MARI MENDONGENG


Suatu hari, Nila dan Vina bertanya kepada saya. Pada kesempatan yang berbeda, Heni juga bertanya kepada saya. Entah sudah berapa kali orang bertanya kepada saya, pertanyaan yang hampir sama nadanya. “Mbak mau apa setelah kuliah?”

Mari.. mari dengarkan dongengan saya. Dongeng ini bercerita tentang sebuah keinginan hidup.. kita mulai yaa.. 1..2… and taraa…:

Pada zaman dahulu, tumbuhlah seorang gadis kecil unyu-unyu di sebuah kompleks perumahan perkebunan swasta. Dia tentu bukan puteri raja, bukan juga puteri bangsawan kerajaan. Gadis itu adalah putri kesayangan dari seorang penjaga masjid di kompleks itu. Lincahnya sang putri tak menyurutkan pendidikan dan kasih sayang penjaga masjid itu kepada anak-anaknya yang lain. Yaa, putrinya tumbuh dengan kecerdasan, rasa ingin tahu yang tinggi, serta lebih jail dari sesamanya. Yang khas dari putrinya adalah logat bicaranya yang cadel.

Perkebunan sawit tentu menyimpan kesegaran dan pemandangan tersendiri bagi tumbuh kembang gadis kecil unyu-unyu itu. Setiap hari ia harus ke desa diluar kompleks perkebunan untuk sekolah, melewati jalanan yang penuh tumbuh-tumbuhan, ada sayuran, sungai dan tentu saja bekicot yang tak jarang terlindas roda sepeda milik kakaknya. Krasss…! begitulah kerenyahan cangkang bekicot saja tergerus roda kendaraan pabrik.

Sang bapak dari gadis kecil unyu-unyu ini juga sering bertemu dengan manager dan asisten perkebunan. Mereka rata-rata lulusan institut pertanian ternama dan penjaga masjid itu juga kerap melihat para pejabat perkebunan itu sholat dhuha di tengah-tengah hamparan tanaman sawit. Pak penjaga masjid ini, baiknya kita panggil dengan pak marbot saja. Begitu seringnya pak marbot melihat “keistimewaan” yang mungkin jarang dilihatnya ini, tentu sampai juga ditelinga gadis kecil unyu-unyu itu. “Nak, bapak seneng lihat pak insinyur yang seperti itu. Sholeh. ” Tentu saja si gadis kecil unyu-unyu ini mengingat kisah ini kuat dalam memorinya.

Beberapa tahun kemudian, keluarga pak marbot pindah ke desa transmigrasi yang sangat jauh dari perkebunan. semua berubah, yang tidak berubah adalah keceriaan pak marbot dalam mengisahkan hal-hal yang berkaitan dengan pak insinyur dan kesholehannya. Oh ya, diantara oleh-oleh perpisahan, ada insinyur yang berbaik hati memberikan sebuah majalah pertanian bergengsi pada pak marbot. Alhasil, sesekali pak marbot pun membeli edisi baru majalah itu di toko buku yang jauh dari mereka tinggal. Gadis kecil unyu-unyu tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan membanggakan keluarga. Gadis kecil itu tetap jail dan semakin banyak ingin tahu, tang tidak berubah adalah logat cadel yang membuat gadis kecil kerap malu dibully manja oleh keluarganya.

Usia remaja, Gadis itu tumbuh dengan rasa kepercayaan diri dan kecerdasan yang kerap kali dikomentari kenalan pak marbot,”makan apa anakmu pak?” Yah, gadis kecil pak marbot selalu membanggakan dengan prestasinya. Kebiasaan bercerita bapak-anak ini semakin menguatkan gadis remaja ini untuk melakukan impian-impian bapaknya. “Bapak adalah cinta pertamaku, beliau mengerti aku dan membuatku merasa menjadi satu-satunya anak yang paling beliau sayangi. Meskipun aku tahu bahwa bapak menyayangi semua anak-anaknya dengan tidak ada pembedaan sedikitpun.”

Kehidupan terus bergulir, pak marbot sudah lama meninggal dunia. Anak perempuannya sudah ada yang menikah, sebagian membantu ibunda mereka, sisanya masih menuntut ilmu dijenjang pendidikannya. Apa kabar gadis unyu-unyu kita??

Gadis itu masih tetap sama, sama cadelnya dengan saat ia masih kecil unyu-unyu. Bedanya, kini ia sedang berjuang menyelesaikan studinya. Ia sadar bahwa ia tidak akan pernah menjadi seorang insinyur. Kenapa? sebab gelar insinyur memang sudah tidak ada lagi di negerinya. Takdir gadis ini nanti akan menghantarkan dirinya menjadi seorang sarjana pertanian. Impian bapak tersayangnya, tentu saja ia masih harus menambahkan poin sholehah setelahnya dan tentu masih ingin diwijudkannya. Gadis ini memiliki hampir seluruh kebiasaan pak marbot, yang paling sederhana menurut keluarganya,”Senyummu dari jauh mengingatkan kami pada bapak. Walaupun kamu masih jauh, tapi kami bisa mengenalimu dari senyum lebarmu itu.”

Gadis ini belum tahu apakah takdir benar-benar menuntun pada keinginannya, mewujudkan keinginan ayahandanya tercinta. Ia tidak tahu, namun kini ia sedang mengusahakan jalan menuju keinginan itu. Yapp, ia ingin merasakan sensasi sholat dhuha ditengah-tengah hamparan kebun pertanian miliknya.  Sekaligus ingin melihat asisten kebunnya melakukan hal yang sama, agar ia tahu kebahagiaan seperti apa yang dirasakan sang ayah saat dulu menyaksikan pak insinyur itu, juga agar ia bisa menceritakan pada generasi setelahnya. Inilah gambaran keinginan sang gadis, putri pak marbot.

Untuk saat ini, jangan tanyakan dulu siapa gadis kecil unyu-unyu itu. juga, jangan tanyakan dulu bagaimana tentang keinginannya. Tanyakanlah nanti ketika cerita suksesnya sudah saya ceritakan kepadamu, agar gamblang pada kita bagaimana ia meraih semua itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s