RINDU PULANG


 

(Oleh Umi Qona’ah)

 

Deru hujan bercampur angin mengabutkan pandangan jalan, lampu sorot tak cukup ampuh menghalau kabut. Sopir travel sangat berkosentrasi dengan kemudinya, ada tujuh nyawa yang sedang dalam tanggung jawabnya saat ini. Aku yang sedari tadi duduk disamping sopir tak benar-benar bisa memejamkan mata. Dua puluh menit lagi aku sampai di kampung halaman, perjalanan melelahkan selama tujuh jam akan segera terobati ketika tiba di rumah. Rumah, ah rupanya aku sedikit lupa bahwa kepulanganku saat ini benar-benar mendadak. Hari selasa lusa aku sudah mulai sibuk ujian semester, cukuplah barang satu hari berada di rumah untuk bertemu dengan mamak, ibuku.

Kemarin sore, Mbak ku meminta untuk pulang barang sehari, katanya ibu kangen dan memintaku untuk pulang. Sebenarnya aku bukanlah orang yang menyukai kejutan walau bernada rindu sekalipun, kematian bapak tujuh tahun lalu benar-benar membuatku trauma dengan satu kata bernama “kejutan”. Tapi, entah mengapa aku benar-benar cemas kali ini. Sesibuk apapun tugas jelang semester tak lagi kuhiraukan sama sekali. Aku tak mau menyesal jika hal-hal buruk terjadi, terutama tentang ibuku.

“Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosaku dan kedua orang tuaku. Ampunilah segala dosa-dosa bapak selama di dunia, lapangkanlah kuburnya dan masukkanlah bapak ke dalam golongan orang-orang yang beriman. Ampunilah segala dosa-dosa mamak Ya Allah. Kasihanilah beliau, sehatkanlah beliau, lapangkanlah rezekinya, lancarkanlah segala urusannya, panjangkanlah umurnya di dunia Ya Allah, hingga detik ini hamba masih menyusahkan mamak, masih memberatkan tanggungan mamak, masih belum bisa membuat beliau bangga meskipun hanya dengan melihatku mengenakan toga. Ya Allah..”

Suasana berubah hening, sesekali kulirik jalanan yang gelap gulita. Hari menjelang malam. Tak lama lagi sampai di depan rumah mungil milik mamak. Hujan masih cukup deras, sama derasnya dengan doa yang selalu mengalir dari lubuk hatiku untuk mamak. Mobil perlahan menanjak, di muka tebing ini rumah mamak. Aku merapikan ransel dan jilbab, bersiap-siap untuk segera turun.

“Belok kiri pak, rumah nomor tigo sebelah kanan jalan.”

Kulihat sopir travel mengangguk dan berbelok. Aku membuka pintu  ketika mobil berhenti tepat di depan halaman rumah. Ku rogoh saku jaket dan menyerahkan ongkos perjalanan.

“Alhamdulillah, nyampe jugo. ati-ati,nak. Licin.” Seru pak sopir

Aku tersenyum dan mengangguk.

iyo,pak. Makasih,pak.”

Mobil berbelok dan meninggalkan aku yang termenung menatap pintu rumahku. Perasaanku menyeruak, dadaku sesak menahan tangis yang hendak tumpah. Berat rasanya kulangkahkan kaki

****

Aroma-aroma kapur barus menyeruak, orang-orang berkerumun, ada yang datang dan pergi. Sibuk masing-masing, seperti tengah menyiapkan keperluan mendesak. Aku berlari ke ruang tamu, kulihat dua adikku duduk di sudut ruangan. Paman dan bibi-bibiku duduk melingkari seseorang yang terbaring di ruangan itu.

“Bi,mamak kenapa? sakit apa?” tanyaku.

Melihat aku datang,salah satu pamanku langsung memeluk. Memeluk erat sekali,aku terheran-heran.

“Ya Allah nak,yang sabar anakku. Mamak sudah dipanggil yang Maha Kuasa. Yang sabar nduk ya”ujarnya kemudian.

Kuhempaskan pelukan paman seraya menyeruak diantara kerumunan itu. Kulihat tubuh mamak  yang di selimuti kain, beliau tersenyum sambil terpejam kedua matanya. Tidak ada tanda-tanda mamak meninggal.

“Paman bohong! Bapak tidur gitu dibilang meninggal sih? Mak, bangun mak. Resty sudah pulang, mak” ku guncang-guncang tubuh mamak.

Kuraih telapak tangan mamak yang telah disedekapkan di dada. Kucium tangannya sama seperti saat aku pulang ke rumah.

“ Anakku, mamak sudah meninggal. Sudah, yang sabar nak, ikhlas.. Ikhlaskan kepergian mamak” bisik paman.

Aku tatap semua orang yang ada diruangan itu, mencari kebenaran akan penglihatanku. Aku benar-benar tidak menyangka mamak secepat ini meninggalkan aku. Kutatap wajah teduh penuh senyum itu. Senyum yang benar-benar bebas tanpa beban, tulus.

Bertahun-tahun aku pulang dan pergi dari rumah, tapi setiap aku kembali tak sedikitpun aku tergerak untuk ikhlas menyenangkan hati mamak meskipun hanya memijat tubuh lelahnya. Aku harusnya lebih tahu betapa khawatirnya ibu akan kesehatanku yang jauh diperantauan. Harusnya aku lebih tahu bahwa tak pernah sedikitpun terlupa dari mamak untuk mendo’akan ku di tiap-tiap sujudnya sekedar memohonkan keselamatan untukku, sekedar meminta terjaganya kesehatanku, sekedar berharap untuk kecukupan dan kebahagiaan hidupku. Aku harusnya tahu, bahwa aku telah menyita semua pikirannya,  tenaganya, do’a-do’anya, airmatanya, ya semuanya telah kusita.

Kembali kutatap wajah teduh penuh senyum itu. Tubuhnya kurus dan ringkih, namun kini tak meyisakan lagi lelah walaupun hanya sekedar keluh-kesah. Tubuhku lemas dan airmataku tumpah, selanjutnya aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi.

****

Aku masih menangis tersedu-sedu. Lidahku seperti kelu untuk mengucapkan kata-kata, mungkin lebih baik menjadi bisu setelah semua yang terjadi ini. Aku tahu ini adalah keterlambatan yang besar. Seharusnya aku bergegas pulang ketika pertama kali Mbakku mengatakan mamak kangen, mungkin saja aku bisa mengucapkan kata-kata maaf kepadanya atas kelakuanku kepadanya. Rasa sakit ini, sesak dada ini, kelu lidahku mungkin tak ada bandingannya dengan kecewa yang mamak rasakan ketika tahu bahwa darah dagingnya ini bahkan tak memiliki keinginan pulang ke rumah meski bernada rindu sekalipun. Tubuh kurus  nan ringkih itu, tubuh lelah itu, keluh-kesahnya, airmatanya, semuanya adalah tentang diriku. Tapi apa yang telah kuberi untuk dirinya selain beban? Aku tergugu menahan isak tangis yang menyesakkan dada.

“Mbak, Mbak Resty.. Bangun, Mbak.” Kurasakan tangan Kiky mengguncang-guncang pundakku.

“Mbak, bangun. Mbak ngapo nangis? Mimpi buruk yo,Mbak?” lagi-lagi tangannya mengguncang tubuhku. Aku tergagap dan membuka mata.

“Dek, Mbak dimano sekarang? Tanggal berapo ini? Jam berapo sekarang?” Aku menggengam tangan Kiky erat-erat dan menatapnya penuh harap.

“Di asrama PGSD UNSRI, Mbakku. Tanggal 20 Desember 2013, sekarang jam 03.00 WIB. Kiky tebangun karno denger Mbak nangis. Mbak mimpi apo kok nangis?” dengan lugunya Kiky menjelaskan, dadaku terasa lebih lega mendengarnya.

“Mbak mimpiin ibu,Mbak. Maghrib tadi ditelpon, mamak Mbak kangen dengan Mbak. Mungkin hari ini Mbak nyari tiket travel. Mbak mau mudik dulu dek.”

Aku tahu bahwa aku masih cemas karena mimpiku, tapi aku ingin berbaik sangka kepada Allah bahwa memang sudah seharusnya aku pulang kerumah meski sekedar untuk melihat senyum mamak.

“Oh, iyo Mbak. Balek lah pulo Mbak tu, kan lah selesai jugo ujiannyo.”

Aku tersenyum, kami berdua bergegas mengambil air wudhu. Aku ingin memperlama sujudku malam ini, sekedar mengadukan kepada Rabbku bahwa aku benar-benar menyayangi mamak dan berharap kebaikkan untuk dirinya.

“Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosaku dan kedua orang tuaku. Ampunilah segala dosa-dosa bapak selama di dunia, lapangkanlah kuburnya dan masukkanlah bapak ke dalam golongan orang-orang yang beriman. Ampunilah segala dosa-dosa mamak Ya Allah. Kasihanilah beliau, sehatkanlah beliau, lapangkanlah rezekinya, lancarkanlah segala urusannya, panjangkanlah umurnya di dunia Ya Allah, karena hingga detik ini hamba masih menyusahkan mamak, masih memberatkan tanggungan mamak, masih belum bisa membuat beliau bangga meskipun hanya dengan melihatku mengenakan toga. Ya Allah..”

****

Mobil berbelok arah dan meninggalkan aku yang termenung menatap pintu rumahku. Perasaanku menyeruak, dadaku sesak menahan tangis yang hendak tumpah. Berat rasanya kulangkahkan kaki. Sekali lagi sopir travel itu membunyikan klakson, mengagetkan lamunanku. Ah, lagi-lagi mimpiku tempo hari benar-benar membuatku khawatir dengan keadaan mamak.  Aku menarik nafas dan perlahan mengetuk pintu.

Assalamu’alaykum…” ku ulangi beberapa kali menguluk salam.

Tak lama kemudian,aku mendengar langkah orang yang  datang membuka pintu. Entahlah aku gugup sekali, jantungku bahkan berdebar-debar dan sepanjang perjalanan menuju rumah aku tak bisa menenangkan gejolak dalam dadaku. Ah,aku jadi malu dengan perasaanku sendiri,aku seperti gadis pingitan yang hendak bertemu dengan pujaan hati. Setelah pintu terbuka dan aku tahu siapa yang membukanya, dadaku semakin berdebar-debar. Ada rindu yang menggebu didada ini. Aduh, aku semakin grogi untuk masuk ke dalam rumah.

Orang yang membukakan pintu untukku, tak lain adalah mamak. Dia hanya tertawa melihatku, aku semakin salah tingkah dan malu pada mamak. Kucium tangan mamak, lalu kupeluk erat tubuh kurus mamak.

“Mamak, Resty sayang mamak karena Allah.” Bisikku di sela-sela pelukan eratku.

Mamak hanya tersenyum, ku kendurkan pelukanku dan kutatap wajah teduh penuh senyum itu. Senyum yang benar-benar bebas tanpa beban, tulus. Kupeluk erat lagi tubuh kurus dan ringkih milik mamak..

Ya Allah, hamba sayang mamak.  hamba benar-benar ingin meringankan beban mamak, masih ingin melihatnya tersenyum bahagia, masih ingin membuat beliau bangga meskipun hanya dengan melihatku mengenakan toga. Ya Allah..”

***END***

Keterangan:

tigo                  : tiga

nyampe jugo   : sampai juga

ati-ati,nak        : hati-hati,nak.

iyo atau yo      : iya

ngapo              : mengapa

dimano            : dimana

berapo             : berapa

tebangun         : terbangun

karno               : karena

denger             : mendengar

apo                  : apa

Balek lah pulo : seharusnya pulang

jugo                 : juga

ujiannyo          : ujiannya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s