (ta’dib/adab) itu.
Penjelasan dan batasan yang digariskan oleh syed Naquib Al-attas, menurut pemikiran saya sesungguhnya adalah tazkiyatun nafs kita pada hakikat ilmi dan hakikat sebagai individu, sbg hambanya Allah.

Ta’dib, adalah konsep membangun peradaban manusia di tataran individu. Karena itulah imam Hasan Albanna menggunakan Tarbiyah sebagai konsep pendidikan islam.
Hasan Albanna benar-benar memahami filosofi sejarah peradaban islam. Bahwa islam datang bukan hanya berbicara soal meluruskan individu kpd aturan Haq nya, tetapi islam juga berbicara bagaimana membangun peradaban masyarakat islam.
Ini yang menurut saya belum disampaikan dg rinci dalam konsep ta’dib oleh Naquib Al attas.
Tentang bagaimana ta’dib ini dibangun sebagai nilai2 keislaman dalam kehidupan masyarakat.

Imam Hasan Albanna, telah melampaui bahasan pembangunan peradaban masyarakat islam ini.
Kita bisa telaah dalam tahap kita melibatkan diri dalam tarbiyah:
Tarbiyah diri👉 tarbiyah keluarga👉 tarbiyah masyarakat.

Dalam perangkat-perangkat tarbiyah, kita akan menemukan lagi tujuan dasar dari pendidikan.
Asas perubahannya, adalah dimulai dari ilmu. Paradigmanya adalah paradigma ilmiah sebagaimana Naquib Alattas menjabarkan kepada kita dalam tulisan islam and secularism-nya.

Lalu muncul pertanyaan, mengapa para Instruktur mesti disuguhkan pelajaran soal Ta’dib ini ketika kita telah dihidangkan lebih dulu pelajaran tentang tarbiyah?

Tidak lain, para Instruktur dituntut untuk ibda’ bi nafsi terkait paradigma kita terhadap ilmu dan paradigma kita dalam pendidikan.
Siapa yang jadi subjek didikan ini? Yupp, para calon kader/kader KAMMI yang akan kita didik dalam setiap daurah yang dikelola oleh Instruktur.
Agar proses daurah, tidak melahirkan para kader KAMMI yang berpikiran sekuler, agar cita-cita Muslim Negarawan benar-benar tertanam pada pijakan tauhid yg benar, sesuai dengan bagaimana kaidah peradaban islam membangun para generasi terbaiknya.

Sederhananya, kita ketika menyampaikan sebuah ilmu, maka kita tidak membicarakan ilmu dengan hanya menceritakan kulit-kulitnya yang sangat membosankan, agar siroh tidak terhenti sebatas memahami perang-demi peperangan yang terjadi. Tapi lebih daripada itu, kita menginginkan agar nilai-nilai filosofi suatu ilmu sebagai sesuatu hal yang tertanam kuat. Ilmu, yang bermula dari wahyu, yang dibawa oleh risalah Rosulullah. Filosofi ini yang kemudian menjadi bobot suatu ilmu sebagai pijakan menuju keyakinan yang Haq, yang oleh beberapa instruktur disederhanakan pada satu kalimat penuh makna,” Instruktur itu berbicara tentang bagaimana cara agar Hidayah Allah itu datang”.
Konstruksi besar ini, adalah bahan baku bagi konstruksi pembangunan peradaban islam yang akan menjadi sokoguru peradaban dunia.
Bagi saya, seperti itulah konsepsi Tarbiyah.

Wallahu a’lam.

Referensi terkait:
Sirah Nabawiyah
Manhaj Haraki
Budi Ashari, bagaimana ulama menjadikan sejarah sebagai panduan.

Iklan

One thought on “TARBIYAH, DALAM SEBUAH CATATAN PEMIKIRAN

  1. Naquib Al Attas memang salah satu cendekia yang bicara banyak tentang pendidikan dan adab. paradoksnya, justru nama di atas kurang begitu dikenal di kalangan “ikhwan”, sehingga referensi yang digunakan selalu melulu miliknya “kaum sendiri”. padahal, untuk tema pendidikan dan adab, Al Attas saya pikir adalah salah satu cendekia yang punya otoritas untuk berbicara banyak tentang tema tsb. sebab, referensi dari “kaum sendiri” itu hanya memberikan big picture saja terkait pendidikan, belum masuk ke masalah yang lebih strategis lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s