An Inspiration from my Student #2


Setengah jam lebih saya berkutat dengan lembar jawaban mahasiswa saya, tiba-tiba rekan saya mengetuk pintu ruangan. Saya mempersilahkan masuk dan menatapnya sumringah.

“ Mi, aku mau cerita tentang mahasiswa ku”

“Iya, ceritalah. Sebagai sahabatmu aku siap mendengarkan seluruh cerita mu”

“Kemarin aku memanggil beberapa mahasiswa saya terkait kegiatan fieldtrip mereka bulan Januari tahun depan.”

“Lalu?”

“Aku memanggil mereka sebab aku tahu mereka adalah aktivis organisasi mahasiswa, salah satu diantara mereka pernah menjadi sebab kegiatan fieldtrip batal total tahun lalu. Mereka termasuk orang yang memiliki pengaruh di depan teman-temannya. Aku khawatir kejadian tahun lalu terulang kembali dan aku menanggung malu dengan P.O yang kemarin sempat bekerja sama untuk kegiatan fieldtrip ini.”

“Sepertinya menarik, lantas apa yang kamu lakukan?”

“Aku mengancam mereka dengan nilai E jika mereka tidak ikut. Salah satu dari mereka ada yang menangis dihadapan mataku. Dia berkata kepadaku, ibu beri saya waktu. Emosiku naik dan aku bilang ke mahasiswa itu, dia pikir waktu akan menurut sesuai kehendaknya dan aku juga menegaskan bahwa untuk masalah ini kita tidak bisa kompromi dengan kehendak dia. Anak itu keluar masih dengan mata yang berkaca-kaca.  Tapi, aku merasa bersalah mi dengan anak itu..”

“Mm, karna sudah membuat dia menangis?”

“Nggak, bukan itu.”

“Lalu?”

“Esok harinya, anak itu mengatakan kalau dia tidak tega meminta bayaran uang fieldtrip kepada orangtua nya. Aku baru tahu bahwa dia membiayai kuliah dengan uang hasil usahanya sendiri, ia meminta tangguhan waktu kepadaku hingga bulan depan. Lantas aku bertanya, apakah dia benar –benar sanggup membayar pada tanggal yang dia tentukan dan ia menjawab dengan senyuman yang sulit aku terjemahkan maksudnya.”

“Inspiring, sis !! Jarang loh ada mahasiswa yang kayak gitu. Apalagi dia seorang aktivis mahasiswa, aku dulu tidak sanggup 100% swadaya.”

“Iya,mi.  Setelah mendengar ceritanya aku juga menangis, teringat perjuangan aku dulu sewaktu kuliah. Aku swadaya tapi aku nggak kayak kamu, aktivis mahasiswa. Aku teringat anak-anakku, aku melarang mereka berorganisasi dan aku memanjakan mereka dengan uang yang aku kirimkan setiap bulannya. Aku malu, pantas saja dia mendapat tempat dikalangan teman-temannya.”

“Lantas apa yang akan kamu lakukan kepada mahasiswa mu itu,sis?”

“Aku menanti kebenaran ucapannya bulan depan, jika ia sanggup membayarnya maka aku tidak akan menyulitkan dirinya lagi.”

Saya hanya mampu tersenyum, memandang bahagia pada rekan ku ini. Hm,, apa kabar suami dan anakku ya?

@Bumi Allah

Umi Qona’ah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s