An Inspiration from my Student


Siang itu, pukul 13.00 WIB bakda sholat dzuhur saya kembali ke meja kerja saya. Tampak tumpukan kertas ujian berceceran di atas meja.

“Hm,, ”  kursi sofa ini serasa tidak lagi empuk ketika saya membaca lembar jawaban mahasiswa saya. saya terhenyak, berani sekali dia melanggar ketentuan saya.

“Saya tahu bahwa konsekuensi yang harus saya terima ketika saya memutuskan untuk mengambil mata kuliah metodologi penelitian dalam sks saya. Seorang peneliti adalah seseorang yang selalu bertahtakan kegiatan ilmiah, luaran minimal yang harus timbul dalam diri saya sebelum menjadi seorang peneliti profesional adalah sikap ilmiah.

Saya bahkan menyadari keterbatasan kapasitas saya, terutama dalam mata kuliah ini. Saya mengerti bahwa mempelajari metodologi penelitian berarti saya harus menguasai  penelitian itu sendiri dan penyusunan laporan penelitian.

Selama 12 kali pertemuan untuk mata kuliah ini, saya hanya menguasai 2 hal saja: Teknik memilih masalah dari objek yang akan di teliti dan penggunaan kalimat efektif,EYD dan konsistensi menulis.

Saya tidak membeli buku ajar yang ibu sarankan, saya tidak terlalu miskin jika ukuran yang dipakai adalah jatah mengisi pulsa akan tetapi alokasi uang itu saya gunakan untuk sewa rental komputer, saya memilih menulis opini-opini saya, menjadi jurnalis lepas dan juga menjadi editor lepas sebuah penerbit buku. Saya lebih banyak belajar di luar sehingga soal-soal teksbook yang diujikan benar-benar tidak saya mengerti.

Sungguh saya belum siap untuk ujian hari ini ibu, sebab saya benar-benar tidak menduga bahwa soal yang akan ibu ujikan adalah soal teksbook dari buku ajar yang ibu sarankan. Jika ibu berkenan, saya bersedia untuk diuji ulang pada tanggal 12 juni.

Saya benar-benar tidak habis pikir, bertahun-tahun saya mengajar mata kuliah ini baru kali ini saya mendapatkan lembar jawaban yang aneh seperti ini. Saya menghargai sikap ilmiahnya, sebab bagi saya ini adalah data yang menarik.

Sejatinya lembaran soal yang saya beri tidak ubahnya seperti seorang peneliti yang tengah membagikan angket kepada respondennya, saya pikir jawaban “unik” mahasiswa saya tersebut cukup representatif sebab boleh jadi mayoritas mahasiswa saya sama seperti dirinya, tidak memahami hakikat metodologi penelitian itu sendiri.

Ibu, saya tahu bahwa saya belum representatif sebagai data ibu, jika saran saya diterima mohon ibu untuk melakukan perlakuan ulangan atau dapat menjadikan saya sebagai variabel terikat dari penelitian ibu tentang mata kuliah metodologi penelitian ini.”

“Yah, saya akan melakukan perlakuan baru. Ah, alangkah baiknya jika ujian ini menggunakan metode Rancangan Split-split Spot. Ibu menantang kesiapan mu,nak”

Saya kembali memeriksa hasil ujian mahasiswa yang lainnya, tapi nilai yang saya berikan pada akhirnya menjadi data awal untuk perlakuan saya selanjutnya. That’s very inspiring !!

6 Juni, disela-sela aktivitasku sebagai dosen tamu mata kuliah Metodologi Penelitian
Teringat ujian metode ilmiah 10 tahun yang lalu.

Prof. Dr. Umi Qona’ah,S.P,M.Sc

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s