Assesment sebagai Langkah Awal Penentuan Design Daurah di KAMMI


Oleh Umi Qonaah [Sekretaris KIW Sumsel]

Berbicara soal pengkaderan di KAMMI, tentu tidak bisa dilepaskan dalam pembicaraan tersebut terkait Daurah dan calon kader yang akan mengikuti kegiatan Daurah KAMMI. Daurah yang paling dikenali sebagai ciri khas proses awal untuk menjadi anggota KAMMI adalah Daurah Marhalah 1 (DM1) KAMMI. Berbagai permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan DM1 telah banyak yang menuliskannya, baik itu dalam kritik maupun membingkainya menjadi sebuah gagasan perbaikan bagi proses kaderisasi KAMMI secara lebih luas.

Pada surat terbuka yang ditujukan bagi pegiat kaderisasi di KAMMI Solo, Akh Robert1 menyebutkan bahwa ada 3 tipe kader yang masuk di KAMMI, digunakan istilah kecambah sebagai  amtsal.  Isi surat terbuka itu juga menjelaskan bahwa tidak mungkin pengelola DM1  memperlakuan kecambah dengan perlakuan yang sama, ketika kecambah itu adalah kacang hijau, kedelai dan kacang tanah, begitu juga calon-calon kader di KAMMI.

Latar belakang dan motivasi yang berbeda saat memutuskan untuk masuk di KAMMI, ketika akan membawa mereka pada titik kordinat yang sama, hal yang terpenting di lakukan oleh para pengkader di KAMMI adalah menyeragamkan mereka pada 1 pijakan berfikir yang sama, hingga tak tercecer pada kuadran yang berbeda.  Proses penyamaan frekuensi ini idealnya diselesaikan pada mekanisme proses DM 1 KAMMI. Lebih lanjut dituliskan bahwa subtansi nilai akan tersampaikan dengan baik ketika menggunakan metodologi yang tepat.  Kebenaran juga harus menemui sunatullah-Nya dan bagaimanapun kondisinya untuk mencapai hasil yang baik, tetap harus menggunakan cara yang baik2.

Metodologi yang tepat dihasilkan dari serangkaian proses yang tidak saja harus sampai pada rancangan secara konsepsi namun juga harus bias menyentuh ranah rancangan untuk teknis pelaksanaan daurah. Salah satu dari serangkaian proses itu bernama Analisis Kebutuhan Daurah (AKD) atau kita perpendek kalimatnya dengan kata assesmen. Menurut Rosenberg (1982), assesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi yang akan digunakan untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang berkaitan dg anak didik. Akan tetapi, assesmen juga merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan namun tidak semata-mata untuk menilai hasil belajar saja, melainkan juga berbagai faktor yang lain, antara lain kegiatan pengajaran yang dilakukan itu sendiri.  Artinya, berdasarkan informasi yang diperoleh dapat pula dipergunakan sebagai umpan baik penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan (Burhan Nurgiyantoro, 2001).

Mengacu pada definisi diatas, pengelola kegiatan DM1 KAMMI harus melakukan proses pengumpulan informasi, baik yang berkaitan pada informasi calon peserta, kebutuhan komisariat penyelengggara, kebutuhan kampus secara lebih luas maupun informasi terkait lokasi penyelenggaraan DM1 dalam sebuah instrument pengumpulan dan penggalian informasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Rochyadi dan Alimin (2005), yang mengemukakan bahwa  ada beberapa langkah  yang  harus  ditempuh  dalam  penyusunan  instrumen asesmen.  Langkah penyusunan instrumen yang dimaksud adalah: 1) menetapkan aspek dan ruang lingkup yang akan diases, 2) menetapkan ruang lingkup, yaitu memilih komponen mana dari bidang yang akan    diakses,  3)Menyusun kisi-kisi instrumen asesmen, dan 4) Mengembangkan butir soal berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. Yusuf (2005) mengajukan pendapat bahwa beberapa  jenis  asesmen  informal  yang  dapat  digunakan seperti observasi, analisis  sampel ,  inventori  informal,  daftar  cek,  skala  penilaian,  wawancara, dan kuesioner. Serangkaian proses penggalian ini tentu memiliki kegunaan dan fungsi yang jelas.

Pada pelaksanaan DM1 KAMMI, tentu dimulai dengan penjaringan calon peserta dengan menggunakan sejumlah berkas yang harus diisi semisal biodata diri dan tulisan dalam bentuk opini sederhana. Penggalian lebih lanjut ada pada pra-DM1 KAMMI yang seyogyanya dikemas sedemikian rupa, dengan kreatifitas penyelengggara untuk mendapatkan informasi lebih akurat lagi terkait calon peserta DM sehingga masing-masing calon peserta dapat diketegorikan secara umum. Pada tahap ini, data dan informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk membuat rancangan dan design daurah yang mendekati ideal untuk masing-masing kategori peserta dengan mempertimbangkan kondisi tempat pelaksanaan agenda, tujuan daurah dan materi yang akan disampaikan pada saat daurah berlangsung.

Pemahaman fungsi assessment ini, tidak menjadikan proses penggalian informasi berhenti sampai di tahap awal saja. Pemberian orientasi daurah, semestinya menjadi satu instrument informal assessment yang menjadi titik penggalian lebih lanjut agar hasil dari assessment dapat lebih mengkristal dan mampu merumuskan design daurah yang tepat selama kegiatan daurah berlangsung.  Serangkaian proses metodologi ini kemudian dilanjutkan dengan penilaian dan evaluasi. Penilaian secara terukur tentu menjadi porsi yang diampu oleh para observer daurah dan evaluasi dilakukan secara berkala dengan memperhatikan lama waktu berlangsungnya kegiatan daurah tersebut.

Master of Training (MoT) adalah pihak yang paling berkepentingan terhadap adanya assesmen ini, target dan orientasi daurah mengacu pada referensi dari hasil analisis data assesmen ini. Pengetahuan assesmen dari daurah yang akan dilaksanakan ini, tentu tidak bisa hanya berada pada pikiran MoT saja namun harus didistribusikan pada seluruh perangkat daurah yang menjadi Tim Kerja MoT dalam menghandle kegiatan daurah. Hal ini agar seluruh perangkat memiliki keseriusan yang sama dalam mengelola daurah dan mempunyai visi yang sama pada pola atau design daurah yang dimainkan.

Design daurah yang dimaksud secara keseluruhan mencakup iklim daurah yang hendak dibangun, strategi penyampaian materi, jadwal daurah dan kegiatan-kegiatan strategis yang direncanakan untuk menunjang pencapaian target daurah yang terangkum dalam sebuah Rundown kegiatan daurah. Hal penting yang perlu diingat adalah, DM1 KAMMI adalah proses ideologisasi bagi calon-calon kader KAMMI dan proses ini harus diselesaikan saat kegiatan daurah berlangsung agar tidak menimbulkan kendala bagi proses pengkaderan KAMMI selanjutnya. Wallahu a’lam.

Referensi:

http://www.proenglishteacher.com/2015/05/perbedaan-asesmen-evaluasi-dan.html

http://journal.uny.ac.id/index.php/jpka/article/view/1301

CERI (Centre for Educational Research and Innovation) (1982). In-service education and training of teachers: A condition for educational change. Paris: OECD

Pulungan, Intan. 2015.Peningkatan Kemampuan Guru dalam Melakukan Penelitian Tindakan Kelas Melalui Implementasi Diklat. Sumatera Utara:sumut-kemenag.go.id

1Robert Edy Sudarwan, Kaderisasi PP KAMMI periode 2013-2015

2Nalar Kaderisasi KAMMI,25 April 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s