RENUNGAN MALAM


Aku masih sama, selalu kembali ke ruang tulis ini ketika bosan ku melanda. Entah mengapa, mengunjungi sahabat-sahabat ku lewat tulisan-tulisannya selalu mampu menuak kebosanan dan lesu. Yap, aku menyebut mereka adalah sahabat, meskipun sejatinya aku tak pernah berbincang secara akrab dengan mereka. Aku hanya akrab dengan tulisan-tulisannya saja, merasa seolah akulah sahabat yang mendengar pembicaraannya. Aneh bukan, seolah jatuh cinta pada tulisan itu sendiri.

Malam ini, lagi-lagi aku terhenyak, sederhana sebab nya. Aku hanya membaca sebait kata saja, namun entah kekuatan macam apa yang dibawa oleh penulisnya sehingga aku merasakan ruh yang ingin disampaikan.

Sungguh diri ini malu kepada sosok-sosok rendah hati yang ikhlas bekerja tanpa berharap ada balasan bagi mereka. Sungguh diri ini malu kepada sosok-sosok yang memikul amanah dakwah dengan kesungguhan dan lapang dada. Dan sungguh diri ini malu kepada sosok-sosok yang terus berjuang, ketika di seberang sana teman-teman mengungkapkan berjuta alasan untuk mundur. Dan sungguh diri ini benar-benar malu kepada sosok-sosok yang tulus “mewakafkan” dirinya di jalan dakwah, di saat setiap orang khawatir dan takut tentang harta, keluarga, status, dan akademik yang terbengkalai. (Sender : Lutfiah Safitri)

Sepotong kalimat diatas adalah beberapa yang kutemukan malam ini. Haaah, lagi-lagi dia benar bahwa kita sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang lain. Kalaupun kita berbuat baik, ada orang lain yang juga melakukan kebaikan yang sama, bahkan yang lebih baik pun banyak sejak dahulu. Begitu sebaliknya. Saat kita merasa bahwa kita yang terbaik saat ini, ketahuilah bahwa ada orang yang merasakan hal yang sama dan bahkan ada yang lebih dari itu, dan tahukah bahwa hal itu berbahaya?

Oh, siapakah kita di jalan dakwah ini. Barisan kita bukanlah barisan terdepan dan nama kita juga bukanlah seutama-utamanya nama, bukan juga orang terakhir yang bergabung dengan barisan dakwah! lalu bagaimana kita bisa berharap manusia akan mengenali kita?

Oh, siapakah kita di jalan dakwah ini. Amalan dakwah kita bukanlah amalan pejuang terdepan, juga bukan amalan dari seutama-utamanya manusia, juga bukan orang terakhir yang menyeru pada jalan dakwah. Lantas bagaimanakah cara agar Allah melirik kita? Agar Muhammad Rasulullah mengenali kita?

barisan

Oh, siapakah kitaa? Siapakah kita?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s