INI TENTANG TAHSIN AL-QUR’AN


 

 

Bismillahirrohmaanirrohiiim.

Tulisan ini saya buat sebagai bahasan dan cerminan kedepan untuk saya pribadi atas niat yang telah kami jalankan ini.Yah, terhitung sejak semester awal tahun akademik ini, saya mengajar tahsin untuk adek-adek aktivis KAMMI Al-Quds UNSRI dan LDF BWPI UNSRI.Mungkin ada yang menanyakan dengan ragu-ragu dalam hati, “Mbak Umiqo ngajari tahsin? Serius loe?” hehee, mudah-mudahan apa yang saya tuliskan ini tidak mengurangi sedikitpun dari niat awal kami.

Semua bermula ketika saya memutuskan untuk melanjutkan studi lagi di Universitas terkenal di sumatera selatan ini.Saat itu, status saya masih “nyantri kalong” di lembaga tahsin milik ustadz Endi di Lubuk Linggau. Saya sambil menyelesaikan pelajaran tahsin, termasuk santri yang beruntung karena sempat menjadi santri yang diperbolehkan untuk memulai program tahfidzul qur’an.  Semangat untuk menghafal benar-benar menggebu dalam dada.Ketika sudah berada di Indralaya, saya pun segera menemui ustadz di Roudhotul Ulum. Singkat cerita, saya malu karena belum memiliki hafalan barang satu juz pun! Saya baru hendak memulai, dan sang ustadz sudah menanyakan berapa juz hafalan saya.

Alhamdulillahnya, cara saya mengekspresikan rasa malu lebih terarah. Jadi, saya berfikir untuk menemui lagi ustadz tersebut ketika saya sudah memiliki hafalan yang pantas dan memiliki beberapa teman yang sama-sama berkomitmen untuk menghafal Al-Qur’an.

Selama satu semester awal di tahun ke empat saya di kampus, saya mulai menemui dan berdiskusi dengan beberapa kader BWPI yang telah saya ketahui memiliki hafalan dan tidak memiliki guru untuk muroja’ah juga.Tercatat, ada yang sudah hafidz 2 juz dua orang, yang hendak memulai dua orang dan yang sudah punya hafalan 3 juz ada satu orang. Saya meminta kesediaan mereka untuk sama-sama kembali memulai tahfizul qur’an dan saya ingin menimba ilmu dari mereka yang sudah punya hafalan.

Minggu ke minggu pun lewat berganti menjadi bulan, bulan demi bulan berganti dan akhirnya tamatlah riwayat semester genap, saya kebetulan mengambil KKN di desa Purwosari kabupaten Banyuasin.

Satu waktu di penghujung KKN, saya kebetulan menjadi juri untuk lomba do’a sehari-hari bidang kelancaran hafalan.Beberapa anak-anak yang saya temui saat itu, setidaknya ada tiga orang lebih yang sudah memiliki hafalan setengah juz. Allahu Akbar! Saya terharu dan malu, mereka –anak-anak SD kelas 3- dan saya sangatlah jauh perbedaan usianya akan tetapi hafalan kami hanya beda beberapa surah saja.Dari hal ini lah, kemudian semangat menghafal pun kembali bergelora.

Suatu waktu, di syuro BIE KAMMI Al-Quds ada sesi curhatan kader.Bukan curhat tentang apa-apa, hanya mencurahkan kegundahannya tentang betapa salah seorang kader tersebut ingin belajar Al-Qur’an dengan baik dan benar.Gayung pun bersambut, singkatnya kami pun sepakat untuk mengadakan agenda NGAPEL (Ngaji Pelan2) Alqur’an.Saya menyanggupi untuk menjadi tentor berbekal ilmu yang sudah saya pelajari di lembaga tahsin milik Ustadz Endi.Alhamdulillah, saya juga berhasil memprovokasi untuk kader-kader BWPI agar mengadakan tahsin juga, saya menyanggupi jika pun tidak ada yang mau mengajari.Akhirnya, diperolehlah satu hari Full untuk belajar tahsin. Malam Ahad untuk kader-kader BIE Alquds (setelah dirunut, beberapa enggan bergabung, entah apa alasannya). Hari Ahadnya untuk kader-kader BWPI (ada beberapa yang juga yang merangkap kader KAMMI AL-Quds), total peserta awal kurang lebih sekitas 20 orang. Hal ini terwujud di semester ganjil tahun ke lima saya kuliah.

Selama tiga pekan saya mengajarkan mereka, tidak ada kendala berarti hingga tiba masanya ujian Makhorijul Huruf.Setelah itu vakum untuk beberapa waktu pertemuan.Apa masalahnya?

  1. Tahsin ini sifatnya suka rela dan tidak mengikat, jadi saya tidak memiliki wewenang apapun untuk menentukan harus tahsin hari ini.
  2. Komitmen yang saya buat kesepakatan dengan para peserta sebenarnya lebih kepada bagaimana membangun sebuah kebutuhan akan pentingnya membaca Al-Qur’an secara tartil dan mempraktekkannya.
  3. Saya menyadari sepenuhnya, bahwa mereka adalah para aktivis. Yaa namanya juga aktivis, tentu sangat aktif di kegiatan organisasi mereka masing-masing. Ini yang membuat vakum karena ada agenda LDO yang hamper berurut-urutan.

Bagaimana solusi yang saya galakkan?Yah, saya memutuskan untuk mncuri-curi waktu disela-sela kegiatan mereka yang padat. Sudah nggak jelas lagi mana yang ngaji tahsin siang hari dan mana yang malam, pokoknya kapan pun mereka bisa saya siap! Lumayan sukses hasilnya, sukses untuk tidak banyak yang datang belajar tahsin.Kecewa? Ah nggak juga, karena balik lagi permasalahan pertama.

Sambil terus berjalan, saya pun mulai berfikir bagaimana supaya tahsin ini bisa konsisten setiap pekan dan mereka bisa segera menyusul ke program tahfidz Qur’an.Ini yang masih terus saya olah-alih.

Apa timbal balik yang saya harapkan dari tahsin ini? Saya tidak tahu, apakah ini keikhlasan atau seperti apa, tapi ini lah beberapa yang saya temui di lapangan.

  1. Beberapa orang mungkin masih meragukan kredibilitas dan kapabilitas saya dalam mengajarkan tahsin. Wajar sih karena saya tidak memiliki lisensi dari lembaga tahsin manapun.
  2. Beberapa menganggap saya mendapatkan bayaran dari tahsin ini. Dikiranya bayaran, padahal emang iya sih. Saya dibayar sama Allah dengan banyak kelancaran beberapa persoalan yang saya hadapi.
  3. Beberapa menanyakan metode apa yang saya gunakan, tak sedikit juga yang membandingkan dengan lembaga tahsin di luar sana. Saya tidak memiliki buku acuan lebih dari yang saya miliki, juga tidak tahu ada metode-metode khusus. Malu? Ah nggak juga, toh saya masih nggak malu ini.

Penting sekali untuk saya jelaskan bahwa saya tidak menggunakan metode apapun, saya sepenuhnya meniru cara Ustadz Endi mengajarkan kami tahsin di lembaga Tahsin Lubuk Linggau. Buku acuan saya juga buku yang sederhana, hasil penyusunan yang dibuat oleh Ustadz Endi.Dalam penyampaiannya ada kemiripan dengan kegiatan halaqoh. Ada MC, ada yang tausiyah, ada tadarrus dan ada materi. Yang membedakan adalah apa yang di sampaikan. Sampai dibagian ini, saya sering termenung karena malu dengan kualifikasi saya, tapi Insya Allah kita semua sama-sama pengen bisa menjadi seorang Hafidz Qur’an.Sesekali saya selingi dengan tadabbur suroh yang kami baca, sesekali dengan icebreaking-tepatnya motivasi-, sesekali saya menyinggung kondisi kader dan organisasi mereka. Lalu apa yang sebenarnya yang benar-benar saya inginkan? Semoga Allah mencatat hal ini, saya hanya menginginkan satu hal sebagai keinginan besar saya :Saya Ingin Allah melancarkan proses saya menjadi seorang yang diberi kepercayaan Allah untuk menghafal Al-Qur’an dan menjadi Ahli Qurro’ ( Hafidz). Jujur, sudah berlimpahan rahmat yang Allah berikan kepada saya selama berinteraksi dengan Al-Qur’an ini.Harapan lainnya? Ada, diantaranya adalah saya ingin selalu dekat dengan adik-adik saya yang seorganisasi, ingin menjaga mereka dan sama-sama saling menyemangati ruhiyah, ingin agar saya dilancarkan dalam setiap urusan, ingin agar saya bisa sedekah dengan mereka, ingin berbagi ilmu dengan mereka, ingin menularkan semangat ini kepada mereka, ingin mereka tau bahwa saya benar-benar tulus mengajak mereka untuk sama sama berinteraksi dengan Al-Quran dan mengambil manfaatnya sebagai minhajul hayyah atau pedoman hidup, ingin agar ketika kami sedang belajar tahsin Allah berkenan menjaga kami dengan Malaikat-malaikatnya yang siap mendo’akan kami dan ingin agar Allah mendengar do’a kami, mendengar keluh-kesah masalah kami, dan mengabulkan hajat kami.

Hingga tulisan ini selesai saya tulis, harapan itupun masih ada. Seiring dengan munculnya harapan baru bahwa semoga apa yang saya lakukan ini bisa menjadi amal jariyah bagi saya kemudian hari, semoga dengan ini akan banyak lagi pengajaran tahsin oleh mereka-mereka yang pernah belajar dengan saya, semoga di kemudian hari apa yang diperbincangkan dan apa yang digundahkan oleh kader-kader Universitas Sriwijaya ini bukan lagi tentang masalah asmara yang tak kunjng selesai di kalangan aktivis –baik yang lama ataupun baru- semoga bukan lagi kegalauan yang kurang bermanfaat di status facebook mereka akan tetapi kelak di kemudian hari kami semua berharap bahwa apa yang digundahkan dan yang diperbincangkan adalah tentang hafalan-hafalan mereka dan seberapa kuat penjagaan mereka terhadap apa yang telah menjadi hafalan, semoga kemudian bermunculan Hafidz-hafidz Qur’an di universitas ini. Semoga! Ya ALLAH kabulkanlah harapan kami ini.

Demikianlah, catatan ini.Alhamdulillah dan mohon do’akan kami untuk senantiasa berkomitmen dalam memperbaiki pemahaman kami dalam AL-qur’an. Allahumma Aamiiin..

 

Bumi Allah,

Umi Qonaah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s