Memahami Buruh (Apresiasi MayDay)


Bismillah….

saya hanya ingin berbagi saja tentang secuplik kisah ketika saya berada pada posisi sebagai buruh. Yupp, saat saya stop out 1,5 tahun lalu saya menjadi seorang Sales Motor pada perusahaan otomotif di Lubuk Linggau. Saya yang nota bene mahasiswa, tentu saja tidak mampu untuk mengatakan ,”Eh gue mahasiswa UNSRI looh.” secaraa dari pengalaman dan skill minim banget. sadar diri laah.
Description sales motor versi saya:
1. Melakukan penjualan sebanyak-banyaknya, demi perusahaan
2. Mendapatkan komisi sebanyak-banyaknya, demi kantong pribadi.
Rata-rata yang kami kerjakan selama menjadi sales adalah: Ngantor pagi-pagi buat ngabsensi kehadiran, keliling buat kanfas sekaligus direct selling product, prospek dan lobby dgn calon konsumen serta CMO, make a deal dan ngurus pindaah tangan kepemilikan motor, mastiin kalo konsumen puas, buat planning promosi dan buka stand promosi, evaluasi dan brifing-brifing pekanan, terima insentif/gaji/gigit jari, dan yang pasti isi ulang pulsa.
sayangnya, posisi sales ini seolah menjadi posisi yang paling rendah. ada perusahaan motor yang menerapkan sistem outsourching dalam managemen perusahaannnya. kalau dapat target sekian motor baru dapat gaji sekian, ditambah insentif. kalau nggak dapat target yaa gigit jari. namun ada juga perusahaan motor yang sedikit “bermurah hati dengan memberikan “uang” tambahan berupa uang makan + transportasi. Hanya saja, ketatnya persaingan diantara sesama sales kemudian melahirkan berbagai intrik-intrik yang mau tidak mau harus dilakukan. CMO yang minta bonus lah, ngayamlah, yang switch order lah, macam-macam. Belum lagi ditambah dengan latar belakang masing-masing sales. Berapa sih gaji sales motor? palingan juga 300ribu, mujuuurrr banget kalo ada perusahaan yang mau ngasih gaji sales 500ribu. Padahal, dengan serentetan kerja-kerja yang harus dilakukan oleh sales semestinya gaji 500ribu sangat tidak cukup. minimal gaji sales itu yaa 800ribu. Nasib perusahaan ditentukan oleh kinerja sales karena ini berkaitan dengan jumlah penjualan yang dilakukan setiap bulannnya. kelesuan sales dalam melakukan penjualan bisa menurunkan kredibilitas dan penjualan perusahaan. untuk memprospek calon konsumen, tidak cukup dengan satu atau dua kali pertemuan kemudian deal. butuh pendekatan intensif agar rasa percaya konsumen muncul. jadilah kemudian sales-sales ini juga merangkap menjadi tele-marketing, nelpon sana-sini.
sampai pada batas ini kemudian saya memahami bahwa seharusnya perusahaan sangat memperhatikan kerja para buruh yang sebenarnya adalah marketer berjalan bagi perusahaan tersebut. ada pelatihan yang kemudian ditujukan untuk meningkatkan kecerdasan bagi para buruhnya.
terutama sekali mereka yang menjadi sales motor nih. sebab bisnis motor ini tidak bisa dilepaskan dari mata rantai kekeluargaan dalam berbisnis. dukungan materi dan support dana dalam penyelengggaraan promosi dan inovasi penjualan. Iyaa mereka semua sukarela manandatangani kontrak dengan perusahaan, namun mencoba lebih me’manusiakan’ karyawan bukankah sesuatu yang tidak sulit untuk dilakukan bukan?
saya awal-awal dulu agak risih dengan kelompok buruh yang begitu berapi-api dalam menyuarakan aspirasinya. kesannya -kok ngotot- benar sih? seolah olah kesan buruh tidak cukup untuk mewakili betapa pekerjaan mereka kasar,keras dan susah sehingga perlu ngotot dalam menyampaikan aspirasi dan keluhannya. namun, setelah enam bulan saya menjadi sales motor, setidaknya saya memahami bahwa dorongan ingin mendapatkan keadilan dan penghargaan yang pantas dari hasil kerja yang dilakukan oleh mereka-lah yang mendorong para buruh begitu bersemangat menyuarakan aspirasinya.
Rasanya, benarlah petuah Rosulullah yang mengajarkan kepada kita bahwa” Bayarkanlah upah seseorang sebelum kering keringatnya.”
kita tentu merindukan pemimpin perusahaan, pemimpin negara yang memiliki wewenang mengatur regulasi nasib buruh yang begitu memperhatikan kesejahteraan para buruh. bukan sekedar janji menaikkan upah, melakukan ini, menginisiasi program itu, melainkan kerja nyata yang menjawab rasa keragu-raguan kami terkait nasib kami (Buruh). Rasa aman dalam menjalankan ibadah tauhid kami, rasa aman dari cekaman rasa takut dan kelaparan saat kami melakukan pekerjaan kami. Siapakah pemimpin yang mampu memahami hal ini?

Pojok Inspirasi, mengenang sahabat kerja dan partner bisnis di DC Lubuk Linggau.
Umi Qonaah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s