Cerita Hari Ini: Bahwa Pertolongan Allah itu Begitu Dekat


Bismillah….
Alhamdulillah, hari ini satu-per satu urusan yang menjadi fokus selama di Inderalaya sedikit demi sedikit sudah menemukan titik terang. Ehm, saya punya kisah tersendiri terkait urusan saya ini. Selama tiga hari ini, saya tidak bisa berhenti untuk bersyukur dengan banyaknya pertolongan yang Allah berikan terhadap saya. Alhamdulillah, saya benar-benar merasakan manfaat yang besar dari mengucapkan dzikir istighfar.
Yupz, terus terang urusan yang sedang saya hadapi ini lumayan berkaitan dengan yang namanya kekuatan ruhiyah, dan saya merasa bahwa tidak ada yang bisa melepaskan dan memberi kekuatan ruhiyah kepada saya selain Allah subhanahu wata’ala. Benar-benar merasakan betapa dekatnya pertolongan Allah, dengan senantiasa dzikir dan berdo’a dengan penuh pengharapan.
Hm, saya ceritakan sedikit tentang salah satu pertolongan yang Allah berikan kepada saya. Ceritanya gini, saya mendapatkan amanah untuk menjadi guide salah satu calon mahasiswa baru asal jambi. Nah, meskipun sudah 3 tahun berada di Inderalaya saya jarang sekali keliling kota palembang dan sekitarnya. Objek yang familiar untuk saya hanya kampus dan lingkungan di sekitar kosan saya. Jadi, trnyata saya harus menjemput Calon Maba tersebut di Loket terakhir bus Indonesia Mulia Indah (IMI) di wilayah palembang.
Nah, saya terus terang saja nggak begitu paham dengan palembang, alhasil setiap saya mempunyai kenalan yang berasal dari Jambi selalu saya tanyakan dimana loket IMI. Tanya-tanya akhirnya saya dapat clue kalau loket IMI ada di arah KM. 12 deket tempat yang banyak mobilnya. Jadi, dengan modal bismillah saya meluncur ke arah KM.12 dengan menggunakan Bus KM 12. Sepanjang perjalanan hati tidak bisa lepas dari mengucap istighfar, saya teringat perkataan Murobbiyah saya bahwa Istighfar itu bisa membuka pintu pertolongan Allah. Di dalam hati saya berkat,” Ya Allah, umi benar-benar nggak tahu dimana loket IMI. Umi Cuma memohon pertolongan engkau Ya Allah, jika hati hamba resah dan ingin segera turun maka hamba berharap tempat itu adalah loket terakhir bus Imi.”
Dengan lancangnya bus terus berjalan, tidak perduli apakah penumpang penuh sesak apalagi sekedar mempertimbangkan keresahan hati saya. Makin lama saya makin resah, selain resah karena tidak tahu dimana tempat tujuan saya juga resah karena uang kembalian ongkos belum juga diberikan oleh kernet bus nya. Istighfar tidak bisa lepas dari hati, saya memberanikan diri untuk meminta uang saya. Kemudian terpekur lagi menatap jalan sambil terus beristighfar. Entah mengapa saya kemudian refleks terkejut dan menyetop jalannya bus dan saya turun. Sebenarnya saya khawatir bahwa saya turun ditempat yang salah, kemudian saya melangkah dengan optimis. Satu, dua langkah kemudian saya melihat bus IMI parkir. Antara berani-berani campur harap-harap cemas saya mendekat, ada dua bus yang tengah parkir. Bodohnya saya, saya benar-benar malu untuk bertanya. Semakin lama celingukan nggak jelas maka semakin malu diri saya, kemudian saya bertanya kepada seorang bapak-bapak yang tengah berdiri tidak jauh dari lokasi tempat saya turun.
Singkat cerita, saya duduk didepan tempat tersebut dan Alhamdulillah itu loket terakhir bus IMI berhenti. Ya Allah, terima kasih…… hanya hamdalah yang kemudian terus mengalir bersamaan dengan membuncahnya perasaan saya.
Pertolongan Allah tidak hanya sebatas itu, pertolongan-pertolongan lain juga saya peroleh termasuk hari ini. Di tengah kecemasan bertemu dengan dosen pembimbing yang tidak kunjung datang, Allah menolong saya dengan seorang bayi berumur 4 bulan. Entah mengapa tiba-tiba adik bayi itu menangis, dan refleks saja saya mengajak adik itu untuk diberikan kepada ibunya. Ketika saya berjalan ke lantai dua untuk menemui sang ibu bayi (Salah satu dosen saya, anaknya yang bayi ditinggal di ruang administrasi karena tidur) tangis bayi itu mendadak diam dan saya benar-benar menikmatinya. Ketika Ibu bayi tersebut bermaksud untuk mengambilnya, rupanya bayi itu enggan bersama ibu nya. Ya Allah, seolah bayi itu tahu bahwa saya perlu seseorang untuk menumpahkan segala kegelisahan hati saya bahkan saya sendiri ingin menangis karena hampir-hampir tidak sanggup untuk menahannya. Yaah, bermain dan mengobrol dengan hati bersama adik bayi itu benar-benar memberikan ketenangan tersendiri untuk saya.
“Ya Allah, kini hamba tahu bahwa pertolongan dari engkau itu memang tidak langsung datang dari langit, akan tetapi jika engkau berkenan untuk menolong maka perantara datangnya pertolongan itu benar-benar begitu dekat dan begitu indah serta menyentuh ke dalam bening sanubari. Maha suci Engkau Ya Allah dengan segala kekuasaan Engkau di seluruh langit dan bumi beserta seisinya.”
Pojok Inspirasi: Bumi Allah yang Lapang
Syiefaulqalbi@gmail.com
17072012 15:17

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s