SIMFONI BIDADARI (Editing dari Draf SIMFONI HATI)


 

November, 2012

Kakak ku aneh. Iya, Aneh ! Beberapa  bulan terakhir ini kakak tiba-tiba aneh. Bahkan aku, adiknya pun seperti melihat orang asing.

Dulu, Kakak sangat modis dan  cantik.  Aku  dan dia tidak memiliki kemiripan sama sekali. Kulitnya kuning langsat, tinggi 165 cm, rambut panjang sepinggang dan hitam lebat, tubuhnya ideal, matanya kecil, bulu matanya panjang dan lentik, dua lesung pipinya makin menambah cantik wajahnya yang lonjong. Aku faham betul tampilan fisik kakak sebab aku adalah kebalikannya. Kakak kini kelas XII IPA 1 di SMA Muara Kelingi, tinggal beberapa bulan lagi ujian kelulusan SMA. Septia Putri Larasati, namanya. Aku memanggilnya,kak Laras.

Keluarga kami berjumlah 5 orang. Kak Laras adalah kakak sulungku, setelah aku masih ada adik laki-laki. Adikku yang biasanya kami panggil abang kecil, mewarisi kulit bapak yang gelap sama seperti diriku. Beruntung kulit ibu tergolong kuning, jadi meskipun kulit kami gelap tetapi tidak hitam legam. Rambutku keriting sedangkan adik laki-laki berambut ikal. Untuk rambut, aku mewarisi  ibuku yang keriting. Ah, jika ku sebutkan fisik kami satu-persatu, aku kerap berpikir bahwa kak Laras bukanlah kakak kandung ku .Usiaku hanya terpaut 2 tahun dari kak Laras, karenanya kami begitu akrab walaupun secara fisik kami berlainan.

Aku sangat terbiasa mendengar pujian teman-teman di sekolah, seperti ini misalnya.

“Kak Laras cantik banget Wi, mirip Geum Jan di1. “

“Wi, titip salam dong buat kak Laras. Ini puisi untuknya, dia suka puisi ‘kan?”

Ada juga yang sok gantle,

“Kamu, Dewi kan?  Minta nomor handphone Laras dong..”

Begitulah, kadang aku iri dengan kak Laras tapi aku juga lebih banyak mengaguminya.  Kak Laras adalah mantan Ketua OSIS kami, penyuka sastra dan pelatih klub tari pula.

“Dek, kakak sore ini mau ngajarin anak-anak OSIS latihan. Ada lomba Tari Daerah di kabupaten bulan depan. Dedek mau ikut atau gimana nih?”

“Dedek mau liat kakak aja deh. Males pulang sendiri, boleh ya?”

“Apa sih yang nggak buat dedek..”

Ya, namaku Dewi Salsabila. Dedek adalah panggilan sayang dari kak Laras untukku. Aku benar-benar menyayangi, suka sekaligus kagum pada Kakak. Tutur katanya lembut, supel, humoris, pokoknya Perfect deh!

Banyak cowok-cowok di sekolah yang diam-diam naksir bahkan ngefans berat sama kakak. Tapi, kakak menjatuhkan pilihannya pada seorang pemuda yang tentunya lebih tua darinya. Kak Dani, mahasiswa FK UNSRI. Ups! Bukan mahasiswa lagi, kak Dani sudah wisuda Dua tahun yang lalu. Kini, beliau sudah menjadi Dokter Muda di Bengkulu.

Tapi,sudah 3 bulan terakhir ini kak Laras berubah! Aneh! Biasanya ia paling update soal mode pakaian, modis dan elegan dalam berpenampilan. Artistik tapi nggak nyentrik ,itu prinsip kakak. Sekarang, jika ke sekolah hanya memakai kerudung putih panjang dan riasan sederhana. Aku kaget banget pas lihat kakak pakai kerudung dua bulan yang lalu. Memang sih jadi lebih anggun. Tapi perubahannya bukan hanya kerudung saja. Isi tas kak Laras juga berubah, selalu ada alma’tsurat dan al-qur’an mungil warna biru.

Hobi baru kakak sekarang hunting baju-baju muslimah, jilbab dan aksesorisnya. Lebih gandrung baca majalah islam serta buku-buku remaja islam. Dulu sajak-sajaknya banyak bercerita tentang cinta dan perasaannya pada Kak Dani. Belakangan, sajak-sajaknya lebih religius dan bercerita tentang dirinya. Oh iya, sudah 1 bulan Kak Laras putus dengan kak Dani padahal mereka pedekate 6 bulanan lebih. Sepengetahuan aku, mereka  baru 3 bulan pacaran.

Aku pernah menanyakan alasan kakak putus dengan kak Sastri. Bagaimanapun, kak Sastri juga good looking banget. Serasi abis sama kak Laras.

“Kakak malu dedek sayang..”

“ Malu?”

“iya, malu sama Allah. Hubungan yang bernama P-A-C-A-R-A-N antara kakak dengan kak Sastri itu tidak ada dalam islam.”

“aduh kak Laras, hari gini udah lumrah kali sama pacaran.”

Kak Laras hanya tersenyum,

“Kakak hanya ingin lebih baik lagi. Kakak ingin menjadi seperti Bunda Aisyah, Istri Rosulullah yang sangat beliau sayangi. ”

****

September 2012

Suatu malam,saat kami tidur kakak menanyakan pertanyaan yang sering juga aku menanyakannya dalam hati.

“Pak, apa benar Laras bukan anak kandung bapak?”

“Laras, sudahlah. Jangan terlalu dihiraukan omongan tetangga.” Jawab Ayah.

“ nggak bisa, yah. Bu, apa benar Laras ini anak haram?”

“Laras, maafkan ibu, nak.. “

“jadi benar, Laras anak haram bu? Semua ini benar, bu? Ooh, rupanya tetangga-tetangga kita selama ini tidak salah. Laras anak haram bu, Laras bukan anak kandung ayah,Bu?”

“Laraaas, maafkan ibu. Maafkan kesalahan ibu, nak…”

Awalnya, aku juga terkejut mendengar kebenaran itu. Malam itu, ingin sekali aku menghibur kakak. Tapi aku tahu diri, kakak pasti akan semakin sedih jika malam itu ia tahu bahwa aku mendengar semuanya. Aku memang pura-pura tidak tau hingga saat ini. Bagaimanapun kak Laras tetaplah kakak kandungku walaupun berbeda Ayah.

Sejak itu, bapak dan ibu sering menangis, lebih-lebih ibuku. Aku juga sering melihat kak Laras menangis sepanjang malam. Matanya sering merah dan sembab.

“kak Laras Cuma lagi sakit mata kok, dek. Oh ya, besok kak Laras mau ke tempat nenek. Mau ketemu tante Rini. Kabarnya habis pulang dari Jawa tante Rini pakai jilbab, mau ikut nggak?”

Kakak rajin mengunjungi nenek di Lubuk Linggau. Hampir tiap hari minggu, kakak ke rumah nenek. Lambat laun, kak Laras mengajak aku. Olalaaaa, rupanya bukan ke rumah nenek tujuan utamanya tapi ke rumah temennya. Aku malu melihat teman-teman kak Laras itu. Mereka tampak anggun dan santun dengan jilbabnya yang lebar menutup dada. Mereka ramah sih,tapi melihat senyuman mereka hatiku semakin kecut. Sebenarnya aku ogah diajak,tapi Ayah selalu memintaku untuk menemani kakak. Lambat Laun aku juga menyukai obrolan mereka yang kadang-kadang menyentil. Belakangan, aku baru mengerti bahwa “obrolan” itu adalah halaqoh2.

Keanehan  kak Laras bukan Cuma itu! Dia mengundurkan diri  sebagai pelatih Klub Tari. Dugaan ku benar, kakak bergabung dengan anak-anak rohis meskipun bukan sebagai pengurus Rohis.

“Alhamdulillah,sejak kak Laras gabung di Rohis, suasana Mushola kita jadi makin hidup. Kak Laras rajin banget ngisi rubrik puisi dan ensliklopedi muslim. Kita jadi tambah semangat juga belajar tentang agama islam.” Cerita Nurul, aktivis Rohis di kelasku.

Kakak juga makin sering menanyai kapan aku mau berjilbab. Awalnya bercanda, lama-lama kakak serius mengajakku untuk segera berjilbab.

“Dedek, belum mau pakai jilbab ya ke sekolah?”

“Ntar aja deh,kak. Kalau sudah lulus SMA, dedek pakai jilbabnya di kuliahan aja.”

“Dedek sayang,sekarang aja. Mumpung masih hidup dek,”

“Kita masih lama lagi kak hidupnya. Dewi aja baru 17 tahun, santai aja deh kak.”

“mana tau besok kita udah nggak hidup lagi.”

“Dulu kak Laras pernah bilang kalau rambut itu mahkotanya wanita , ngapain juga pake ditutupin segala. Ntar dikira gundul atau nggak punya telinga lagi.”

“Dedek Dewi sayang, itu kakak bilang sebelum kakak tahu. Sekarang kakak udah tahu, nih baca”

Kak Laras menyodorkan Al-Qur’an warna biru.

“Baca terjemahannya saja,dek”

Dengan sungkan kuterima al-qur’an itu, kubaca kuat kuat.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah

Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Qur’an Surah Al-ahzab ayat 59 . ”

“tuh kan, hayooo.. mau dalih apalagi nih?”

“Ntar aja deh kak, nunggu dapat hidayah”

Kak Laras hanya menghela nafasnya kemudian memelukku dengan erat.

****

OKTOBER 2012

Mendekati waktu sebulan terakhir, kakak semakin aneh. Bukan masalah sholat lima waktu atau rawatibnya yang ontime, tapi kebiasaan menangis kakak saat tengah malam. Awalnya, ia hanya menangis saja sepanjang malam. Setiap malam ia pasti sholat empat roka’at lebih sambil menangis, meski sayup-sayup kudengar ia membaca Al-qur’an sambil menangis. Kadang kala, aku merinding mendengar tangisannya yang semakin hari semakin menyentuh dan mengiris hati. Seolah – olah ia tengah merayu dan memelas kasih.

Kemarin malam, kudengar lagi pembicaraan Ayah, ibu dan kak Laras. Entahlah, akhir-akhir ini aku suka nguping pembicaraan orang.

“Ayah kandungmu meninggal sebelum akhirnya ibu tau bahwa ada Laras di rahim ibu, maafkan ibu nak..”

“Siapa ayah kandung Laras?”

“Dia sahabat karib Ibu, nak. Dia meninggal karena sakit kanker getah bening, ayahmu orang yang

baik. Dia keturunan Tionghoa, namanya Septian Nugraha.”

“Seseorang yang baik, nggak mungkin sampai menghasilkan Laras sebelum nikah. Laras malu Ayah”

“Laras sayang, maafkan kesalahan ibu, nak. Ibu mu sudah bertaubat sejak dulu, makanya kami sedikitpun tidak pernah lagi mengungkit masalah ini.”

Pantas, makin hari mata kak Laras makin mengecil. Makin sering ia habiskan malam-malamnya untuk menangis. Mungkin ekspresi betapa sangat terluka jiwanya, meski di siang hari ia selalu menampakkan wajahn yang ceria.

****

Desember  2012

Hari ini ulang tahun kak Laras yang ke-19. Dulu, kakak akan sangat sibuk  menjelang hari ulang tahunnya. Mulai dari nyiapin kado buat ibu, masak makanan kesukaannya,dll. Keluarga kami memang suka merayakan ulang tahun, meskipun hanya makan-makan dan kumpul bersama selama satu hari penuh. Tapi, tampaknya kak Laras lupa dengan ulang tahunnya kali ini.

“Kak Laras belum pulang bu?”

“Belum,dek. Tadi pamitnya mau ke tempat nenek. Katanya sih, tante Rini mau balik lagi ke Jawa, hari

ini berangkat. Mungkin sore pulang,dek.”

“kak Laras sendirian ya bu?”

“nggak, sama temannya tadi. Ada apa?”

“Oh,nggak ada apa-apa,bu.  Cuma, hari ini kak Laras Ulang Tahun. Mau ngasih kejutan aja buat

kakak, abang kecil mana bu?”

“Abang lagi ikut mancing, diajak bapakmu tadi.”

Aku resah, hampir jam 4 sore kak Laras belum pulang. Ku buka lagi kado yang telah kusiapkan untuk kak Laras. Sebuah buku tebal, Aisyah r.a “The True of Beauty”. Iseng –iseng aku masuk ke kamarnya. Rapi, bersih dan sejuk di pandang.kulihat meja belajarnya, ada buku harian diatasnya

“ pandanglah langit malam ini,

kelak kan kau lihat rembulan sabit.

itulah senyum yg ingin ku hadiahkan pd Mu..

hanya ada rembulan, seperti itulah aku kepada Mu.”

 

Sajak hati kak Laras, kubuka lagi lembaran buku hariannya..

“langit malam ini,berawan pnuh kabut..

begitpun rasa q saat ini.

seperti lentera yg t’lah menggantikan lilin,

dalam cahaya-Nya, ada harapku..

bersama hembusan angin,

sajak ku untuk Mu..”

aku bisa merasakan bahwa kak Laras begitu terluka,,

“Dan detak jam dinding, s’olah mengikut detak jantung q..

meski harus q ‘tahui, t’lah terhitung detik, menit, bahkan jam..

tapi,, Aq ragu  bisa menemui Mu..

*Simfoni Hati*

 

Simfoni hati kak Laras? Benar-benar deh, keanehan kak Laras menjalar hingga ke sajak-sajak nya. Kurasakan ada yang bergetar di saku jeans ku. Handphone ku berdering.

“Halo.  Iya, Wa’alaikumussalam. Benar saya Dewi, adik nya Septia. Ada apa ya,Mbak? Kak Laras!”

Aku bergegas lari ke dapur, mencari ibu.

“Ibu, kak laras…”

“kakakmu kenapa?”

“Kak laras, masuk ICU di R.S Dr. Sobirin..”

Ibu hampir saja pingsan, untung Ayah dan adikku sudah pulang.

Bakda Maghrib aku baru sampai di ruang ICU, kulihat ada seorang perempuan berjilbab dan seorang laki- laki berjas putih. Ayah langsung menanyakan apa yang terjadi pada laki-laki berjas putih.

“Septia kolaps di tengah perjalanan. Rupanya dia mengidap kanker getah bening stadium akhir, pak. Oh ya, saya temannya Ani, Rahman”

Perempuan yang dipanggil Ani juga mengangguk dan menyahut.

“Rahman, dokter yang tadi menangani Laras,, “

Lutut ku lemas, aku teringat pada ayah kandung kak laras. Air mataku jatuh, tes ! tes !

Dokter Rahman mempersilakan kedua orang tuaku masuk, aku dan abang hanya menunggu di kursi

Luar kamar ICU. Dokter Rahman mendekatiku, begitu juga dengan Mbak Ani.

“Dik, Septia perlu donor darah AB+. kondisinya benar-benar

mengkhawatirkan. siapa dari keluarga adik yang punya golongan darah AB+ ?”

Aku terbelalak. Keluargaku tidak ada yang bergolongan darah AB+. Aku O, abang kecilku B. ibuku B dan Ayah juga O. Dulu, aku pernah mempermasalahkan golongan darah kami yang berbeda. Tapi ayah saat itu mengatakan bahwa mungkin ia yang salah waktu tes golongan darah.

“nggak ada dok, kami nggak ada yang segolongan darah dengan kak Laras.”

“Hm, ya sudah.. kebetulan golongan darah saya AB+..”

Ibu dan Ayah keluar, tak henti-hentinya Ibu menangis. Aku masuk ruang ICU. Kak Laras makin terlihat aneh, selang-selang yang terhubung ke tubuhnya membuat dirinya semakin menyedihkan. Ia tampak begitu ringkih,jilbab birunya makin membiaskan pucat di wajahnya.

“Kak Laras, kakak bisa denger suara dedek kan?” Aku meraih tangan kurus yang tersambung selang infus.

“ Kak, selamat ulang tahun yang ke-19 ya. Maaf, dedek belum bisa jadi adek yang baik.”

“Kak Laras, bisa denger suara dedek,kan? Kak, dedek sayang kak Laras.” Aku mencium tangan pucat itu, air mataku mengalir.

Kudengar dokter Rahaman berbicara serius dengan kedua orang tuaku.

“Septia kini tengah berada dalam kondisi kritis, Kemungkinan ia bisa melewati masa kritis sangat tipis. Mukjizat yang bisa membangunkan dirinya,sepertinya ia sudah sering kolaps sebelum hari ini. Kita berdoa untuk kebaikannya. Kami akan segera melakukan donor darah dan pemeriksaan lebih lanjut.”

Jujur, Aku kerap kali mendapati kak Laras pucat, bahkan pernah beberapa kali pingsan di kelasnya. Aku mengira kak Laras hanya terbawa suasana duka dan efek dari malam-malamnya yang sering dihabiskan dengan menangis.

“Kakak memang lagi nggak fit aja,dek. Kemarin udah check up ke klinik, tensi darah kakak memang rendah. Nih,kakak bawa vitamin dan kapsul penambah darah.”

Kupandangi tubuh pucat itu.  Terbayang percakapan kami beberapa waktu yang lalu.

“Dek, kira-kira kakak bisa ketemu bunda Aisyah nggak ya? “

“Dedek nggak tau kak. Orang bukan dedek yang jadi Allah.”

“Kakak takut, kerudung ini nggak bisa mempertemukan kak Laras dengan beliau.”

“Apa sih yang kakak suka dari bunda Aisyah?”

“yang kakak suka dari beliau cuma satu, beliau mampu menjadi istri Rosulullah yang luar biasa meskipun ia masih muda belia. Ia selalu penuh cinta dan ia di didik dalam didikan rosul serta orang

tua yang Luar biasa. Bunda Aisyah, satu – satunya wanita yang mampu memberi banyak motivasi untuk kakak. Kak Laras ingin seperti beliau.”

Aku tahu kesedihan kakak, ia pasti takut tak bisa bertemu bunda Aisyah karena ia lahir dari perbuatan yang dibenci oleh Allah.

“Dek, apapun yang terjadi dedek tetap sayang kak Laras kan? Dedek nggak akan benci kakak,kan?” “Kak, sebesar rasa sayang matahari kepada bumi, sebesar cinta rembulan pada malam, sebesar itu pula sayang dedek untuk kak Laras. Engkau lah bidadari di bumi hati dedek,kak. Hehee..”

“Bisa aja deh, itu kan kata-kata kak Sastri. Ih, mana boleh copy paste kalimat orang.”

“Kak Laras sih, aneh pertanyaannya. Kakak nggak kangen kak Sastri?”

“Nggak, kakak cuma kangen bunda Aisyah.. kapan ya kakak bisa ketemu beliau? Menurut adek,kapan?”

Aku mencium wajah kak Laras. Semoga kak Laras lekas diberi keajaiban untuk melewati masa kritisnya.

****

Sudah satu minggu lebih kak Laras koma. Kupandangi sonar perekam detak jantungnya, makin melemah saja.

“Dek, kakak pengen jadi bidadari syurga. Kakak sudah cukup cantik belum untuk jadi bidadari syurga?”

“Udah kak, kak Laras Cuantiik banget deh. Nadine Candrawinata mah lewaaat… suer!!”

“Dedek, bidadari syurga itu beda dengan bidadari dunia. Pantas nggak ya kalau kakak pengen jadi

bidadari syurga?”

Kuseka air mataku, cewek tomboy mana boleh nangis terus-terusan! Aha, gimana kalau aku

baca qur’an. Kali aja dia bangun, ya nggak sih? Kuraih al-qur’an warna biru milik kak Laras, lalu aku mulai membacanya pelan-pelan.

“Adek,,,,”

suara kak Laras? Aku menatap tak percaya.

“Kak Laras, syukurlah kakak bangun. Kakak tidurnya lama banget.”

“Adek yang bangunin kakak, coba kak Laras lihat, adek ngaji surah apa?”

“Hmm, Ar-Rahman kak. Soalnya kakak beri pembatas bunga, adek pikir kakak pasti suka surah ini.”

“ coba bacakan ayat yang ke-empat, sekalian terjemahannya ya dek.”

“Fiihinna Qaashiroo tuthorfi lam yathmits hunna insyun qablahum walaa jaaan.. Di dalam syurga itu

ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia

sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.”

“Dek, kakak pantes nggak jadi bidadari syurga? Apa kakak boleh jadi bidadari syurga?”

“Allah maha mengetahui apa yang di inginkan oleh hambanya, tante Rini bilang seperti itu kak.”

Wajah pucat itu tersenyum, senyum itu seperti tidak merasakan sakit.

Aku terkejut, sebuah tangan menyentuh pundakku. Ah, dokter Rahman dan suster yang datang. Kepalaku terasa berat.

“Al-qur’an mu hampir jatuh, Dik. Kamu tertidur, ya?”

Yang barusan hanya mimpikah? Ya, Allah..

“Oh, dokter Rahman. Mau periksa kak Laras, dok? Silakan, saya permisi keluar.”

Aku menunggu diluar sambil menelpon Ibu.

Dua Jam berlalu, Aku masih termenung. Tak lama kemudian, dokter Rahman menghampiri.

“Pasien sudah sadar, dia mencari Adik.”

Aku segera menelpon Ayah dan Ibu, mengabarkan bahwa kakak sudah Sadar dari Koma. Kemudian, aku bergegas masuk.

“Assalamu’alaikum, kak Laras….”

Dia tetap pucat, namun  wajahnya tersenyum.

“Dedek sayang, cantik banget hari ini. Kamu pantas memakai jilbab itu. Alhamdulillah..Kakak bahagia..” suaranya sangat lemah, mungkin ia menahan sakit yang luar biasa.

“Heheee, selamat Ulang tahun kak Laras. Ini hadiah dari adek.” Aku menunjukkan buklet Anggrek dan Kado yang kusiapkan untuk kak Laras.

“Hadiah terbaik untuk kakak adalah melihatmu berjilbab,dek. Kamu cantik!”

Ku tahan air mataku. Aku harus ceria didepan kak Laras.

“Dek, dedek udah tau kan?”

“Apa itu,kak?”

“Kak Laras bukan kakak kandung adek dan abang kecil.”

Aku tak menyahut, tonggorokanku seperti tercekat.

“ Kak Laras anak yang lahir dari perbuatan keji, kakak Anak haram,dek.”

“Kak, tidak ada yang salah dengan kelahiran kakak. Yang salah adalah perbuatan yang

melakukannya. Allah membersihkan kak Laras dari dosa perbuatan keji itu. (yaitu) bahwasanya

seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,An-najm ayat 38. Kakak percaya dengan

Allah,kan?”

“Adek cerdas.. Kakak hanya merasa, bahwa kakak tidak layak bertemu bunda Aisyah karena hal ini. Apalagi menjadi bidadari syurga, bidadari dunia juga tidak pantas..”

“Kak,,”

“Tapi, kakak bahagia.. ditengah keputusasaan kakak, kakak mandapatkan pancaran sinar-Nya.. “

“Kak Laras…”

“Hanya, kakak merasa sangat malu… Malu karena berharap bisa menjadi bidadari. Malu kepada

Allah, malu pada Rosulullah, malu pada bunda Aisyah… malu pada bidadari-bidadari syurga..”

Aku merasa wajah kak Laras kembali memucat. Ya Allah..

“Kakak bersyukur diizinkan hidup di tengah-tengah orang yang menyayangi kakak. Dek,”

“Iya kak, adek disini..”

“Tolong bacakan Surah Ar-Rahman untuk kakak,dek. To-long..”

Aku menahan jatuh air mataku. Entahlah, aku takut sekali. Kak laras seperti tengah menahan rasa sakit yang sangat meskipun ia tersenyum kepadaku.

Pelan-pelan kubaca surah Ar-rahman, ayat per ayat kubaca,begitupula dengan terjemahannya. Hatiku basah, ingin sekali aku menangis.

“Dek, coba ulang-i ayat yang bar-usan..”

Waliman khoofa maqaama robbihi jannatain..Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.”

Kak Laras menangis, aku hampir tak kuat menahan air mataku. Aku meraih tangannya, kurasakan Jari tangannya dingin. Nafasnya makin cepat tapi berat.

Tabaarokasmu robbika dziljalaaliwal ikroom.. Maha Agung  Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.”

Kak Laras menguatkan genggaman tangannya.

Sodaqqollahul Adziim. Dedek, sam-pai kan ma-af kak Laras untuk a-yah, i-bu ju-ga Abang. Kata-kan

pada I-bu,,”

“Kakak, kakak istirahat dulu.”

“Katakan pada Ibu, kak La-ras mema-afkan ma-sa lalu I-bu. Ma-af ya,dek.”

“Kak, dedek panggil dokter Rahman ya?”

“Dek, hadiahkan se-nyu-m sa-at kakak.. ”

Suaranya melemah. Ya Robb, wajah itu memucat!

“Kak..”

“Laa ilaa ha ill lallah… Muham-mad rosu-lullaah…”

suara dan nafasnya berdesis. Air mataku tumpah! Seulas senyum menghias bibirnya yang tipis.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un…”

Kuseka air mata lalu ku cium kening kak Laras. Tubuhnya makin dingin dan pucat pasi. Rasa sakit dan luka jiwanya telah terobati.

Ayah dan ibu yang baru dating langsung menghambur dan memeluk kak Laras.

****

Epilog

“Malam kian larut nan pekat, Rembulan sabit yang makin redup terang.

kan q hadiahkan senyum utk Mu meski rasa q pekat n larut.

Sajak-sajakku, tetap ada untuk Mu..

*Simfoni Hati*

 

Kututup buku harian milik kak Laras. Air mataku jatuh.

“Dek, jika memang kakak nggak bisa jadi bidadari syurga, akan kakak buat mereka iri dan cemburu

pada kak Laras..”

“Gimana caranya,kak? Emang,Bidadari syurga bisa iri dan cemburu juga ya kak?”

“Iya, mereka akan dan harus cemburu pada kakak”

Air mataku kembali jatuh.

Kakak memang aneh. Tiba-tiba ingin menjadi bidadari syurga. Aneh, tiba- tiba merasa mampu membuat bidadari cemburu kepadanya.

“Dek, Pantes nggak kalau kak Laras pengen ketemu bunda Aisyah?”

Tep! Lampu kamar kumatikan. Aku makin tak kuasa menahan derasnya aliran air mata ini.

“nyiur diterpa angin, suara-suara jangkrik turut meramaikan malam.

Tak ada yang berubah dan tak ada yang ingin aku ubah,kecuali hati yang makin mencintai Mu..”

*END*

Keterangan:

1: salah satu nama tokoh utama dalam drama korea, era 2009.

2:Kajian keislaman rutin, biasanya terdiri dari beberapa orang dengan seorang Pembina.

SIMFONI BIDADARI (Authored by Umi Qona’ah). Dedicated for “Someone special ”  who have been inspiring this story.  (Bener nggak nih bahasa inggrisnya? Biarlah J )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s