Seputar Jam Syar’i


Bismillahirrohmanirrohiim..

Ehm, tulisan ini dibuat untuk mengobati kegundahan hati saya terkait letupan-letupan atau celetukan para Akhwat terkait dengan jam syar’i. Saya menemukan perkataan ini mulai dari aktivitas sehari-hari hingga ke agenda Dauroh, yang kedua lebih banyak dan kita akan sama-sama mempelajari ini.

Oke, kita mulai dari yang sederhana:

1. Apa sih jam syar’i itu? Adakah dalil nya (dari Al-qur’an ato dari Al-Hadist)?

2. Jam berapakah jam syar’i itu? bagaimana dengan agenda Dauroh-dauroh, masih berlakukah jam syar’i?

yuukk kita jawab satu-satu, siap??

Pertama, Jam syar’i itu adalah jam atau waktu-waktu tertentu yang mengharuskan seseorang atau banyak orang menghentikan aktivitas duniawi (biasanya yang banyak interaksi ikhwan-akhwat). Biasanya yang paling di titik beratkan pada jam syar’i ini adalah kaum-kaum hawa. Alasannya mengapa akhwat (Kaum Hawa)? Sebab kaum hawa ini rentan sekali dengan yang namanya fitnah, Fitnah keamanan maupun fitnah berkhalwat (menyepi dengan  lawan jenis yang bukan mahrom). Dalil Jam syar’i ada ngak yaa?? Mmm, sepanjang saya bertanya kepada senior saya, browshing internet dan diskusi dengan teman sejawat, tidak ada dalil yang jelas mengatakan tentang hal ini baik di dalam Al-Qur’an maupun pada hadist-hadist. Lantas gimana? Penggunaan jam syar’i ini adalah untuk menjaga kaum hawa tadi dari 2 macam fitnah yang sudah saya sebutkan tadi.

Tentang Fitnah keamanan, saya comotkan dalil yang paling umum digunakan. Q.S Al-Falaq:3

لْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾

Artinya:

1.  Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,

2.  Dari kejahatan makhluk-Nya,

3.  Dan dari kejahatan malam apabila Telah gelap gulita,

4.  Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

5.  Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Secara asbabun nuzul ayat ini memang tidak ada kaitannya dengan jam Syar’i, akan tetapi secara maknawiyah ayat tentu kita bisa mengasah logika, emang ada apa kalau udah malem? korelasikan dengan kondisi saat ini, tentunya akan lebih baik dikorelasikan dengan sosbudkam daerah kita masing-masing.

Lanjut yaa, nah untuk Fitnah berkhalwat dengan lawan jenis:

Diriwayatkan dari Jabir bin Samirah r.a, ia berkata, “Umar bin al-Khattab berkhutbah di hadapan kami di al-Jabiyah, ia berkata, ‘Rasulullah saw. berdiri di tempat aku berdiri di hadapan kamu pada hari ini dan beliau bersabda, “Berbuat baiklah kepada sahabat-sahabatku, kemudian kepada orang yang datang sesudah mereka, kemudian kepada orang yang datang sesudah mereka. Kemudian akan tersebar kebohongan sehingga seorang bersaksi sebelum ia diminta untuk bersumpah. Barangsiapa yang meninginkan tempat di bagian tengah surga hendaklah ia mengikuti jama’ah. Karena syaitan bersama orang yang sendirian, terhadap dua orang ia agak menjauh. Janganlah salah seorang diantara kamu berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita karena syaitan adalah yang ketiga. Barangsiapa yang kebaikannya membuatkan gembira dan keburukannya membuatnya sedih, maka dia adalah mukmin,” (Shahih, HR at-Tirmidzi [2165], Ibnu Majah [2363] dan Ibnu Hibban [4576]).

Artinya:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.(Q.S An-Nur (24): 30)

Gimana nih, udah jelas belum? Oke, sebelum kita lanjut ke jawaban kedua, saya ingin mengatakan bahwa penggunaan jam syar’i itu disesuaikan dengan ‘urf atau adat yang berlaku di daerah kita masing-masing. Mari diambil contoh, Universitas Sriwijaya (yaa ngak mungkin laah saya memberi contoh kampus lain ^__^). Di Unsri, jam syar’i yang diberlakukan secara turun temurun adalah jam 21.00 WIB. Semua aktivitas pada jam tersebut harus selesai! Kondisi kekinian tentang sosbudkam Unsri Inderalaya, jika diatas pukul 21.00 WIB keamanan status diwaspadai,banyak maling berkeliaran!! Usut punya selidik, penggunaan jam syar’i ini pada mulanya untuk membatasi interaksi yang ‘berlebihan’ antara ikhwan-akhwat. Akan tetapi, di kemudian hari pemberlakuan ini telah diklarifikasi bahwa itu dilakukan semata-mata untuk menjaga batas-batas syar’i yang sering dilanggar oleh para aktivis dakwah. naah, ini yang saya maksud dengan ‘urf dan sosbudkam. ^__^

kedua, jam-jam syar’i setiap tempat pasti berbeda-beda, kembali lagi kepada kondisi setempat. Nah, pembatasan jam syar’i ini biasanya mengikuti kaidah pembagian jam ‘malam’ seperti berikut:

Saya copast nih bagian yang ini, dari blog harapancahayakemenangan.blogspot.com,gini..

Kita dapat mengambil definisi malam dari bab Sholat Tahajud yang sebaiknya dilakukan di 1/3 malam terakhir. Malam adalah waktu setelah matahari benar-benar terbenam. Biasanya ditandai dengan berakhirnya waktu sholat maghrib, atau awal waktu sholat isya. Dan berakhirnya malam adalah sesaat sebelum terbit fajar, atau menjelang sholat subuh. Secara umum, dapat kita ketahui bahwa malam itu berada dari jam 19.00 – 04.00 (9jam). Kemudian kita bagi waktu malam itu menjadi 3 bagian, yaitu:

·         1/3 malam pertama        : 19.00 – 22.00
·         1/3 malam kedua            : 22.00 – 01.00
·         1/3 malam ketiga            : 01.00 – 04.00
 

Nah, jika dikaitkan dengan cerita pada contoh saya tadi maka unsri masuk kategori yang keberapa yaa, yang jelas dari pukul 21.00 WIB – 05.00 WIB. Bagaimana dengan kampus kamu??

lanjut, untuk pertanyaan terakhir maka kita korelasikan dauroh itu dengan majelis ilmu.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”

Pada salah satu hadist, roslulullah mengatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib untuk muslim laki-laki dan perempuan. salah satu keutamaan dari menuntut ilmu seperti yang dijabarkan oleh Mu’adz bin Jabal.

Mu’adz bin jabal berkata,”pelajarilah ilmu, karena mempelajari ilmu karena Allah  itu mencerminkan ketakutan (khosyah), mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya untuk keluarga adalah taqarub. Ilmu adalah pendamping saat sendirian dan teman karib saat menyendiri”

Ada beberapa kategori ilmu yang wajib untuk kita pelajari (laki-laki dan perempuan):

1. Fardhu ‘Ain : Ilmu yang diwajibkan pada setiap individu untuk memilikinya. yang mencakup:

• Ilmu syar’i yang terdiri atas asas dasar: Kitabullah, Sunnah rosulullah, Ijma’ul ummah dan Atsaru shohabah.

2. Fardhu kifayah : Setiap ilmu yang berkaitan dengan urusan dunia.seperti:Ilmu kedokteran : karena sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan Ilmu hisab : untuk kepentingan pembagian harta waris.

3. ilmu syar’iyah adalah, segala ilmu yang terpuji yang terbagi menjadi empat aspek:

  • Ilmu ushul (dasar) : Kitabullah, Sunnah rosulullah, Ijma’ umat dan perkataan para sahabat.
  • Ilmu furu’ (cabang) : Memahami apa yang seharusnya di fahami oleh akal dari dasar-dasar ilmu ushul.

4. Ilmu muqaddimat (pengantar) : Ilmu Nahwu dan Ilmu bahasa, yang berfungsi sebagai alat untuk memahami Kitabullah  dan Sunnah Rosulullah.

5. Ilmu mutammimat (pelengkap) : Ilmu membaca, makhrajul huruf, dll

Nah, sekarang kita kaitkan dengan yang namanya dauroh. Adakah daoroh itu dilaksanakan di luar kampus? jawaban iya. Dimanakah akhwat bermalam? Tentunya pada tempat-tempat yang telah disediakan oleh panitia, ya tidak? Kondusifkah tempatnya? jawaban, tergantung panpel memilihnya tapi 90% bisa dipastikan tempat pelaksanaan dauroh pasti dikondisikan untuk sekondusif mungkin. Right? Lantas berlakukah jam Syar’i pada kondisi ini? nah, kita harus objektif menilai hal ini. menurut saya, ini dikembalikan lagi dengan kondisi setempat dengan mempertimbangkan kembali azaz pemberlakuan jam syar’i dengan keutamaan menuntut ilmu. Jika, lebih banyak mudhorot dari mengikuti majelis ilmu (Dauroh kan masuk sebagai salah satu majelis ilmu) maka sebaiknya agenda dihentikan saja pada jam-jam syar’i sesuai ketentuan yang berlaku. Tapi, ketika ilmu yang kita dapatkan itu lebih baik mashlahatnya maka menurut saya tidak ada salahnya kita menuntut ilmu walaupun telah melewai jam syar’i.

Dalam artian seperti ini, jangan sampai jam syar’i ini membuat kita menjadi malas dalam menuntut ilmu, membatasi diri hanya puas dengan kecetekan ilmu yang kita punyai padahal hakikat ilmu harus mendahului amal-amal kita. Ada fenomena yang unik terkait hal ini. kejadian di lapangan yang sering saya temui, kebanyakan para akhwat akan ‘berteriak’ ada agenda (dalam dauroh tentunya) yang lewat dari jam 21.00 WIB, dalihnya selalu sudah lewat dari jam syar’i dan segala macam. Ada juga yang mengatakan seperti ini,”Saya memilih mengikuti sunah rosul ukh: tidur cepat dan bangun cepat.” Riilnya, tidak ada yang benar-benar bisa bangun cepat untuk QL tentunya, mereka masih menggunakan kata ‘sepertiga malam terakhir’, padahal dalam agenda dauroh tentunya setiap segala sesuatunya sudah diperhitungkan oleh panitia:Mudhorot dan mashlahatnya. Dalih jam sya’i ini juga membatasi para akhwat-akhwat untuk turut memperkaya diri dengan ilmu, bahkan diskusi se-akhwatan pun mereka enggan. Miris bukan??

Saya teringat perkataan salah seorang teman saya yang mengatakan bahwa jam syar’i ini diskriminatif terhadap akhwat. Awalnya saya tidak sepakat dengan hal ini, akan tetapi jika melihat kualitas kita sebagai akhwat yang (nantinya) menjadi Madrasah Pertama bagi anak-anak kita maka akan sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan para lelaki. Padahal jelas-jelas kewajiban menuntut ilmu itu WAJIB atas Laki-laki dan perempuan.

Oke, pembahasan kita selesaikan sampai disini dulu yaa, udah sepertiga malam kedua niih… jam di laptop saya menunjukkan pukul 02.08 WIB. Saya mau rehat sholat dulu, selanjutnya mau rehat fisik.. kasihan ntar badan saya ngamuk siangnya.. ^_^

Intinya, jam syar’i ini lebih dikembalikan lagi kepada individu yang memandang ke syar’ian suatu agenda sih menurut saya.  tidak bisa saling menyalahkan dan menyudutkan jika terjadi perbedaan sudut pandang. apabila ini terjadi maka saran saya sebaiknya duduk bersama dan cari keputusan terbaiknya. terutama dalam hal dauroh yaa. perlu untuk mendiskusikan dan memusyawarahkan sampai jam berapa agenda malamnya dan perlu diperhatikan pula adab-adab majelis dan etika nya terutama dalam hal menjaga agar ikhwan-akhwat tidak bercampur baur.

Oke, see you later semoga bermanfaat.. salam Sukses selalu..

Sudut Anggrek 18,

Syiefa_uL Qalbi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s