Aku, Kamu dan Sekuntum Rindu


Oleh Umi Qonaah

 

Bagaimanakah rasanya kehilangan jika memiliki pun tidak pernah? Bagaimanakah merdu suara bahagia saat tak kunjung bersua? Ah, bagaimana aku akan memulai cerita bahagia tanpa senyum yang melegakan jiwa? Aku pernah merasai rintik hujan, namun pelangi tak merinai pandangan. Apakah kamu tahu betapa rindu hatiku akan dirimu? Ah maafkanlah, aku lupa. Kita bukanlah siapa-siapa sejak dahulu. Kamu tidak pernah menjadi milikku. Hanya Tuhan yang tahu betapa berartinya dirimu bagiku. Maafkan, kamu mungkin tak akan pernah tahu kecuali bunga menuturkan semuanya.

Belum pernah terlintas dibenakku bagaimana rasanya mencintai seorang wanita. Cinta yang begitu polos, tulus dan suci. Cinta yang menggerakkan penaku menuliskan frasa-frasa ilusi. Cinta, yang dengan itulah aku merasakan arti seseorang. Sedikitpun belum pernah, hingga aku menemukanmu. Saat aku menyadari ini cinta, aku tahu bahwa kamu sudah bukan milikku. Sampai saat ini. Andai kita bertemu, aku tak yakin kamu masih mengingatku. Seperti aku yang telah memupus harapan untuk memilikimu setelah apa yang terjadi.

****

“Eh, kamu. Siapa namamu?”

“Aku? Ana Mentari.”

Aku masih mengingat betapa saat itu rona pipimu bersemu, malu. Aku menikmati senyum tersipu dari bibir manismu. Saat pertama kalinya aku menatap lentik bulu mata mu.

“Putri tidur.” Itu panggilan khususku yang pertama untuk dirimu.

“Putri tidur?” binar matamu menelisik, meminta keteranganku.

“Aku melihatmu selalu tertidur saat kuliah berlangsung.”

Ronamu malu dan aku selalu menikmati itu. Aku bahkan masih menyimpan kata-kata hangat mu tentang laki-laki yang jatuh cinta

“Jatuh cinta itu adalah saat dia yang tak membuat wanita menjadi rendah martabat, membuat wanitanya merasa paling dicintai hingga keluhuran pribadi mempertemukan keduanya dalam kehormatan perjanjian agung.”

Aku selalu kagum dan berkali-kali jatuh hati pada keluhuran pekertimu. Halus tutur katamu, sopan, anggun dan berkarisma. Jatuh cinta padamu yang memaksaku memanggil bunga menjadi Zahra, agar engkau tahu bahwa hatiku penuh dengan bunga-bunga cinta. Ada gurat cemburu saat aku menyebut Zahra dihadapanmu.

“Siapa Zahra itu, Ge?”

“Ahh, belumkah aku menceritakan siapa Zahra padamu, Mentari?”

“Iya, siapa Zahra? Pacar kamu, atau..?”

“Aku mencintai wanitaku yang secantik bunga bagi kumpulannya, dia..”

“Ehem, wanitamu?” kamu menghentikan kata-kataku.

“Anggrek, Zahra itu julukan untuk bunga favoritku. Aku begitu menyukai anggrek hingga kadangkala ia seperti wanita dihidupku. Hehe.”

“Aku kira betul-betul wanita. Bodoh sekali.”

Haruskah aku katakan bahwa Zahra adalah panggilan khusus kedua untukmu? Kamu adalah bungaku, Zahra. Aku mencintaimu dengan kehormatan yang tulus akan makna cinta.

****

“Gerry, congrats ya bro. Hebat kamu, alumni tercepat yang mecahin rekor kampus pertanian!” Arian menepuk pundakku.

Thanks, biasa aja bro.”

“Diam-diam kamu mau menikah ya sama si putri tidur itu? Nggak ngundang lagi!”

“Apa?! Menikah? Zahra menikah?”

“Lah, anak-anak bilang calonnya Rahman. Ge, mana ada calon pengantin bisa lupa nama sendiri.”

Kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu,Zahra? Aku berharap laki-laki itu adalah diriku. Aku tahu diri, aku bahkan tidak pernah menyatakan cinta kepadamu apalagi mengutarakan pernikahan. Siapakah laki-laki itu Zahra?

“Oh,namanya Kemas Ferry Rahman, murid teman Abahku.” Sahutmu ditelepon.

Aku terpaksa menelponmu untuk memastikan kabar suram itu.

“Mohon do’a dan hadirnya ya, Ge. Akadnya pekan depan.”

Zahra, bagaimana bisa kamu menikah di hari wisudaku? Hari yang telah kujanjikan untuk melamarmu? Ah, jodoh selamanyakah selalu menjadi misteri? Ataukah cinta memang benar tak mesti memiliki? Atau takdir sedang menguji keluhuran cintaku? Salahkah jika aku menjanjikan untuk terus mengagumi dirimu?

****

Zahra, bulan ini genap sudah 60 purnama. Aku bahkan tak yakin kamu masih mengingatku. Seperti aku yang telah memupus harapan untuk memilikimu setelah apa yang terjadi dahulu itu.

Zahra, aku melihatmu kembali sore itu. Dalam balutan busana muslimah, anggun, menambah kesan akan mulianya laki-laki yang menjadi imam halalmu. Ada satu hal yang ingin kutanyakan kembali padamu,”Sudahkah kamu..” Ah, aku kelu melanjutkan kalimatku.

Kamu masih seperti Zahra yang dahulu, bunga yang begitu indah bagi kumpulannya. Anggun, halus tutur-katamu dan selalu berkarisma. Jika ada yang berubah, ini hanyalah waktu yang telah mengubah citarasa. Tahukah kamu jika ini citarasa rindu? Rinduku akan dirimu.

Zahra, yang ku khawatirkan adalah harapanku yang kian bagai fatamorgana.

“Haruskah aku berharap suamimu meninggal atau menceraikanmu?”

Zahra, sebagaimana cinta yang tak pernah berubah kepadamu, aku selalu berharap akan kebahagiaan rumah tanggamu. Aku? Biarkanlah, hingga suatu hari Rabb mempertemukan kita atau memberi pengganti yang seperti kamu digaris takdirku.

****

Sebuah studio tanaman hias tampak ramai, turut ceria bersama seluruh pesona kota Lubuk Linggau. Seorang wanita berkerudung biru muda membuka pintu masuk galeri.

“Selamat datang di studio tanaman Zahra, Ibu. Mari, silahkan melihat koleksi tanaman kami. Di stage utama ada beragam Dendrobium yang menjadi ciri khas kami.” Waitress studio menawari wanita itu.

“Oh ya, nama saya Ana Mentari. Hobiis tanaman Dendrobium. Boleh saya tahu siapa owner studio Zahra ini? Rasanya saya begitu familiar dengan nama Zahra.” Wanita itu memperkenalkan diri.

“Mari saya perkenalkan, beliau.. ah itu beliau!” Witress itu mendekati seseorang yang dimaksud. Keduanya saling terkejut dan terdiam beberapa waktu, kemudian tersenyum canggung.

“Ge?!”

“Za..,Mentari. Senang bertemu kembali. Semua koleksi Dendrobium aku beri nama Zahra.” Intonasi Gerry begitu kikuk dan khawatir, tepatnya malu jika harus mengakui cinta diamnya.

“kamu belum menikah?” Mata Mentari sedikit berbinar, ada gurat bahagia yang nampak tipis di rona wajah halusnya.

“Ah, zahraku menikah dengan pilihannya sendiri. Kami hanya tidak berjodoh saja, Mentari. Kamu sendirian, mana suamimu? Maaf aku tidak sempat datang ke akad mu saat itu. Aku landing ke Belanda sehari sebelumnya, bahkan aku juga tidak mengikuti ceremonial wisuda.”

Mentari menghela nafasnya, sendu.

“Calon suamiku meninggal sebelum hari akad nikah kami. Sejak itu aku memutuskan menyelesaikan kuliah dan mengambil master di Belanda setahun setelah kelulusan.”

Giliran Gerry yang berdebar-debar, jikalau ini takdir maka ia tak akan melewati dengan kesia-siaan lagi.

“Zahraa. Allahu akbar! Allahu akbar!!”

“Maksud kamu? Aku tidak mengerti..”

“Zahraa..”

“Zahra? Dia ada disini?”

“Iya, dia disini. Saat ini, dihadapanku, berbicara denganku..”

“Kamu…”

“Kamulah Zahra yang aku maksud. Ana Mentari.”

**** END ****

 

 

Iklan

One thought on “Aku, Kamu dan Sekuntum Rindu

  1. Ping-balik: Memulai sebuah Cerita pendek.. | UMI QONA'AH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s