BACK to ALLAH


Bismillah,

Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman yang baru kemarin saya alami, agak klasik sih ceritanya tapi mudah-mudahan masih update yaa untuk diambil hikmahnya. Oh ya, jikapun saya membuka aktivitas ibadah saya mudah-mudahan ini bukan bentuk riya’ dan sum’ah untuk diri saya pribadi. ini saya maksudkan supaya mempermudah saya bercerita.

Kemarin, saya mengawali hari mulai pukul 03.00 WIB. Alhamdulillah bisa melakukan tahajjud dan sahur untuk bekal puasa ayyaumul bidh hari kedua. Doa saya setiap kali usai tahajjud adalah saya memohonkan kepada Allah agar memberikan kekuatan dan hidayah kepada saya untuk bisa menjadikan hari yang akan saya jalani ini menjadi lebih baik dari hari kemarin. Mengapa saya berdoa seperti itu? karena entah sugesti atau mindset yang terjadi di tubuh saya, ketika saya tidak berdoa seperti itu saya merasa sangat sombong sekali kepada Rabb saya dan biasanya adaa saja kejadian tak terduga yang membuat saya menyesali mengapa saya tidak berdoa untuk meminta kekuatan agar mampu menjadikan hari itu lebih baik. Okee, lanjut yaa. Nah, sekitar pukul 07.30 WIB saya sudah ready untuk berangkat ke kampus, kebetulan ada mata kuliah pagi yang dosennya adalah professor killer. roommate saya-kiky-sudah hendak berangkat, kemudian saya menyerunya sehingga terjadilah percakapan diantara kami:

Saya : Ky, nggak bisakah kalau berangkat bareng? (saya benar-benar ingin barengan dengan kiky, sempat terpikir untuk menunda dhuha)

Kiky  : Loh, mbak kan belum sholat dhuha. Kiky kuliah pagi Mbak, dosennya intime. (kiky sudah dhuha, biasanya saya juga sholat dhuha sebelum ke kampus, makanya kiky mengatakan ini kepada saya)

Saya : Sama, Mbak dosennya juga intime. Mbak dhuha nya nanti aja lah, Mbak ada jeda jam 10 jadi bisa dhuha di jam segitu.

kami berjalan keluar asrama dan bergegas menuju angkot, ada satu angkot yang sudah ready untuk berangkat, hanya butuh 1 orang lagi untuk mengisi tempat yang kosong. sempat juga saya berpikir untuk meninggalkan kiky, jadi saya bisa duluan berangkat gitu. tapi kemudian saya tampik pikiran itu dan mengajak kiky untuk berjalan saja menunggu angkot yang mungkin lewat dan cukup untuk menampung kami berdua.

setengah perjalanan(saya dan kiky nyaris berlari-lari saat berjalan), Alhamdulillah ada angkot yang lewat dan kami bisa masuk. namun, rute angkot masih harus mampir dulu mengantarkan penumpang lain dan limit waktu untuk saya benar-benar genting! Begitu sampai di fakultas, saya dan kiky bersiap menyebrang jalan menuju ruang kuliahnamun entah mengapa kami terpaksa mundur beberapa langkah karena shock melihat motor yang melaju kencang diikiuti angkot dan bus trans-musi.Yupp, lagi-lagi terjeda persekian detik! Setelah menyebrang saya berlari menuju ruang kuliah dan terpaksa berhenti karena pintu ruangan sudah di tutup! Allahu akbar, saya melirik jam 08.00 WIB. Ada sepasang mahasiswa yang duduk tak jauh dari tempat saya berdiri dan mereka menyapa saya:

Mhs 1: Masuk aja Mbak, tadi belum lama ada yang masih dibolehkan masuk kok.

Mhs 2: Iya Mbak, masuk aja.

Jujur saya tergoda untuk membuka pintu, namun tiba-tiba ada sms masuk dari adik tingkat saya. Mbak, udah nggak boleh masuk lagi. Mau gimana lagi? lemas rasanya tulang sendi saya! (tiba-tiba terlintas percakapan pagi tadi dengan kiky). Beberapa detik kemudian ada dua mahasiswi yang terlambat juga,

Mhs 3: Mbak, nggak boleh masuk lagi ya?

Saya : (mengangguk saja).

Mhs 1: Masuk aja tifa, tadi masih dibolhin kok. coba aja.

Mhs 4 : Kalau pintu sudah ditutup nggak boleh lagi masuk. (kepada saya) Mbak, gimana nasib kita? hari ini kuis..

Saya : (tersenyum kecut dan menganggkat bahu).

Mhs 4: Mbak, aku ngerasa kayak ngelakuin dosa besar. selama 6 semester baru ini lah Mbak aku telat, aku malu dengan ibu ku Mbak.

Saya : (Menatap adek itu, tampak sekali getaran diucapannya. kedua matanya sudah berkaca-kaca) Mbak lebih dari sekedar malu ke ibu, dek. perasaan bersalah adek mah belum ada apa-apanya dibanding Mbak hari ini.

Mhs 3: Mamang angkot tadi sih, pake ngetem terusss..

Mhs 4: Iya, bener. sebel banget, gara-gara mamang angkot itu kita telat.

Saya : (tersenyum kecut ). Kalau mau nyari-nyari kesalahan sebenernya ada banyak orang yang bisa kita salah-salahin, padahal yang mestinya kita salahin kan kita sendiri. kita aja yang masih kurang pagi berangkatnya.

Mhs 4: Mbak, gimana doong, kalau hari ini kuis kita nggak ada nilai. aku malu samo ibuku mbak..

Saya : (mengucapkan sesuatu dalam hati). Mbak malah hari ini malu sama Allah karena Mbak padi tadi sudah berniat menangguhkan sholat dhuha supaya bisa terkejar masuk kuliah ini. sengaja mbak menangguhkan dhuha padahal biasanya mbak dhuha dulu. eeehhh pas tadi sampai, masih terhenti juga karena ada motor yang ngebut banget. Mbak cuma terjeda 1 menit dek, tapi mbak masih nggak bisa masuk juga. (tiba-tiba teringat belum baca Al-ma’tsurot pagi. Astaghfirullah…)

Mhs 4: Nah sama Mbak, aku juga nggak dhuha tadi,biasanya dhuha dulu sih walaupun cuma dua rokaat.

Saya : (sambil merogoh alma’tsurot di dalam tas) Kita menangguhkan Allah demi mengejar dunia dan Allah balas dengan menangguhkan kita untuk tidak diizinkannya iku kuliah pagi ini. Kita menyengaja menangguhkan Allah demi dunia, tapi inilah yang dunia perbuat dengan kita

Mhs 4 : Iya Mbak, Mbak bener.

ada pesan masuk lagi ke Hp saya kuisnya selesai dari kuliah. Ada perasaan lebih lega dan berharap nggak jadi kuisnya. tapi kemudian harapan itu pupus juga ketika kami melihat sang professor berkeliling melihat mahasiswanya satu persatu.

Mhs 3 dan 4: Mbak, mereka kuis ya sekarang?

Saya : Nggak tau dek. (dalam hati saya mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rooji’un berkali-kali kemudian mengucapkan sesuatu di dalam hati)

selesai perkuliahan ternyata ada tugas yang harus diselesaikan segera, kami bertiga pun bergegas memaksimalkan usaha kami. Singkat cerita saya kemudian bergegas ke mushola fakultas untuk sholat dhuha. ada energi lega ketika usai dhuha dan kala itupun saya terus menerus beristighfar seraya mengucapkan satu baris kalimat yang sejak tadi saya ucapkan dalam hati. kalimat itu berbunyi ” Saya tidak tahu apakah yang terjadi ini sebuah ujian atau musibah, saya hanya ingin berbaik sangka saja kepada Allah“. ketika saya mengucapkan kalimat tersebut sebenarnya saya sedang berjuang melawan gejolak hati saya untuk lebih redho menerima takdir saya. Bagaimanapun juga, tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak dari Allah. dan saya juga sangat menyesali karena telah menyengaja menangguhkan Allah, saya tidak mendahulukan Allah, padahal Allah berkuas membuat segala sesuatunya diluar nalar saya sebagai manusia. Alhamdulillahnya Allah langsung menegur saya dan mengajarkan hal ini kepada saya.

Akhir cerita, saya pun menceritakan pengalaman ini kepada adik-adik binaan mentoring saya dengan harapan bahwa seringkali kita mengejar-ngejar dunia padahal sedikitpun dunia tidak menghiraukan kita. sering kita menangguhkan Allah untuk dunia padahal Allah lah yang memiliki dunia. Yaahh, cinta Allah itu nggak cukup hanya sekedar kita tunggu-tunggu tapi untuk mendapat cintanya Allah maka kita harus merebutnya dengan cara mendahulukan Allah, mengembalikan semuanya kepada Allah, melibatkan Allah dalam setisp urusan kita dan merasakan bahwa kalau Qada dan Qadar Allah telah berlaku kepada kita maka tidak ada yang bisa merubah ketetapan itu kecuali Allah sendiri. karenanya, Baik sangkalah dengan Allah dan selalu menjada diri untuk senantiasa Back to Allah: first, again, and Always.

ini pengalaman saya, klasikkan? yah, apapun lah, yang pasti tidak ada yang terjadi secara kebetulan dalam hidup kita. Allah, terima kasih untuk mengajarkan kepada hamba banyak hal kemarin. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s