AKU KAMU DAN SEKUNTUM RINDU {seri mini kumcer #1}


oooOOO____OOOooo
Cinta mungkin menciptakan jarak,
namun juga menjadikan kita dekat satu sama lain meski berjauhan.
Cinta, gaungnya seperti angin musim semi,
yang mengabarkan keindahan bunga saat kedatangannya.
Seperti bunga yang membutuhkan matahari.
oooOOO____OOOooo
1
PROLOG
Gerry: Ai ta Katta1, Zahra
Bulan ini telah genap 60 purnama. Aku telah melangkah sejauh ini untuk menemui mu. Aku bahkan tidak yakin kau masih mengingatku, setelah apa yang terjadi padamu dahulu. Aku benar-benar kehilangan mu. Ah, dapatkah ini dinamakan kehilangan jika memiliki mu saja tidak pernah. Aku bahkan tidak tahu bagaimana rona kebahagiaan jika hari-hari bagaikan fatamorgana. Bagaimana aku hendak memulai cerita bahagia tanpa mu, zahra?
Sungguh, sebelumnya tidak pernah terlintas dibenakku tentang mencintai seorang wanita. Cinta yang membuat kita berarti sebab ketulusan dan kesucian di dalamnya. Sedikit pun tidak pernah terpikir, hingga aku bertemu dengan mu. Mengeja makna cinta dan menjaga kemurniannya. Meskipun saat aku sadari, kamu tidaklah ditakdirkan menjadi milikku. Setidaknya hingga saat ini.
Aku sering merasai hujan, namun tidak kulihat pelangi menghias pandangan.
“Zahra, tahukah kamu betapa rindunya aku?” ah, aku lupa bahwa kamu bukan milikku.
Adakah takdir mempermainkan perasaanku? Saat aku berusaha keras melupakanmu, aku justru mendengar kabar bahwa dahulu kamu gagal menikah. Bahkan, setelah lima tahun aku menghilang dari mengejar cintamu. Zahra, kabar ini memunculkan rindu yang kian menyeruak. Zahra, sulit bagiku untuk mencari dan menemuimu. Bahkan blog pribadi mu juga lama tidak update. Aku nyaris mati rasa pada perempuan selain dirimu.
Zahra, please.. Bunda sudah berkali-kali memintaku pulang untuk melihat gadis pilihannya. Namun, aku masih ingin mengenalkan mu lebih dulu pada bunda. Berharap agar bunda tahu bahwa wanita seperti dirimu yang kuinginkan sebagai istri, pelengkap separuh agamaku.
****
Mentari: Bolehkah kutemui dia?
Gerry Rahman, lama tidak kudengar namanya. Terakhir kali yang aku tahu dia studi ke luar negeri. Aku tahu hal ini dari mama. Oh, mama..i miss you soo much. Setelah wisuda, aku berkunjung ke rumah calon mertuaku yang sudah seperti keluarga sendiri. Di sana aku bertemu mama dan mampir ke rumahnya. Aku juga baru tahu bahwa ferri adalah Gerry Rahman, putra sulung mama.
Ferri adalah panggilan kesayangan keluarga sekaligus nama populer Gerry sebagai penyiar radio. Hei, tidakkah acara self mastering dan Special Request di Radio favoritku selama kuliah dulu juga dipandu oleh kang Ferri? Mungkinkah?
Yaaah, bagaimanapun Gerry pernah sedikit akrab denganku. Aku sering ngerasa blushing jika dia memanggilku “Ann” dengan nada yang lembut. Bahkan, pada beberapa hal kami juga memiliki banyak kesamaan. Contohnya adalah suka merangkai bunga dan pengagum Anggrek.
Jika ia benar Ferri yang dimaksud, maka..
“Astaghfirullah.. apa pantas aku seperti ini?”
Telah beberapa tahun kami bahkan tidak pernah bertemu, keluarganya pun demikian. Harusnya Gerry sudah menikah seperti yang pernah dulu ia sampaikan padaku, entah hal apakah yang membuatnya harus menghilang selama ini.
Ge, where are you?
Bukan, ini bukan perasaan rindu apalagi cinta. Sungguh tidak pantas. Hanya, entah mengapa aku mendapati kacamata miliknya masih tersimpan rapi di laci mejaku. Menyebalkan sekali dia.
Sahabat kreatif, senang sekali bisa menjumpai dalam ruang dengar anda. Bersama saya dan Rendi, kami berdua selama dua jam kedepan kita akan mendengarkan salam-salam bahagia kamu. Spesial nih buat kamu yang mau ngucapin ulang tahun, anniversary, atau moment-moment bahagia kamu. Okee, kita terima line telpon dulu untuk segmen pertama kita.
“Hallo, dengan siapa ini?”
“Hallo Rendi, Sonora Fresh and Friendly.”
“Dengan siapa nih?”
“Ferri,”
“Ferri mau kirim salam bahagia buat siapa nih?”
“Mmm, salam kangen aja deh buat keluarga Sonora. Aniversary ke-10 gue nih jadi penyiar Radio. Request lagunya Stinky dong, Jangan tutup dirimu.”
“Ini beneran kang ferri? Waah, surprise! Apa kabar kang Ferri?”
Baik-baik.. Rencana mau mampir ke studio. Eh, lagu tadi yaaa.. dikirim buat gadisku yang memiliki binar mata yang indah. Ucapannya, moga kamu bahagia selalu.” …
Kang Ferri? Hei, benarkah itu dia? Kenapa aku jadi bahagia ya mendengar suaranya?

[continue…]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s