MIMPI


(oleh Umi Qonaah)

“Saudara tahu mengapa saya begitu sangat antusias mengajar mata kuliah ini?”

Kami serentak menggeleng pelan, memilih aman.

“Karena saya ingin membagi motivasi ini kepada saudara-saudara semua. Mata kuliah ini adalah mata kuliah yang bisa membuka cakrawala bisnis, wirausaha. Saudara tahu, bisnis tanaman hias adalah bisnis yang besar.”

Aku tersenyum mengenang motivasi-motivasi yang selalu diselipkan oleh dosen favoritku itu di sela-sela perkuliahan. Kutatap selembar foto studio tanaman yang tertempel di mading kamarku, future bisnis.

“Belanda, bangsa yang pernah menjajah bangsa kita, sekarang pekerjaan utamanya sebagai tukang kembang. Lah kita? Kita mungkin lebih cocok diibaratkan seperti pengemis dengan mangkok emas.” Dosen lainnya juga tidak kalah semangat memberikan motivasi kepada kami, peminat mata kuliah ini.

“Impian itu layak untuk diperjuangkan. Semangat Qo!” tanpa komando, tangan kananku mengepal di udara.

“Kedepan, bisnis tanaman hias ini akan semakin digandrungi. Saudara sudah tahu banyak seluk beluk teorinya, sudah saatnya untuk mengembangkan ilmu saudara. Nggak perlu jadi PNS.” Suatu hari motivasi yang berbeda kembali dituturkan oleh pak Entis Halimi. Aku tersenyum mendengarnya, perasaanku seperti dibawa angan-angan tinggi jauh ke depan.  Terngiang lagi kalimat motivasi terakhir dari dosen favoritku sebelum pertemuan kami berakhir.

“Bahan perkuliahan saya ini akan saya uji ketika Ujian semester. Untuk melengkapi nilai saudara, silahkan saudara membuat sendiri kreasi tanaman, terserah kreatifitas saudara. Boleh saudara memilih tanaman gantung, bonsai, dan lain-lain kemudian saudara ambil fotonya lalu kirimkan ke email saya. Kalau bagus, saya beri nilai tugas ini  70 dan untuk mendapatkan nilai seratus dari saya, saudara silakan berjuang 30 nya di ujian semester nanti.”

*****

Mbak Qo, lagi dimana sekarang?” sebuah pesan masuk di ponselku. Perlahan kuketik pesan balasan,”di rumah bayang, dek. Lagi nyiram tanaman hias.”

Aku kini berdiri tepat diantara tanaman-tanaman hias di rumah bayang Jurusan Budidaya Pertanian. Ada berpuluh-puluh polibeg berisi lidah buaya, puring, semanggi, mawar, aglaonema, sedap malam, bunga sepatu, episcia, lidah mertua, euphorbia, alamanda, dan banyak lagi jenis lainnya. Tidak jauh dari tempat aku berdiri, berjajar rapi polibeg ukuran 5 Kg yang ditanami dengan tanaman garut, Marantacea. Sekitar satu meter di belakangku bertengger dua buah pot kreasi tanaman indoor. Semua dengan label yang sama, 05091007006 UMI QONAAH.

Puas menatap tanaman hiasku yang masih meneteskan butiran air, aku beranjak pergi menuju ruang kuliah. Belum lama aku keluar dari rumah bayang, seseorang menyapaku.

“Umi sudah mulai penelitian ya? Penelitiannya tentang tanaman hias?”

“Bukan, aku belum penelitian. Ini tanaman praktikum, aku ngulang kuliah tanaman hias.”

Aku berlalu meninggalkan teman yang menyapaku tadi, pertanyannya mengusik ke dalam pikiranku. Buru-buru aku menepis kecamuk pikiran dan melanjutkan ke ruang kuliah.

“Bunga dibeli sesuai dengan musim-musim yang berlaku di daerah masing-masing. Maka sebagai pebisnis tanaman hias kita harus selalu memiliki persediaan tanaman yang banyak, cepat, seragam dan peralatan yang dibutuhkan sederhana, biaya murah dan bisa diusahakan dirumah. Alternatif untuk menjawab hal ini salah satunya adalah dengan perbanyakan mikro.” Pak Zaidan yang juga dosen mata kuliah ini menjelaskan pokok materi perbanyakan tanaman hias.

“materi ini adalah materi paling penting untuk menunjang bisnis impianku.”Aku menggumam dalam hati.

Antusiasme mahasiswa peminatan Agronomi terhadap mata kuliah ini terus meningkat setiap tahun. Aku sendiri telah mengambil mata kuliah ini sebanyak dua kali, sekarang dan satu tahun yang lalu. Sejujurnya aku sangat menyukai mata kuliah ini, mengingatkan aku kepada cerita-cerita SMA dulu tentang impian kesuksesan masa depan.

Usai kuliah, aku dan Nurul berjalan menuju Mushola fakultas. Kami masih membahas mata kuliah dan bercerita tentang tugas-tugas kuliah.

“Mbak, tahun lalu Mbak dapat nilai apa mata kuliah hias? Kok Mbak ngulang kuliah hias?”

“ Tahun lalu D, jarang ikut praktikum dan nggak ngumpul laporan akhir praktikum. Padahal proposal praktikum Mbak paling bagus saat itu, intinya sih nggak serius kuliah.”

“Sulit ya Mbak untuk dapat nilai A di kuliah hias?”

“Nggak juga, asal serius mengikuti kontrak perkuliahan dan praktikum. Bukan hal yang nggak mungkin di dapat untuk sekedar nilai A kalau kita benar-benar serius. Iya,kan?”

“Benar sih,Mbak. Tapi tetap takut kalau nilai kuliah tanaman hias jelek.

Aku menghela nafas yang tiba-tiba sesak di rongga dada. Aku sebenarnya juga memiliki kekhawatiran yang sama seperti dirinya. Aku juga tidak memiliki jaminan apapun untuk memastikan nilai akhir untuk mata kuliah ini, sama cemasnya dengan pertanyaan teman-teman seangkatan yang kadangkala menanyakan kapan rencana aku untuk diskusi pra-penelitian. Memang benar impianku tetap bisa aku wujudkan meskipun aku gagal lagi untuk nilai mata kuliah ini. Namun aku juga tidak bisa memungkiri bahwa aku benar-benar ingin menaklukkan ketakutanku di kesempatan kedua ini. Setidaknya, aku tidak lagi mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kali.

*****

Aku berjalan gontai meninggalkan ruang dosen, peluhku bercucuran. Tidak sanggup menahan gejolak emosi, aku terduduk lemas diantara deretan kursi kosong di koridor lantai jurusan Agronomi. Aku menggenggam erat tiga tumpuk tugas akhir praktikum tanaman hias. Pertahanan di kelopak mataku melemah, titik air jatuh dan mengaliri pipi.

Mengapa aku begitu cengeng dan penakut seperti ini? Ya Allah..” Aku menahan isak tangisku.

Rongga dadaku terasa sangat sesak, titik air semakin mengalir deras. Pikiranku menerawang, terbayang kembali kejadian setahun lalu.

“Kalau cuma seperti ini, semua orang juga bisa melakukan manipulasi. Ibu butuh foto riil ketika kamu melakukan praktikum yang kamu rancang ini.”

“Saya tidak melakukan manipulasi ibu..”

“Siapa yang tahu? Kamu juga tidak pernah menemui saya untuk konsultasi tentang praktikum yang kamu rancang.”

“Iya Ibu, maaf. Saya salah, saya memang tidak pernah sekalipun konsultasi dengan ibu.”

“Nah, itu kamu tahu. Jangan sok pinter ya Mbak jadi mahasiswa. Saya sudah sabar memberi waktu kamu dua minggu untuk melakukan praktikum sesuai saran saya, ini lagi daftar pustaka kamu. Ini ambil dari mana? Tidak ada di daftar pustaka yang kamu buat.”

“Maaf ibu, saya..”

“Nggak bisa, ibu nggak bisa terima. Kamu perbaiki dulu laporan kamu baru saya mau menerima.”

Sama seperti hari ini, meskipun kejadian di ruangan tadi begitu sepele namun laporan praktikumku nyaris ditolak lagi oleh dosen yang sama seperti tahun lalu. Aku merasa sangat hancur, lemas dan tidak bersemangat. Luka ini bernama trauma.

Haruskah aku menyerah lagi? Haruskah aku melarikan diri dikesempatan terakhirku ini? Aku tahu aku sangat pengecut dan trauma bodoh ini benar-benar membuatku takut. Ya Allah…

Seseorang menyentuh pundakku, kuhapus airmata yang masih mengalir. Aku menengadah, tampak Nesi memandangiku dengan heran. Ia membawa tumpukan tugas akhir praktikumnya.

“Gimana,Mbak? Punya Mbak diterima?”

Aku tersenyum kecut,”nggak dek. Belum diterima. Cover depan punya mbak salah. Mbak pakai cover warna tapi rupanya tinta printer warnanya eror jadi lambang unsri yang seharusnya kuning berubah warna menjadi pink.”

“Jadi?”

“Mau gimana lagi? Print out ulang semuanya, baru bisa dikumpul tugas dan laporannya.”

“Semangat Mbak Qo!”

Aku tersenyum lemah, kata-kata Nesi sedikitpun tidak membuatku kuat. Tetapi dia menyadarkanku bahwa aku harus benar-benar berjuang untuk mengalahkan kepengecutan dan trauma tak beralasan itu. Jika ini tidak aku lakukan, aku tidak tahu sampai berapa lama aku akan terus dibayangi dengan mental pengecut seperti ini.

Aku sadar, bisnis impianku bukanlah bisnis yang tidak memiliki resiko. Untuk mewujudkan impian bisnis tanaman hias, sudah pasti aku akan lebih sering mengalami berbagai macam tantangan dan jatuh bangun dalam mewujudkan impianku. Akan kutemui di masa depan berbagai macam karakter konsumen dan saingan bisnis. Jika masalah kecil seperti ini aku tidak bisa menyelesaikan, sungguh aku tidak begitu yakin bahwa diriku memiliki mental seorang entrepreneur.

*****

Telepon di meja kerjaku berdering. Aku bergegas menghampiri.

“Iya,benar. Ini Umiqo Plant Art Studio Center, dengan saya sendiri. Ada keperluan yang bisa kami bantu?”

“Kami dari panitia Festival Ulang tahun kota Lubuk Linggau. Kami membutuhkan Art Director, jadi kami menawarkan kerjasama.”

“Oke, kami siap. Secepatnya nanti saya minta asisten saya untuk survey lokasi.”

Aku tersenyum setelah menutup telepon. Studio tanaman hias milikku kembali dipercaya mengisi tata ruang Festival, ini adalah kontrak kelima kami dengan pemerintah kota. Sukses kecil ini belum seberapa meskipun kami masih menjadi satu-satunya studio tanaman hias di kota ini. Ini belum aoa-apa, aku dan tim kerjaku baru memulai langkah mewujudkan impian kami.

Lagi-lagi seseorang mengagetkanku dari belakang, aku menoleh dan tampak Nurul yang tersenyum melihat reaksi terkejutku.

“Pagi-pagi sudah melamun di jalan, kalau ketabrak angkot jadi nggak lucu nanti Mbak.”

Aku tersenyum kepadanya. Ah,aku bahkan sulit membedakan antara mimpi atau sekedar angan-angan kosong.

“Sudah lihat nilai tanaman hias, Mbak.”

“Belum, masih belum berani. Adek?”

“Sama,Mbak. Apa yang membuat Mbak suka dengan tanaman hias?”

“Entahlah. Ketika Mbak berada diantara tanaman hias, mbak mampu menumbuhkan kembali kepercayaan diri dan menawarkan kesedihan yang kadang-kadang Mbak rasakan. Tanaman hias seolah-olah mengajak Mbak memberikan kesempatan untuk membuat orang lain merasakan semangat yang sama dan juga merasakan bahagia yang sederhana.”

“Wah, benar-benar suka ya Mbak?”

Aku mengangguk dan tersenyum. Bahkan lebih dari sekedar suka, ini tentang impian.

******END******

Behind story…..

Tidak semua dialog di dalam cerpen ini benar-benar nyata adanya. Cerita ini mengawali keterbukaan saya kepada sahabat semua, pembaca karya-karya umiqo. Yap, menurut saya pribadi menjadi penulis memang seyogyanya harus terbuka karena karya-karya seorang penulis juga merupakan representasi dari pemikiran penulis itu sendiri. Saya percaya bahwa setiap cerita, setiap kisah yang dituturkan itu memiliki misinya sendiri. Cerita ini pada mulanya saya buat untuk diikutsertakan dalam lomba kepenulisan, namun saya tidak kunjung mengetiknya di layar laptop. Akhirnya, cerpen ini menjadi sebagaimana adanya kini berkat seseorang yang memintaku untuk menyemangati seseorang lainnya (hehehehe). Kepada merekalah karya ini saya dedikasikan. Allah tahu apa yang menjadi perekat antara saya dan sahabat sebagai pembaca karya, karena itu jika ada kekhilafan silahkan untuk disampaikan langsung kepada saya di +6285609516776.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s