“Kejutan”


Malam baru beranjak ketika adzan maghrib dikumandangkan dari Masjid Raya.  Jejak langkah bapak-bapak yang hendak ke Masjid  terdengar  jelas bak keributan ayam di subuh hari. Ada yang tergesa-gesa naik atau pun menuruni tangga, ada yang santai bercerita hingga ayunan langkahnya terdengar begitu jelas di telinga.

Permata mengintip dari lubang kecil dekat jendela, tampak seorang bapak-bapak berjalan menaiki tangga menuju Masjid Raya. Permata pun bergegas menuju kamar  mandi, wudhu. Setelah merapikan kerudungnya sejenak, ia pun menuju kamarnya untuk melaksanakan sholat.

Selepas sholat ia meraih Al-qur’an Syaamil warna merah muda dari atas meja. Lembar demi lembar ia baca, ia pun terlena dengan aktivitas tilawahnya.  Mendadak ia berhenti sejenak dari tilawahnya, pandangannya menatap langit-langit rumah. Terdengar helaan nafas beratnya.

Permata dan orangtuanya tinggal dalam rumah kecil di RT 02 kelurahan pemiri. Pintu rumahnya tepat menghadap tangga semen menuju Masjid Raya yang berjarak 100 meter dari rumahnya. Rumah yang ditempati orangtuanya ini bukanlah rumah sendiri melainkan hanya mengontrak saja.

Kerasnya kehidupan di kota Lubuklinggau sangat terasa bagi keluarganya yang perantauan dari Lampung. Seingat permata, dari kecil hingga usia 21 tahun ini mereka sudah lebih dari 10 kali pindah rumah kontrakan. Ayah dan Ibu nya membuka usaha fotokopi di depan Telkom, tak jauh dari Masjid Raya. Beruntung sewa ruko itu dibayar per lima tahun sekali.

Kerasnya perjuangan hidup itu pula yang menyebabkan kakak-kakaknya tidak melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Saat ini hanya Dia yang berkesempatan kulian di STKIP PGRI sambil kerja freelance di sebuah perusahaan sepeda motor. Adiknya Laki-laki dan kini tengah duduk di bangku SMP kelas X.

Kakak laki-laki tertuanya, menikah dengan mantan pegawai toko di pasar inpres. Kini mereka sudah memiliki dua orang anak dan mengontrak rumah di perumnas lestari.

Kakak kedua, perempuan. Menikah dengan anggota polres Lubuklinggau, 3 tahun lalu suaminya dimutasi kerja ke Polres Ogan Ilir. Mereka dikaruniai tiga orang anak dan belum memiliki rumah sendiri.

Permata tahu bahwa kakaknya tak mampu membantu secara ekonomi untuk kedua orangtuanya, ia pun bertekad kuat menyisihkan 25% dari gaji freelancenya untuk ditabung. Ia sangat ingin membelikan rumah untuk orangtuanya agar mereka tidak lagi memikirkan sewa rumah dan tidak lagi didzolimi oleh pemilik kontrakan.

Karena itu, Permata selalu menampik laki-laki yang berusaha mendekatinya. Bukan dia anti terhadap laki-laki, bukan. Dia hanya tidak ingin kedekatannya dengan laki-laki membuatnya lupa akan impiannya dan tidak mampu membantu perekonomian keluarganya. Ia takut orangtuanya tidak sempat merasakan tinggal di rumah milik sendiri.

Sebenarnya, ada beberapa laki-laki yang tetap gigih mendekatinya. Seorang yang paling gigih diantara lelaki itu adalah Hendri.

Tiba-tiba terbayang sosok Hendri. Hendri adalah kepala Cabang sebuah perusahaan Finance sepeda motor. Usia Hendri 10 tahun lebih tua dari Permata. Permata mengenal Hendri 6 bulan lalu. Ketika itu Hendri baru menjadi kepala cabang dan permata mengajukan komplain terkait perlakuan CMO Hendri terhadap konsumen sepeda motor yang ditangani oleh Permata. Sejak saat itu, Hendri sering mengirim SMS, menelpon ataupun mendatangi showroom tempat Permata kerja.

Suatu hari, Hendri menelpon Permata terkait berkas konsumen yang di survey oleh CMO-nya. Buntut dari menelpon ity, Hendri mengajaknya makan siang di Rumah Makan Jogja.

Permata ingat sekali, ia tak jadi menghabiskan ayam bakar penyetnya setelah mendengar perkataan Hendri.

“Permata, kamu tahu ‘kan saat ini umurku sudah 32 tahun? Aku sudah bisa dikatakan tua,Permata. Aku anak tunggal orangtuaku, kini tinggal ibuku seorang diri. Ibuku sudah tua dan beliau sangat ingin Aku segera menikah. Beliau ingin menimang cucu dariku.

Darah Permata seperti mengalir deras di urat nadinya. Ia takut dan bingung dengan arah pembicaraan Hendri.

“Permata, seandainya boleh aku meminta maka aku akan meminta supaya ibu mau menunggu beberapa tahun lagi sampai aku benar-benar yakin bahwa orang yang ingin ku nikahi telah benar-benar siap menerima keadaanku dan ibuku. Tapi Aku tahu Permata, umur seseorang tiada yang tahu.”

Sendi-sendi tulang permata seakan membeku. Dia tahu kemana arah pembicaraan Hendri sekarang.

“Permata..”

“Iya,Pak. Saya masih mendengarkan cerita bapak.”

“Berapa kali sih aku harus bilang? Cukup panggil Mas Hendri jika kita berada diluar kerja.”

“Oh,iya Pak.. eh maksudnya Mas Hendri. Maaf, Permata lupa”

Hendri menghela nafas. Mata elangnya menatap tajam Permata

“Permata, maukah kau menikah denganku?”

Permata tertawa kecil

“Mas Hendri, kalau bercanda jangan kelewatan dong.”

“Aku serius, Permata. Usia setua Aku ini sudah tak pantas lagi bermain-main dengan wanita apalagi pacaran. Lebih-lebih lagi bercanda tentang pernikahan. Aku sungguh-sungguh permata, Aku ingin menikah dengan mu.”

“Maaf, Pak. Sepertinya Bapak eh Mas Hendri cari wanita lain saja. Bukan Permata.”

Hendri kehilangan konrol kesabarannya..

“Kamu pikir cari istri gampang,Permata? Bisa gonta-ganti pilihan kayak beli HP?

Permata tak kalah emosi..

“Terus, mau kamu apa?”

“Ya, Kamu. Menikah dengan kamu, Permata”

“Maaf, Mas. Permata belum memikirkan hal itu,Mas. “

Sejak saat itu, Hendri sama sekali tidak menghubungi dirinya. Sebenarnya ada perasaan bersalah terhadap Hendri, tapi itu sudah berlalu dua minggu yang lalu.

Permata tersadar dari lamunannya, ia pun melanjutkan tilawahnya hingga selesai. Kemudian ia ke dapur menyiapkan makan. Sebentar lagi Adzan sholaat Isya. Biasanya setelah isya  Ayah, Ibu dan Adik laki-lakinya pulang dari toko.

Tiba-tiba pintu rumah diketuk. Permata bergegas membuka pintu. Tampak Ayahnya berdiri di muka pintu, Ayahnya tidak sendirian. Permata mencium tangan Ayah dan Ibunya, ia terkejut karena Hendri juga berdiri di samping Adiknya.

“Mari Masuk nak Hendri. Ya seperti inilah rumah kami, sederhana.”

Permata menoleh ke Ibu dan Adiknya, keduanya hanya tersenyum. Permata kemudian menyuguhkan minuman. Dari mana Mas Hendri tahu rumahku?

“Ibu, baiknya kita makan bersama nak Hendri.”

“Boleh,Pak. Kami siapkan dulu, ayo permata.”

Permata masih tak mengerti maksud kedatangan Hendri. Kebingungannya semakin menjadi ketika acara makan lebih banyak di selingi dengan wejangan dari  Ayahnya Permata serta cerita masa muda kedua orangtuanya.

Usai makan dan membereskan peralatan, ayahnya kembali meminta Permata dan Ibunya untuk duduk di ruang tamu. Hendri angkat pembicaraan.

“Permata, Aku sudah berbicara dengan orangtuamu tentang keinginanku.”

Permata merasakan matanya mulai pedih.

“Maukah kamu menikah denganku, Permata?”

Mata cokelat Permata mulai berkaca-kaca. Ada bulir hangat yang merembes di pipinya. Ia menoleh ke orangtuanya. Ayahnya hanya tersenyum dan Ibunya memeluk dengan mesra.

“Bapak tidak keberatan,Nak. Usia mu memang sudah pantas untuk menikah,Nak. Bapak dulu melamar ibu mu saat ibu umur 18 tahun.”

“Ta..tapi Permata,Pak…”

“Jangan khawatir Permata..”potong Hendri. “Aku sudah membicarakannya dengan orangtua mu. Kamu tetap Kuliah dan tidak lagi bekerja Freelance. Sebagai ganti pekerjaannya, Permata yang bertanggung jawab atas Nurseri Mas Hendri yang di Taba Pingin itu. Bapak, Ibu, dan Adik nanti pindak ke depan SMPN 1. Aku membelinya sebagai hadiah pernikahan kita nanti. Cukuplah kamu menjadi istriku yang solehah.”

Lagi-lagi Permata dibuat kaget. Dari mana Mas Hendri tahu bahwa aku ingin membeli rumah untuk orangtua ku?

“Permata juga tetap boleh membantu ayah dan Ibu setelah kita menikah nanti. Ibu Mas Hendri juga pasti senang kalau memantunya tetap perhatian dengan orangtuanya”lanjut Hendri.

Permata menunduk..

“Apalagi yang kau risaukan,Nak?” Tanya Ibunya.

“Nak, bukankah tidak baik menolak seorang laki-laki baik yang datang melamar?”Ayahnya menimpali.

Permata menangis tersedu-sedu di pangkuan ibunya. Ia tak tahu lagi harus menjawab apa. Tiba-tiba HP-nya bergetar.

SMS dari adiknya sendiri,”Slmt ya Kak Ata. Akhirny, Adk punya kk ipar lg. Oh y kak Ata, Adk gx sngja wktu itu bc diary kak Ata. Kk sih pake lp nroh di kmr lg,jd ke bc deh..hehee.

Permata mengusap air matanya.

“Adik apain diary kakak?” rajuk Permata

“Kami baca berdua,Kak. Adik sama Mas Hendri. Semuanya loh kak, semuanya…”

Permata merengut, rona pipinya bersemu merah.

“Nak Hendri, bapak ke Masjid Raya dulu. Kasihan Penghulu sama Pak RT kalau kelamaan menunggu.”

“Saya ikut,Pak.”

Permata semakin tersipu malu, ibunya memeluk dengan penuh mesra.

******

                                                                                                                Pasar Pemiri, 11-12-12

                                                                                                                Syiefa_uL QaLbi

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s