Provider Selular: An Phenomenom of Activist


 

 

 

Ketika tengah asyik berkutat dengan buku “Parenting” yang baru separuh dibaca, handphone saya bordering, “New Message SIM  1” :

Assalamu’alaikum cantik, apa kabar?” saya tersenyum-senyum membaca pesan itu, jari-jari beraksi.

Always on happiness !! Mb Apa kabar?” , Send by SIM 2.

hey, ganti kartu juga ya dek?

hehehe, ganti sih nggak mbk. Siyasatud dkwah mbk, kepentingan komunikasi and forward info2 kegiatan mbk. Kalau nggak disiasati gini khwtir membebani dan mlh jadi bhn gerutuan qt sbg aktivis dkwah, ntar nggak berkah lagi.

yooo,yoo. Mb setuju cantik, mbk juga punya nomor dengan provider ini. Handphone baru ya dek?

Oke.. stop yaa membahas isi sms saya. Sebenarnya bukan isi sms yang penting, tapi ada satu fenomena yang berkaitan dengan isi sms tadi. Berhubung ini blog saya, nggak apa-apa deh kita nyebut merek provider. Hehehe..

Beberapa waktu yang lalu, salah satu provider besar di negeri ini melakukan anniversary yang ke-17. Beredarlah pesan-pesan ucapan anniversary dari para penggunanya dengan dalih pengen dapat bonus ulsa (ahahaha, kasihan yaa yang pada forward message). Akan tetapi, pada hari itu juga saya menyadari satu hal : Ada yang berubah nih dari layanan sms premiumnya.

Sudah umum lah yaa kalau setiap kita memilih selular card itu melihat dari fitur dan layanan yang ditawarkan, termasuk  di dalamnya adalah sms premium. Apa yag jadi fenomena? Rupa-rupanya banyak teman-teman aktivis yang menggunakan provider yang merayakan anniversary ke-17 ini. Contoh nya adalah saya, saya sering mengatakan bahwa saya adalah pelanggan setia provider ini. Mulai dari awal menggunakan dan mempunyai Hp, saya nyaman dengan provider ini. Belakangan keluarga pun seluruhnya menggunakan provider ini, tak urung pula kedua simcard  dengan provider yang sama, modem juga saya memilih dari provider ini. Setia banget kan?

Sebenarnya, dua nomor dengan provider yang sama juga merupakan bagian dari siasat saya sebagai mahasiswa. Satu nomor untuk ngirim-ngirim pesan dan yang lain untuk nelpon dan internetan. Belakangan, saya lebih sering berkirim pesan ria dibandingkan aktivitas menelpon yang menyebabkan satu nomor saya tidak terfungsikan.

Bertepatan pula dengan perubahan layanan sms premium yang ditawarkan oleh provider saya, mulai otak ini berpikir: kalau kemarin 1000 sms premium untuk all operator sekarang 980 sms premium untuk operator yang sama serta 20 sms premium untuk operator lain.

Ini yang saya lakukan:

  1. Saya survey langsung buku telpon saya, mengklasifikasikan provider apa yang paling banyak digunakan terutama oleh teman-teman aktivis.
  2. Setelah survey, saya melakukan kalkulasi matematis dengan perbandingan provider lama dan kemungkinan menggunakan provider baru.

Hasilnya:

  1. 45% provider yang sama (As dan simpati) dan 55% provider yang berbeda.
  2. Sebaran 45% di dominasi oleh kartu As (saya pakai As), akan tetapi sebaran 55% hamper merata pada masing-masing operator lawan saya (Indosat 25%, XL 23% dan yang lainnya tersebar di provider lain hingga 55%). Jika tetap menggunakan kartu As maka saya akan menanggung tariff normal ke operator lain hampir 98%, akan tetapi jika saya mengganti kartu maka saya akan kehilangan relasi saya yang sudah terlanjur tahu nomor As saya (nomor yang saya publikasi juga nomor As saya)

Kesimpulan:

  1. Dengan memanfaatkan fitul dual sim, maka salah satu karu saya buang mengingat efisiensi dan efektivitas pemakaian.
  2. Memilih kartu dari provider lain yang lebih besar persentase penggunaannya serta kenyamanan layanan yang ditawarkan serta kemudahan akses signal didaerah saya yang masih transmgrasi.

Saran:

  1. Nomor yang dipublikasi secara luas dipertahankan.
  2. Melakukan pembelian kartu perdana.

Hasil:

  1. 0852-6835-5776 tetap menjadi nomor favorit saya,
  2. Nomor lain yang saya pilih dari provider indosat.

 

Lantas apa hubungannya dengan aktivitas dakwah kita? Naah, ini dia yang harus kita pahami.  Layanan sms premium menjadi fitur favorit aktivis, karena sarana-sarana komunikasi saat ini tidak hanya paper-based melainkan sudah merambah pada IT-based. Silahkan dihitung saja, jika harus memforward sms keseluruh kader maupun teman-teman target kegiatan kita, tentunya lebih dari 100 nomor kontak bukan? Jika per satu kali sms tarifnya Rp.150 maka sekali forward sms bisa menghabiskan 15000 bukan?  Saya teringat perkataan seorang teman yang mengatakan bahwa dalam semalam ia menghabiskan pulsa 25.000 untuk satu kali forward pesan. Jika kocek kita untuk pulsa perbulannya Rp.50.000-Rp.10000 mungkin tidak terlalu berat dengan tarif yang seperti itu. Akan tetapi, tidak semua mahasiswa kaya bukan? Bukankah keperluan mahasiswa juga lebih banyak, beli buku, fotokopi diktat dan lain-lain, maka jika tidak arif memahaminya [khawatir] akan menimbulkan semacam keluh kesah. Contoh fenomena keluh kesah:

Dek, pulsa mb abis nih, gimana dong? Mbk nggak punya gratisan sms lagi”

“Mbk pake kartu As ya?”

“Iya, dek. Tadi udah forward sms info kegiatan LDK besok, eh taunya tempat kegiatan berubah. Abis pulsa mbk dek, tadi sih nggak langsung di fixkan tempat acaranya..”

Nah lo, kalau udah gitu gimana coba? Saya sih simple aja, hati kita mudah sekali berubah-ubah suasananya, kita juga manusia yang sering berkeluh-kesah. Walaupun ada yang mengatakan,”Makanya aktivis itu harus kaya, kebutuhan pulsa untuk forward aja udah pasti banyak”, saya anggukkan hal itu akan tetapi untuk menghindari gerutuan-gerutuan kecil yang apabila diakumulasikan bisa menghambat kelancaran amanah dakwah di organisasi kita masing-masing ada baiknya menggunakan cara seperti yang saya gunakan: Hijrah provider! Tapi, harus diingat juga, kita menggunakan teknologi semata-mata sebagai sarana memperlancar agenda-agenda dakwah, maka fenomena inipun harus disiasati agar kita tidak terjebak kedalam keluh kesah ataupun menjadi korban iklan layanan provider.

“Tidak ada provider yang benar-benar gratis dan tidak ada layanan yang benar-benar unlimited, semua sudah ada perhitungannya kok, nggak ada yang 100% unlimited” begitulah kata seorang karyawan tempat saya membeli provider selular.

Akhir kata, ariflah menyikapi segala sesuatunya. Sebagai aktivis dakwah maka kita juga harus luwes dan mampu memperhitungkan segala sesuatunya. Oke????

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s