”MENANTI DELIA (bagian 1)”


 

“Ris, Delia dan suaminya kecelakaan di simpang RCA. Sekarang di RSUD Dr.Sobirin” pesan singkat dari Indra.

Aku bergegas meraih kunci  SWIFT silver, bergegas memacu laju meninggalkan kantor. Berpacu dengan waktu dari Muara Kelingi menuju Lubuklinggau. Ya Tuhan, tolong selamatkan Delia dan suaminya.

 

******

“Deli sudah resign dari DC sejak 10 Desember lalu,Mas. Kabarnya Dia kembali ke UNSRI, melanjutkan studi” Sales Counter DC menjelaskan.

Aku  terhenyak sebelum berlalu dengan gontai  dari showroom DC. Tiba-tiba Aku teringat sesuatu dan berlari masuk ke dalam showroom DC lagi.

“Maaf, Mbak. Deli masih kuliah ya, di UNSRI?”

“Iya, Mas. Beberapa bulan lalu Dia hanya Cuti.”

“Wah, Saya kebetulan kuliah di UNSRI, Mbak. Boleh tau siapa nama lengkap Deli? Ada urusan penting yang belum Saya selesaikan dengan Dia.”

“Oh,gitu. Nama lengkapnya Delia,Mas. Semoga urusannya lancar ya, Mas.”

Setelah mengucapkan terima kasih yang kedua kalinya, Aku berlalu dengan lebih bersemangat. Tuhanku, Tolong restui niat Hamba.

Delia. Terbayang kenanganku bersama Delia. Delia, gadis istimewa yang pernah hadir dalam garis waktuku. Aku mengenalnya Juni lalu dalam acara pameran Sepeda Motor di Lapangan Merdeka,Lubuklinggau. Saat itu Aku masih training kerja di Bank Mega dan Delia adalah Marketing Executive Sepeda Motor.

“Sepeda motor ini, sengaja di design khusus pada strippingnya,Mas. Motor cantik ini namanya Shogun Axelo Yoshimura. Kalau Mas  DP 5.000.000, angsuran perbulan hanya 607.000 saja per 32 bulan.”

Entah mengapa, selain tertarik dengan sepeda motor yang dipromosikannya, Aku juga terpesona dengan dirinya. Pembawaannya yang santun, binar mata cokelatnya, senyum manisnya, jilbab rapinya,Aku benar-benar dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama.

Aku tidak pernah merasakan debaran jantung yang begitu kuat terhadap wanita. Apalagi wanita yang berjilbab rapi sepertinya. Aku sering melihat wanita berjilbab menutup dada di Fakultas Ekonomi UNSRI. Tapi, kebanyakan mereka sangat eksklusif dan tak sedikit pula yang angkuh terhadap laki-laki tanpa jenggot tipis seperti diriku.

Esok hari  Aku menemui Delia di tempat yang sama, stand pameran. Seperti keterangan Delia, berkas aplikasi sudah lengkap Aku siapkan. Binar mata cokelat itu..

“Sebentar,Mas. Saya perjelas kembali, untuk bulan Juli ini Shogun Axelo Yoshimura DP 8.000.000 maka angsuran perbulannya sebesar 749.000 selama 14 bulan. Begitu,Mas.”

“Saya minta angsurannya 700.000 saja bisa,Mbak? DP saya ‘kan hampir 50% dari OTR.” Sengaja Aku keukeuh tentang besaran angsuran. Aku suka pelayanannnya, mungkin ini dedikasi seorang Marketing Executive dan tak heran jika stand Dia selalu ramai dikunjungi.

“Seperti ini saja,Mas. Nego angsuran silahkan nanti Mas ajukan ketika surveyer datang ke rumah. Bisa lebih jelas nanti, sebab besar kecil angsuran tergantung Leasing yang bersangkutan. Oh,ya Mas. Boleh tahu alamat kita dimana?”

“Oke.. jalan pioner nomor 63 Air Kuti,Mbak.”

“Sip, berkas lengkap dan kita akan survey hari juga,Mas. Silakan Mas kembali dulu, 15 menit lagi Insya Allah kami sampai. Calon konsumen dan survey tidak diperkenankan ke lokasi secara bersamaan,Mas.”

“Segera ya,Mbak.”

Dia tersenyum kepadaku. Ya Tuhanku, bisa mati Aku jika tak melihat senyum itu lagi!

15 menit kemudian Dia benar-benar datang bersama CMO yang kebetulan adalah teman lama di SMANDA Lubuklinggau,Indra. Aplikasiku di Acc dan Shogun Axelo Yoshimura menjadi milikku.

Komunikasi Aku dan Delia terus berlanjut. Aku sering mengirim pesan singkat untuk Delia, menanyakan kabar, memberi ucapan lebaran atau sekedar iseng menanyakan sepeda motor tipe lain. Sebulan sekali Aku mengunjungi DC sekedar ingin melihat apakah Delia ada di Showroom DC atau tidak.

Masih kuingat saat Delia datang mengantar plat motor ke rumah, saat itu hujan lebat dan Dia basah kuyup. Aku kagum pada profesionalitasnya, meski basah Dia tak melepas kaos kakinya. Dia masih kedinginan sewaktu beranjak dari rumah, sayang Dia menolak Jaket merah tawaranku.

Semakin berlalu hari-hari, Aku semakin terpesona dengan dirinya. Sempat terbesit untuk mengutarakan perasaanku tapi Aku menghormati prinsip wanita sepertinya. Sama sekali tidak pernah terpikirkan bahwa kami satu almamater,UNSRI.

*****

 

Aku terkejut, suara klakson mobil di belakangku membuyarkan lamunan tentang Delia. Kutarik pedal gas dan melaju menuju simpang RCA.

Sisa – sisa keramaian akibat lakalantas sudah tidak ada di RCA. Hanya tersisa pos polisi yang rusak akibat tindihan Bus Pariwisata yang menabrak Delia dan suaminya. Police line membentang di area TKP.

Ketika sampai di RSUD Dr.Sobirin, Aku pun memarkir SWIFT silver di sisi kiri gerbang utama. Belum sempurna jejak langkahku menuju ruang UGD, tampak Mobil jenazah tak jauh dari pintu UGD. Allah,Tuhanku.. Mudah-mudahan bukan Delia atau suaminya.

Tampak beberapa suster memasukkan jenazah ke dalam Mobil. Aku mendekat dan bertanya dengan was-was.

“Ini korban lakalantas di RCA,Pak. “

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.. Sekarang dimana istri korban, Sus? Saya keluarga korban.”

“Masih di UGD,Pak. Saya turut berduka untuk suami dan janin dari saudara Bapak. Mudah-mudahan beliau bisa melewati masa kritis dengan selamat.”

Kritis? Janin? Ya Allah, Delia…

Lemas seluruh tubuhku, serasa dihempaskan dari atas langit. Aku terduduk di kursi panjang tak jauh dari ruang UGD. Ya Allah,  selamatkan Delia..

******

 

25 Desember, pukul 08.00 WIB. Auditorium UNSRI mulai ramai didatangi wisudawan dan keluarganya. Aku sengaja berangkat lebih dulu dari keluargaku. Aku ingin mencari Delia, sepengetahuanku banyak mahasiswi yang berjualan bunga plastik di acara wisuda. Aku mondar-mandir tak sabar. Jubah dan toga wisuda masih rapi tersimpan dalam tas punggungku.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Ya Tuhan, itu Delia..

Aku berjalan menghampiri Delia, Dia tampak sibuk menata bunga-bunga plastiknya.

“Anggreknya,Mbak. Satu berapa harganya?” Aku tersenyum sendiri, bagaimana mungkin Delia tak menolehku. Dia asyik dengan bunga-bunga plastiknya.

“Oh, maaf. Anggrek 25.000 saja Ma…Mas Haris ‘kan?” mata cokelat itu  berbinar lagi!

Aku tersenyum. Ya Tuhan, 2 bulan Aku tak melihat binar matanya, senyum manisnya!  2 bulan Dia tak memberiku kabar. Tunggu! Bukan Dia tak member kabar tapi Aku yang tak menanyakan kabar dirinya.

“Apa kabar,Deli? Lama nggak ketemu, tiba-tiba muncul di UNSRI. Selain Marketing Eksecutive ternyata punya bisnis lain juga di UNSRI.”

“Alhamdulillah, sehat. Deli juga kaget. Deli kuliah di USRI,Mas. Kemarin Cuti satu semester dan mau lanjut lagi. Berhubung awal masuk bulan Januari tahun depan, daripada nganggur saya jualan bunga. Mas ngapain di UNSRI? Ada yang wisuda ya?”

Iya, ada yang wisuda hari ini. Oh ya, berhubung kita ketemu disini, saya ingin ngobrol dengan Delia jam dua. Bisa? Boleh ajak teman kok.”

“Jam dua? Sepertinya bias,Mas.”

“Oke, Saya tunggu di samping rektorat jam dua nanti. Sampai ketemu nanti,ya. Mas permisi ada urusan mendadak.”

“oh iya,Mas. Insya Allah. Semoga anggreknya berkenan untuk yang wisuda.”

Aku tersenyum dan berlalu dengan perasaan berdebar. Aku bergegas menuju WC untuk memakai jubah serta toga. Ah, tak sabar lagi menanti jam dua siang..

Usai foto-foto dengan keluarga dan sholat Dzuhur. Aku duduk di pohon samping rektorat, menanti Delia. Delia, tak habis kata-kataku untuk mengungkapkan betapa Aku sangat mengagumi dirimu.

Jantungku semakin berdebar ketika Delia menyapa. Dia bersama seorang temannya. Kami pun berbincang dengan santai. Dia tidak berubah, masih santun.

“Wah, selamat sukses untuk wisuda Mas Haris. Manager Bank Mega yang baru melaksanakan wisuda.”

“Terima kasih,Deli. Mas benar-benar nggak nyangka kalau kita ternyata satu Almamater.”

“Takdir Allah siapa yang tahu?”

Aku menahan nafas sejenak, dan meluncurlah kata-kata itu..

“Deli, Mas Haris ingin jujur. . sebenarnya Mas Haris suka dengan Deli sejak pertama kita bertemu di pameran itu. Mas tahu bahwa Mas Haris bukanlah laki-laki terbaik. Mas juga bukan satu-satunya lelaki yang pernah mengenal dirimu. Tapi, kamu adalah satu-satunya wanita yang paling berharga dalam waktu yang Mas lalui. Bertemu dan mengenalmu, adalah titik balik perbaikan dalam hidupku. Aku, Delia..bolehkah Aku memintamu untuk menjadi istriku?”

Lega rongga dadaku. Adakah pertanda baik untukku?

“Mas Haris, Delia sangat menghargai perasaan,Mas. Tapi, sudah ada lelaki baik-baik yang meminta ke orangtua Deli. Dua minggu lagi Deli menikah. Insya Allah, calon suami Deli adalah lelaki yang sholeh dan mampu membimbing Deli menjadi lebih baik. Maaf, Mas.”

“Masih ada kesempatan untukku dua minggu lagi ‘kan? Sebelum ijab Kabul, bukankah Mas masih boleh memperjuangkan?”

“Mas mendo’akan pernikahan Deli gagal ya?”

“Sama sekali tidak, Delia. Mas hanya ingin menunjukkan kepada mu bahwa Aku sungguh-sungguh ingin menikah dengan mu,Delia.”

“Mas, jika dalam jual beli saja kita tidak boleh menawar barang yang sudah ditawar orang lain. Apa bedanya dengan pernikahan?”

“Delia…”

“Delia mendo’akan supaya Mas Haris menemukan wanita yang lebih baik dari Delia.”

“Jika ada wanita yang lebih baik untuk ku, maka Aku sangat berharap bahwa wanita itu adalah kamu,Delia.”

“Mas, maaf….”

“Aku akan menunggu sampai Aku bisa mendapatkan cintamu,Delia.”

“Mas, jangan menjanjikan sesuatu yang akan menyakiti diri Mas Haris.”

Delia menunduk, Aku melihat binar matanya meredup, berganti Kristal-kristal bening. Dia kemudian pamit dan meninggalkan ku dengan menahan air mata. Delia, sampai datang suatu hari dimana cintaku menemukan muaranya di hatimu, Aku tak akan meminjamkan walau sedetikpun untuk bermain-main dihati yang lain.

******

Pintu UGD dibuka, Aku mengusap air mata yang mengalir. Seorang Dokter keluar dari ruang UGD. Aku bergegas menghampiri.

“Dok, bagaimana keadaan Delia?”

Dokter itu menghela nafas. Ya Allah, selamatkan Delia..

“Ibu Delia masih kritis,Pak. Kecelakaan yang dialami sangat parah. Pendarahan akibat janin yang meninggal didalam rahimnya masih belum berhenti. Kita berdo’a saja semoga Allah memberi kabar baik meskipun kebaikan itu harus membawa Ibu Delia pada kondisi koma.”

Aku terduduk lagi, bayang-bayang Delia kembali melintas. Sikap santunnya, binar matanya, senyum manisnya. Allah,selamatkan Delia. Beri kesembuhan untuk Delia dengan kesembuhan yang hanya Engkau yang mampu memberikan.

___ooOOoo___

Oleh: Syiefa-uL QaLbi

CMO : Credit Marketing Officer

OTR   : Harga Cash Unit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s