Bukan Sekedar Makan Pare ( 4 Gelas Cappucino)


Bismillah…

Mencoba sedikit berbagi. anggap saja efek dari minum Cappucino 4 gelas + tak tidur semalaman (ngapain aja coba??). Alhamdulillah, kemarin tanggal 18-20 Mei 2012 KAMMI Komisariat Al-Quds mengadakan Hajatan besar Pertama, Dauroh Marhalah 1 KAMMI Komisariat Al-Quds Angkatan 78. Dauroh ini diikuti oleh 4 Universitas: Universitas Sriwijaya, Politeknik Sriwijaya, IAIN Raden Fatah Palembang, dan Universitas Islam OKI. Peserta DM lumayan sedikit, hanya 90 Orang peserta saja.

Seperti biasa, setiap Dauroh Marhalah selalu saja ada manuver-manuver yang kemudian muncul, salah satunya adalah manuver emosi. Hal-hal sepele terkadang mampu menyulut emosi, entah emosi untuk tertawa,menangis,melucu,dll. Begitu pula terhadap saya, teman saya (Eni Solekah), adik – adik saya (Nike Ardila, Deista Sari, Yunida Sari). Yupp, di malam terakhir dauroh, kami mengalami emosi yang hampir sama: Ingin Marah!

Sejatinya, marah adalah akumulasi dari beberapa kejadian: Capek fisik, Capek Hati, situasi yang mendukukung, dan kejadian yang memantik amarah. Saya pribadi adalah orang yang sedikit banyak mudah marah, meskipun dalam sehari-hari sering ingin membuat orang lain tertawa. pokoknya malam itu saya ingin marah: peserta akhwat sama sekali tidak proaktif baik dalam diskusi formal maupun non formal, pengkondisian sudah kami bangun untuk menumbuhkan semangat ini mulai dari taman bacaan dan pancingan dengan statement yang sedikit kontroversi.

Yupp, malam itu saya ingin menghukum peserta dengan mengajaknya untuk berdiskusi hingga pukul 02.00 dini hari. Diskusi seputar materi, buku bacaan dan tentang kondisi serta perkembangan akhwat kekinian. Betapa sungguh, diri ini ingin melihat Aisyah-aisyah hadir di era masa kini. tapi, sedikitpun peserta tak bergeming akan hal ini!

Saya menikmati detik-detik menuju proses hukuman itu, streecing dimulai: pertanyaan-pertanyaan kecil tentang kesalahan-kesalahan yang dilakukan peserta, merespon negatif dari sanggahan peserta, ditambah dengan prilaku segelintir oknum yang turut menyulut emosi. saya sudah siap ingin mencecar mereka dengan segudang pertanyaan yang telah sejak awal menjejal sesak dibenak dan dipikiran saya.

Yes! satu,dua,Tiga!! Saya tak sanggup melakukannya, nurani saya berbisik: untuk apa marah dan menumpahkan energi negatif jika masih ada pilihan lain yang jauh lebih baik? Jujur, airmata pun menggenang ketika tanpa sadar bibir mengucap istighfar dan amarah perlahan mendingin. Alhamdulillah Ya Roobb, Engkau selamatkan kami dari api neraka dan dari bujuk rayu Syaithon laknatullah..

Tak cukup sampai disitu pekerjaan syaithon, komdis menemukan temuan lain yang hampir memantik lagi emosi, alhamdulillah kami melewatinya dengan sukses!

sambil bercengkerama ria, melontarkaan joke-joke segar di suasana malam yang dingin, adik saya yang kebetulan menjadi panitia konsumsi menyuguhkan 2 cerek Cappucino. tak ayal lagi, saya langsung mengambil gelas dan meminumnya: satu,dua,tiga, yupp habislah Cappucino 4 Gelas!!

hingga subuh menjelang, tak ada kantuk yang menyerang, kewajiban dan agenda yang telah dijadwalkan baik oleh saya sendiri maupun oleh panitia telah dilaksanakan. Sambil merenungi kejadian urung marah, saya teringat dengan sebuah cerita tentang lomba pare sedunia. buka-buka catatan di FB saya, akhirnya.. ini dia ceritanya..

LOMBA MAKAN PARE SEDUNIA

Negeri Senyuman menyelenggarakan Lomba Makan Pare Sedunia. Lomba diikuti oleh tiga peserta yaitu Negeri Senyuman sebagai tuan rumah, Negeri Awan dan Negeri Antah Berantah.

Lomba ini tergolong sangat sulit. Bayangkan, tiap peserta harus makan satu karung pare yang terpahit. Peserta tidak boleh keluar dari gelanggang jika pare tersebut belum dihabiskan semua. Peserta yang telah menghabiskan sepuluh buah pare, mendapat satu hadiah hiburan yang bertahap makin besar nilainya, hingga hadiah utama jika ia benar-benar mampu melahap satu karung pare itu.

Perlombaan dimulai. Peserta dari Negeri Awan tampak pucat setelah mengunyah pare pertamanya. Bahkan ia hanya mampu menghabiskan sebuah pare dan menyisakan sekarung penuh pare tanpa boleh keluar dari gelanggang.

Peserta dari Negeri Antah Berantah masih lumayan. Digigitnya pare bagiannya sedikit demi sedikit, dengan ekspresi wajah yang tak keruan. Mulutnya terus menggumam penuh keluh kesah yang tak tertahankan.

Peserta dari tuan rumah, Negeri Senyuman, tampil paling kreatif. Pare-pare itu dimasaknya menjadi santapan yang lezat. Memang sebetulnya tidak ada larangan dari panitia untuk mengolah pare itu lebih dulu, yang penting semua pare dapat masuk ke perut peserta lomba.

Sepuluh pare pertama ditumisnya, dicampur udang kecil dan cabe rawit. Sebelum dimasak, pare dilumatnya dulu dengan garam lalu dibilas, hingga makin hilang rasa pahitnya. Sepuluh pare kedua direbus dan dimakannya dengan siomay dan bumbu kacang hingga licin tandas. Aadapun sepuluh pare ketiga, diisinya dengan daging cincang lalu dikukus. Pare demi pare dihabiskannya hingga ia berhasil mendapatkan satu demi satu hadiah hiburan serta berhak menggondol hadiah utama.

Nah, ini dia nih ibroh yang bisa kita ambil dari cerita lomba pare sedunia ini..

Sahabat, lomba makan pare sedunia ini bagaikan masalah atau ujian hidup bagi kita. Ada tiga pilihan kita menjalaninya. Pertama, lari darinya, seperti peserta dari Negeri Awan kemudian menyisakan setumpuk persoalan yang tak terselesaikan.

Kedua, menjalani ujian dengan berat hati, seperti peserta dari Negeri Antah Berantah. Ia melalui satu demi satu ujian kehidupan dengan keluh kesah.

Ketiga, menikmati ujian seperti sang juara. Karena masalah dan ujian hidup itu adalah suatu kepastian yang harus dilalui setiap anak manusia, mengapa tak menghadapinya dengan lebih nikmat, walau sepahit apapun? Katakanlah pada setiap masalah yang menghampiri, “Selamat datang masalah, aku akan menghadapimu dengan senyuman, hingga dapat kucari solusimu dengan hati lapang dan tenang”.

Dengan sikap demikian, masalah tidak akan terlalu membuat hati kita sempit. Ujian hidup datang dan pergi sebagai konsekuensi atas eksistensi kita sebagai manusia. Menyelesaikan tiap masalah membuat kita bertambah cerdas dan dewasa sebagai bonusnya, bagaikan hadiah hiburan lomba makan pare di atas. Kita dapat memilih, untuk menjadikan masalah sebagai sesuatu yang kita nikmati. Seperti pahitnya pare yang dapat diolah menjadi tumis lezat, siomay pare, pare kukus, dan aneka makan nikmat lainnya. Selamat menikmati masalah, dengan senyuman.

Begitu juga dengan amarah, tak perlu kita lari dari rasa marah tapi yang perlu kita lakukan adalah memanagement rasa marah tersebut. Kebahagiaan tak terkira ketika mampu memanajemen rasa marah yang sudah memuncak,bukan lahar kata-kata keji yang termuntahkan tapi angin sejuk maaf dan kata-kata bijak yang mengalir.

Nah, sekarang saya tinggal menikmati rasa puyeng karena Minum Cappucino kelewatan. . .

sampai ketemu dicerita selanjutnya yaa, efek Cappucino memang luar biasa Dahsyat!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s