MUDIK????


Bismillah..

Hm, sekarang pembahasaan kita adalah tentang Mudik. Mudik atau bahasa lainya pulang kampong, atau liburan di kampong, atau….

Di penghujung semester genap ini waktu untuk liburan memang lebih panjang dari semester ganjil, teman-teman di UNSRI pun sudah banyak yang mudik. Bahkan yang mengambil semester khusus juga menyempatkan diri untuk mudik terlebih dahulu. Lantas bagaimana dengan saya? Apakah saya juga akan mudik atau tetap tingal di kampong orang?

Hm, saya pribadi tidak mengambil Semester khusus, walaupun jadwal liburan kali ini ada KKN (kuliah kerja nyata) tetapi saya belum mengambil itu. Yaa bisa dikatakan selama liburan ini praktis saya tidak mengikuti kegiatan akademik. Liburan semester genap tahun lalu saya juga tidak mengambil kegiatan akademik kampus tetapi saya mengisinya dengan kursus bahasa inggris, tapi sampai hari ini planning untuk ambil kursus atau kegiatan lain juga belum ada, intinya peluang besar yang ada dihadapan saya adalah MUDIK.

Bagi saya, mudik bukanlah perkara pulang kampong biasa, sebab sebagai seorang aktivis dakwah tentunya dimanapun kita berada kita tetap harus melibatkan diri dengan aktivitas dakwah. Jujur saja, saya masih ragu-ragu untuk mudik dan untuk tetap tinggal di Inderalaya ini. Mengapa? Banyak sekali pertimbangan – pertimbangan yang mau tidak mau harus juga dipikirkan. Agenda-agenda dakwah, agenda-agenda organisasi secara tidak langsung juga harus kita pikirkan. Saya tidak sepakat jika ada aktivis dakwah yang berkecimpung di organisasi mengatakan seperti ini,”Aku mau mudik, pokoknya aku nggak mau tau mau ada apa atau kegiatan apa, aku mau mudik. Selama mudik aku nggak mau diganggu dengan kegiatan kampus.” Loh, emang ada yaa aktivis yang seperti itu? Oh ada frend, tapi kita juga nggak bisa serta merta menyalahkan, mungkin itu hanya tentang pembahasaan saja.

Sekedar mengingatkan diri sendiri, bahwa meskipun kita mudik tetaplah untuk terus mengkawal dan membersamai terlaksananya aktivitas-aktivitas dakwah dan aktivitas organisasi yang kita di amanahkan didalamnya. Sebab proyek pencerdasan mahasiswa dan proyek besar dakwah adalah satu kesatuan tubuh yang tidak bisa kita lepaskan begitu saja sebagai seorang aktivis dakwah yang latar identitas nya mahasiswa.

Saya teringat perkataan salah seorang pimpinan saya terkait fenomena izin mudik:

“Saya pribadi tidak masalah kalian mau mudik, pertama kalian sudah dewasa pastinya tahu mana yang baik dan mana yang lebih penting dan berkaitan dengan kemashlahatan orang banyak. Tidak masalah kok mau mudik, asalkan kalian bisa memastikan ada pengganti kalian disini yang bisa membuat agenda-agenda kita berjalan seperti biasanya.”

Nah, inilah yang sebenarnya menganjal dipikiran saya siang dan malam, tidak bisa dipungkiri bahwa ketika saya dikampung dengan segala keterbatasan akses informasi, saya merasa jarak saya dengan aktivitas yang saya tinggalkan di kampus bagaikan dua alam yang berlainan. Rasa gelisah dan grasak-grusuk akhirnya melanda, dan biasanya saya tidak betah selama mudik, maunya balik lagi ke indralaya.

Akan tetapi, sepertinya liburan kali ini saya benar-benar harus mudik deh.. ini pertimbangan mengapa saya mudik:

  1. Saya kangen berat dengan ibunda saya, bahkan saya sudah tak bisa membayangkan wajah beliau, makanya saya harus mudik.
  2. Selama satu semester ini saya merasa banyak sekali kesalahan yang saya lakukan terhadap keluarga saya (ibu dan adik-adik saya), saya ingin mendapatkan kembali kepercayaan diri yang selama ini entah bersembunyi dimana, makanya saya harus mudik.
  3. Semester tujuh nanti, aktivitas akademik saya sudah sedemikian padatnya, penghujung usia di kampus, makanya saya harus meminta restu dari ibu dan ziarah ke makam bapak.
  4. Di kampus, agenda-agenda yang akan dilakukan dalam kurun waktu terdekat adalah pelayanan, maka untuk merefresh kembali suasana hati dan semangat saya harus pulang dulu ke rumah. Saya tidak bisa bohong, diam-diam hati saya juga iri melihat teman-teman saya yang leluasa mudik kapanpun mereka mau.
  5. Saya praktis ‘nganggur’ di space waktu selama liburan hingga lebaran, kalau saya tetap di inderalaya maka cost saya lebih besar. Makanya harus disiasati dengan mudik.
  6. Keluarga saya berulangkali menanyakan kapan saya pulang, yaa memang sih kalau tidak sedang libur panjang saya tidak bisa mudik. Makanya saya menyempatkan HARUS MUDIK!!!
  7. Pada intinya, saya sendiri ingin mudik. Hehehe..

Hm, memang yaah perkara mudik bagi orang rantauan seperti saya sebenarnya adalah perkara hati. Akan tetapi, kita juga tetap harus bijak dengan semua hal, nggak bisa kita memutuskan segala sesuatu hanya berdasarkan perasaan saja, ada pertimbangan-pertimbangan lain yang harus juga kita pikirkan.

Nah, ini tentang saya nih, Kalau teman-teman sendiri gimana? Apa yang teman-teman pertimbangkan ketika dihadapkan pada pilihan untuk mudik dan aktivitas kampus?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s