Behind Scene: Training Kehumasan KAMMI Komisariat Al-Quds Unsri


Alhamdulillah, hari ini (Ahad, 10 Juni 2012) saya dan 30 orang lainnya berkesempatan menjadi peserta Training Kehumasan yang diselenggarakan oleh KAMMI Komisariat Al-Quds UNSRI. Menurut penuturan dari koordinator acara, Mayang Indah (FKIP Sej’11) agenda ini dikemas sebagai lanjutan dari Training Jurnalistik yang telah diadakan pada tanggal 5-6 Mei 2011 lalu juga sebagai sarana pendobrak motivasi untuk menumbuhkan semangat menulis kader-kader KAMMI yang nantinya akan secara rutin dikelola dalam sebuah agenda bernama “Gerakan KAMMI Menulis”. Agenda training ini dimulai pukul 11.00 WIB, seyogyanya acara dimulai pada pukul 09.00 WIB akan tetapi pemateri mengalami keterlambatan sehingga selama 2 jam kami disuguhi panitia dengan Nonton Bareng Film “Bahwa Cinta Masih Ada” (hayoh, nyambung nggak niih ama agenda training? ).

Tak sabar menanti pemateri, akhirnya para punggawa Al-Quds unjuk kebolehan retorika, tausiyah demi tausiyah meluncur dari para punggawa dan berakhir dengan senandung nasyid “Kepada Mujahid (Izzis)” yang kami lantunkan bersama menyambut kedatangan pemateri. Ketika pemateri telah menggenggap penuh mimbarnya, beliau melontarkan sebuah cerita kepada kami. Seperti ini cuplikannya…

“Suatu pagi, seorang anak kecil sibuk mengenakan kaos kakinya. Ketika sampai pada kaki yang kedua dia berteriak,”Papa, aku berangkat ke sekolah ya!” Dijawab oleh sang ayah,” Iya sayang, hati-hati ya.” Kemudian sang anak kembali berteriak,”Assalamu’alaikum papa” dan bergegas berlari ke dalam bus. Ia duduk disamping sopir bus, kemudian sopir bus pun menoleh kepada anak itu dengan tersenyum dan berkata kepada penumpang bus lainnya,”Ini anak saya”

Selanjutnya, pemateri bertanya kepada kami,”Ada yang bisa menjelaskan maksud dari cerita ini?”

Hening, semua peserta berkutat dengan pikirannya masing-masing termasuk saya! Cerita tersebut kemudian diulang sampai tiga kali dengan pertanyaan yang sama. Saya menjawab (dalam hati),” Saya bingung kenapa tiba-tiba sopir itu mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya, tapi saya seperti ingat satu scene dari drama korea dengan pembukaan cerita seperti ini. Tapi apa maksudnya?” Hehehe, jadi ketahuan kaan kalau saya suka drama korea..

Mungkin pembicara kasihan dengan wajah-wajah kami yang memelas, bingung dan tanpa dosa. ” Kalian bingung sebab kalian pasti berpikir bahwa sopir itu adalah seorang laki-laki, kalian tidak berpikir bahwa sopir itu adalah Ibu dari anak tersebut. Assalamu’alaikum wr,wb” kami pun menjawab salam beliau dengan semangat dan anggukan-anggukan kecil disertai senyuman. Boleh juga trik penguasaan audiens nya yaa??

Oke, nggak afdhol rasanya jika saya tidak memperkenalkan pemateri kami. Jika pada saat Training Jurnalistik lalu yang menjadi Pemateri Bang Inggar Saputra (Humas PP KAMMI) dan Pak Agus Srimuddin (Wapimred SUMEKS) maka Training Kehumasan ini di isi oleh Kak Beni Rahmat,S.Hum (Ketua KAMMI UGM 2004-2005). Beliau datang bersama istrinya, Mbak Martha (Bupati BEM PSIK UNSRI 2010) yang juga staff bidang II KAMDA Sumsel.

Materi yang diberikan adalah Dasar-dasar Kehumasan serta Workshop Urgensi Kehumasan bagi pergerakan KAMMI. Materi yang beliau berikan tidak bertele-tele dan membuka cakrawala berpikir kami yang lebih luas, memandang KAMMI dan UNSRI dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya (Testimoni saya ini mah..).

Ternyata kehumasan itu adalah interaksi yang melibatkan opini publik sebagai inputnya sehingga timbul pengertian dan muncul motivasi serta partisipasi publik dan berujuk pada good will publik terhadap KAMMI. Semakin terbuka paradigma saya bahwa Humas adalah profesi profesional yang sudah selayaknya dimiliki oleh Kader-kader KAMMI terutama KAMMI Al-Quds.

Saya pribadi sangat merasakan manfaat dari training ini, jujur saya juga masih ‘buta’ dalam hal kehumasan baik sebagai lembag maupun sebagai individu. Saya bahkan berulang-ulang membaca-menamatkan-mencerna-berdialog ria baik dari materi training jurnalistik maupun dari buku “Humas Gerakan” akan tetapi banyak pertanyaan pertanyaan yang masih tidak mampu saya pecahkan secara pribadi, dan saya berani mengatakan bahwa satu per satu pertanyaan-pertanyaan itu mulai terjawab hari ini.

Di sela-sela aktivitas training, saya menyempatkan diri untuk kemudian memutar ulang perjalanan hidup saya dalam dunia keorganisasian. Akhirnya, saya mendapat satu kesimpulan besar untuk diri saya sendiri:

“Bahwa terkadang kita terlalu cepat puas pada apa yang telah kita lakukan dan yang kita anggap sukses dan berkelanjutan, padahal sejatinya kesuksesan itu tidak cukup sampai pada batas-batas itu. Tidak jarang jika kemudian saya merasa nyaman dengan semua keadaan dan akhirnya memilih mematikan kreativitas sendiri. Indikator-indikator yang saya lakukan sifatnya hanya keberhasilan jangka pendek dan saya belum sampai pada tahap memulai gebrakan inovasi terbaru dengan indikator keberhasilan yang jangka panjang.”

Terakhir, harapan saya setelah mengikuti kegiatan ini saya mampu konsisten menulis. Menulis apa saja yang ingin atau tidak ingin saya tulis, mengelaborasikan tulisan-tulisan saya dan memonitoring apa-apa yang telah saya tulis. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa saya harus menambah koleksi bahan bacaan dan referensi bagi otak dan spiritual saya.

 

Sebelum acara mulai, afdholnya foto-foto dulu.. hehehehe…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s