Mudik Asyik,Agar Mudik Jadi Lebih Bermakna[Bag.2]


Setahun telah berlalu sejak pertama kali saya menuliskan tentang keinginan dan kegalauan saya untuk mudik. Kini, di bulan yang sama saya juga merasakan galau yang lumayan menguras pikiran. Mungkin sahabat akan bertanya,”Apa sih yang membuat mu jadi galau Qo?” yaah, sebenarnya lebih tepatnya lagi bukan galau yang gimanaa gitu. Ada beberapa hal yang kemudian saya gali-gali ulang tentang agenda yang saya prioritaskan. Nah, ini dia nih agendanya:
1. Tanggal 26-27 juni ada kuliah pembekalan untuk kegiatan KKN yang Insya Allah akan saya ikuti.
2. Tanggal 2 Juli jadwal keberangkatan KKN ke Kabupaten Banyuasin, KKN ini dijadwalkan selama 40 hari
3. Kira-kira tanggal 9 atau 10 Juli adalah hari pertama puasa Rhomadhon, kemungkinan terbesar saat tanggal tersebut saya sudah berada di lokasi KKN.
4. Saya sudah memiliki janji dengan saudari muslimah ku di lubuk linggau untuk ketemuan di pekan akhir bulan Juni ini, untuk apa? Insya Allah, kami ingin setoran hafalan Juz 30 ke Ust.Endi.
5. Yang jadi masalah, sekarang udah tanggal 21 Juni nih, jadi kapan dong Umiqo bisa mudik coba?
Plan-plan tersebutlah yang menggalaukan pikiran saya, sebenarnya simple sih asal ada ongkos memadai aja untuk mudik, tinggal beli tiket terus capcus lagi ke Indralaya. Tapi nggak lucu kan kalau mudik Cuma kayak iklan aja? Terus, apa sih mau kamu Qo selama Mudik? Ini nih yang saya mau lakukan selama mudik yang mungkin Cuma sebentar:
1. Melepas rindu dan mengumpulkan kembali restu ibunda saya, ini sangat penting sekali bagi saya pribadi.
Bukan apa-apa sih, kalau saya sudah mendapatkan ridho dan restu dari ibunda saya maka saya akan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk meminta pertolongan Allah bagi setiap urusan dan masalah-masalah saya. Yaa walaupun saya tahu, tanpa diminta dengan formal pun ibu pasti akan mendoakan untuk kebaikan dalam urusan dan segala sesuatu pada diri saya, tetapi dengan memintanya secara langsung secara formal dari hati ke hati lewat aktivitas tahajjud bersama, rasanya itu menjadi sebuah energi besar bagi saya untk bertahan dari segala macam keterpurukan. Saya leluasa untuk berdoa kepada Allah dalam tiap tahajjud saya, meminta kekuatan dan kelancaran dengan do’a yang tidak saya sendiri yang melakukannya tetapi saya haqqul yakin bahwa di rumah saya yang sederhana dalam tiap hening malam, ada sesosok wanita luar biasa yang juga turut mendo’akan saya dengan kecepatan do’a yang mustajab nya lebih akurat dibanding saya. Dialah ibunda saya.
2. Ziaroh ke makam bapak.
Ngapain ziaroh Qo? Karna mau puasa romadhon ya? Hm, mungkin iya sih salah satunya karena menjelang puasa romadhon, kita lebih beruntung karena masih bisa menjumpai Rhomadhon (Insya Allah) dan masih memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan amal-amal ibadah kita. Tapi alasan lainnya adalah karena sampai saat ini saya masih merindukan keberadaan bapak. Perasaan bersalah dan belum berbakti sepenuhnya kepada bapak selalu membayang dipikiran. Ibu juga tidak kalah hebohnya untuk menganjurkan saya agar setiap kali mudik menyempatkan diri ziaroh ke makam bapak. Hal lainnya adalah, ketika saya berada di antara kuburan-kuburan itu saya seperti diingatkan kembali tentang perbuatan-perbuatan kita semasa hidup di masa lalu kita. Siapa sih yang bisa ngasih jaminan bahwa amal-amal perbuatan kita ini udah pasti bisa membebaskan kita dari panasnya api neraka? Yang paling minimal sekali, disamping makam bapak juga ada beberapa makam-makam lain yang saya kenal siapa orangnya dan bagaimana dirinya semasa hidup. Dan yang paling penting sekali, saya ingin menepati pesan bapak dulu kepada saya untuk sering-sering ziaroh kubur supaya terus ingat dengan kematian yang datangnya tanpa terduga. Ya Allah, seperti tertiup angin saja semua amal-amal yang saya lakukan jika saya mengingat kematian, belum ada kebaikan yang bisa membuat saya pede untuk menghadap Engkau Ya Rabbi..
3. Saya tentu ingin menjumpai adik-adikku, kakak-kakak ku, dan tentu saja keponakan ku yang paling cantik dan Insya Allah sholehah: Anna Althafunnisa.
Mereka-mereka ini walaupun dan bagaimanapun juga tetaplah menjadi prioritas dakwah saya di rumah. Dengan menjumpai mereka minimal sekali saya akan tahu perkembangan iman dan ruhiyah mereka. Dengan begitu, setidaknya ada satu kalimat ilahiyah yang mampu saya sampaikan untuk mendorong mereka kepada kebaikan dan ketaqwaan kepada Allah. Kalaupun sulit mendakwahi secara lisan, minimal mereka bisa mendengar lantunan merdu dan fasih dari bacaan Al-qur’an saya yang mudah-mudahan bisa menggugah ruang hati mereka untuk turut serta membaca Al-qur’an. Kalaupun masih nggak mempan juga, minimal saya memiliki alasan kuat dihadapan Rabb saya untuk terus mendo’akan mereka agar Allah berkenan memberikan hidayah kebaikan kepada saudara-saudara saya ini.
4. Pada dasarnya, saya sendiri memang udah kangen nih pengen mudik..

Kalau sahabat sendiri gimana nih agenda mudiknya, apa alasan kuat yang mendorong sahabat untuk kemudian meluangkan waktu mudik ke rumah? Adakan sama dengan saya ataukah ada beberapa alasan lain yang mungkin juga bisa menjadi sebab alasan juga bagi saya untuk mudik? Apapun alasannya, mudah-mudahan kita semua tetap pada pijakan yang sama bahwa yang penting kita tetap menyertakan Allah dalam segala hal yaa..?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s