Energi Perubahan


Narmada-Lombok

Diceritakan ada suatu kerajaan dimana sang raja hanya memiliki seorang putra, putra mahkota. Akan tetapi, justru putra semata wayangnya inilah yang membuat hati sang raja menjadi galau. Apa sebab? Ooh..rupa-rupanya sang putra mahkota adalah seorang yang pemalas! Bahasa alaynya dia adalah pemuda yang kudel,kuper,kumel,kucel! Apatis pula! Waw waw.. sedikitpun tidak terlihat talenta raja-raja dalam dirinya.
Hari-hari berlalu, sang raja semakin galau. Raja belum menemukan obat mujarab untuk mengubah pribadi putranya. Mau jadi apa kerajaannya jika anaknya tetap apatis! Sampailah pada suatu hari, sang raja menemukan caranya.
Raja mengumumkan ke seluruh pelosok negeri, bahwa raja akan memilih gadis-gadis cantik untuk dibawa ke istana kerajaan. Begitulah, kerajaan menjadi sibuk seketika! Terjadi seleksi besar- besaran untuk memilih gadis-gadis cantik. Sekeyika, istana menjadi taman bunga. Semua pesona bunga telah mekar di istana.

Hyde-Park-London
Tau apa yang terjadi kemudian? Yupps.. terjadilah seperti apa yang diinginkan sang raja. Putra mahkotanya jatuh cinta! The power of love. Kepada gadis yang telah berhasil membuat putranya jatuh cinta, sang raja berujar,”jika putraku menyatakan cintanya kepadamu maka katakanlah kepadanya bahwa engkaupun berharap bisa menjadi permaisurinya. Nanti jika ia telah berbunga-bunga katakan lagi padanya bahwa dia tidak cocok untukmu. Katakan bahwa kamu hanya cocok untuk seorang raja atau seseorang yang berbakat menjadi raja.”
Prediksi raja benar. Putanya benar menyatakan cinta. Singkatnya, sang putra mahkota menjadi lebih bergairah, rapii jalii, keren,wangi, mau belajar menulis, berkuda, pidato dll hingga meledaklah talenta raja-raja yang selama ini terpendam dalam dirinya. Inilah energi perubahan itu, cinta!
Begitulah cinta, ia kemudian mampu menjadi daya tarik yang menggerakkan seseorang kepada hal-hal yang dicintai -bahkan yang dibenci- oleh yang dicintainya. Cinta juga harus memunculkan potensi-potensi terbaik dari si pencinta hingga muncullah keluhuran dalam dirinya.
And least, saat kita mengaku cinta kepada Allah, kepada Rosulullah, maka kalimat cinta ini harus mampu mentransformsikan dirinya menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi diri sendiri, sekaligus lebih taat kepada Allah dan Rosulullah.
Wallahu a’lam.
[Disarikan dengan gaya bahasa sendiri dari buku serial cinta karya Anis Matta]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s