Sekilas: Napak Tilas jiwa


Bismillah..

Ahad, 12 Mei 2012

Tak terasa, bilangan usia sudah semakin tua saja: 24 Mei 1991 – 24 Mei 2012 = 21 Tahun. Pada detik-detik akhir usia ini, saya menjadi semakin sering merenung. memikirkan apa-apa saja yang sudah saya lakukan satu tahun belakangan. Yupp, saya memang selalu seperti ini setiap kali saya mengulang tanggal hari kelahiran saya. Makin hari, saya makin menyadari bahwa ujian terbesar dalam hidup saya adalah saya sendiri. Saya tidak benar-benar pernah 100% menjadi diri saya sendiri, bukan juga malu atau ragu-ragu tap[i lebih kepada bagaimana saya mengenal diri saya. Saya akui hingga saat ini saya masih belum mengenal diri saya seutuhnya (lantas bagaimana saya dengan Pencipta saya??)

Ada beberapa sisi yang kemudian saya katakan bahwa saya belum mengenali diri saya. Pertama, tentang karakter saya sendiri. Kecenderungan saya menyendiri jauh lebih besar ketimbang keinginan untuk bersama orang lain, tetapi pada sisi lainnya saya sangat menyukai jika orang lain suka dengan adanya diri saya di tengah-tengah mereka. Orang mungkin biasa mengatakan bahwa saya humoris,lucu,cerewet, manja, kolokan, puitis,tapi saya sendiri merasa asing dengan hal itu. Yah, saya asing dengan diri saya, hanya pada saat sendirilah saya merasa bahwa antara saya dan jiwa saya berseberangan jauh sekali. Tak jarang saya heran untuk kemudian hanya mampu merasa kesepian dan diam.

Kadang, saya seringkali berpikir: apakah saya memang benar-benar tidak mengenali diri saya sendiri? Boleh jadi, bukan karena tak mengenal tapi lebih kepada tak ingin menjadi. sepertinya tesis ini yang lebih mendekati. Oke, balik ke topik awal.  Hal lain yang masih terasa seperti membayang adalah kejujuran dan pendekatan traumatik. Dua hal yang masih terus saya lakukan percobaan dan olah hipotesis.

Hfffh…. 21 tahun, semestinya perasaan dan pertanyaan ini sudah mampu saya jawab sebelumnya, tetapi mungkin karena saya harus lebih lama bereksperimen dengan diri saya sendiri maka ini semua terasa seperti terlambat saja.

****

Rabu, 23 Mei 2012

Apa yang aku pikirkan? Tidak ada, kecuali hasrat ingin pulang ke kampung dan berjumpa dengan keluarga yang sangat lama saya merindukannya. Terakhir pulang kampung adalah hari raya Idul Firi tahun lalu, pantas saja kangennya tak terkira-kira. Sedang apakah adikku disana? Bagaimanakah keadaan Ibunda, Kakak, Ayuk, dan Fahrur disana? Adakah baik-baik saja? Ah, Handphone tak cukup untuk tau itu semua.

Di Usia ke-21 tahun ini, saya ingin mengucapkan beberapa hal (yang kemungkinan besok belum tentu saya mampu mengatakannya, ^__^ ),:

1. Alhamdulillah ya Allah, terimakasih untuk segala nikmat yang tak terperi ini. Untuk segala nikmat yang jika boleh saya katakan, tak ada sedikitpun keinginan yang tak saya dapatkan dari Nya. Ya Allah, tsabatkan jiwa dan hati saya untuk selalu bersyukur pada tiap-tiap nikmat yang engkau limpahkan kepada saya.

2. Nabi Muhammad dan Bunda A’isyah r.a. Sumber dari segala sumber insp[irasi kehidupan, bolehkah jika kemudian saya ingin berjumpa? Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa ala alii muhammad..

3. Ayah dan Ibu, yang tak ada lelahnya mendoakan saya siang dan malam, dulu hingga kini. Allahhummaghfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani shoghiiroo..

4. Untuk Kakak, Adik, Abang, Paman, dan Sahabat terdekat saya: Mudah-mudahan di Syurga “adn kelak kita akan dapat bersua bersama. Allahumma Aaamiin..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s