Trauma, Asyik juga tuh!



Pernah trauma? Trauma yang sampai saat ini masih saja membayang-bayangi kehidupan kita, pernah atau sedang mengalami trauma? Menurut teman, apa sih yang membuat trauma itu terjadi? Oke, semestinya bukan pertanyaan ini, yang benar ini; apa sih yang membuat teman sehingga mengalami trauma? Kehilangan, kedukaan, atau trauma apakah itu?

Saya pernah dan sedang mengalami trauma saat ini, mau tahu? Yah, bisa dikatakan saya trauma kehilangan orang-orang terdekat dalam kehidupan saya. Mengapa bisa sampai trauma? Oke, saya akan menceritakannya untuk teman. 🙂

Sejak saya mulai bisa mengingat, saya begitu dekat dengan ayah saya. Kedekatan ayah-anak ini mengalahkan kedekatan ibu-anak. Oh ya, saya menjauh dari ibu mulai dari kelas 2 SD. Oke, lanjut ya. Sejak itu, mau seperti apapun saya-perasaan dan hal-hal lainnya- selalu saya ceritakan ke Ayah. Bahkan ketika sakit; mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali saya harus melihat Ayah di dekat saya. Peran Ibu hampir 100% saya nafikan keberadaannya, meski belakangan saya tahu Ibu tidak pernah meninggalkan saya bahkan dalam do’a-do’a malamnya.

Kelas XI, tepat tanggal 5 Juni 2008 Ayah meninggal dunia, nah ini sebenarnya titik awal trauma yang saya maksud. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa saya akan kehilangan Ayah di usia yang ke-17 tahun, tepat di usia 17 tahun (24 Mei 2008 adalah hari kelahiran ke-17 tahun). Rasa kehilangan orang terdekat ini benar-benar terasa terutama pada 3 bulan pertama, sebab ketika itu paman (adik dari Ibu) mengerahkan perhatiannya kepada kami, terutama terhadap saya. Yah, paman sangat membantu memulihkan semangat belajar dan kepercayaan diri saya yang sempat hilang, benar-benar mengayomi kami layaknya Ayah. Akan tetapi, usia beliau juga tidak berbeda dengan Ayah, 6 bulan setelah Ayah meninggal Paman juga menyusul menghadap Allah di usia yang relatif muda.

Sejak itu pula, saya menutup diri dari orang-orang sekitar yang mencoba untuk menggantikan peran Ayah ataupun Paman, tidak juga terhadap Adik Ayah (Paman juga ya?). Saya  hanya menempatkan posisi mereka tidak lebih dari sekedar tempat untuk mendapatkan nasihat ataupun kalimat-kalimat bijak. Paman Syarif, Adik ke-2 bapak ternyata concern terhadap perkembangan mental kami.

Saat masuk ke Universitas Sriwijaya, semester II saya mengalami trauma yang ke-3, Paman Syarif koma selama 1 minggu setelah berjuang melawan peluru yang nyasar ke paru-paru nya. Perasaan kehilangan kembali menyelubungi, khawatir Paman meninggal. Jujur, malam-malam hari saya penuh dengan airmata memohon kesembuhan paman-saya masih membutuhkan paman- untuk menghilangkan trauma saya ini. Alhamdulillah, Allah berkenan mengijabah do’a saya dan keluarga besar saya.  🙂

Nah, sejak itu benar-benar kapok jika ada yang berusaha menjadi orang terdekat saya, tidak terkecuali teman,sahabat, keluarga, kakak atau siapapun yang mencoba mendekati. Tidak bermaksud juga untuk menutup diri, hanya tidak ingin ketika saya mulai merasa nyaman dengan keberadaan seseorang tetapi perasaan saya dibayang-bayangi ketakutan akan kehilangan. Begitu pula dengan Ibu, saya mencoba untuk mendekati sewajarnya dan menempatkan beliau tidak dalam proporsi orang paling dekat (saya khawatir beliau pergi ketika belum tuntas bakti saya kepada beliau).

Memilih teman juga penuh proses ‘penyelidikan’ dan rasa ingin menguji seberapa jauh saya bisa mempercayai, berlebihan bukan? Ya, seperti itulah keadaan yang ada. Kakak, selain kakak kandung, saya hampir bisa dikatakan tidak percaya dengan kakak angkat. Mengapa? Ketika saya mendeklarasikan seseorang itu sebagai bagian dari keluarga saya, maka saya juga akan benar-benar menganggap dia seperti saudara kandung, meski di satu sisi bayang-bayang kehilangan mulai merayapi. Ketika satu persatu orang-orang yang dekat dengan saya menjauh, tidak mungkir jika kemudian saya menjadi trauma dan sulit untuk mulai membangun komunikasi dari awal. Kepercayaan terhadap orang baru atau orang yang pernah dekat tidak lebih dari 5% saja, selebihnya adalah curiga dan tanda tanya.

Menjadi pribadi yang memiliki trauma masa lalu adalah hal yang tidak diinginkan oleh setiap orang, tidak ada yang benar-benar ingin trauma! Akan tetapi, berusaha keluar dari trauma adalah hal luar biasa yang bisa dilakukan oleh pribadi kita saat trauma muncul. Tidak mudah, tetapi menyenangkan untuk dilakukan.

Setelah berulang kali jatuh-bangun trauma, setidaknya saya memiliki sedikit cara untuk keluar dari trauma masa lalu. Ini dia..

  1. Posisikan kembali orang-orang terdekat kita pada posisi yang sepatutnya dan pada tempatnya,
  2. Perbanyak istighfar dan sholat,
  3. Sibukkan diri dengan tilawah Al-Qur’an,
  4. Berusaha legowo dan berdamai dengan perasaan kita sendiri;jangan bohong terhadap hati nurani,
  5. Mulai membangun komunikasi seperti tidak ada masalah sebelumnya,
  6. Senyum dan semangat!!

Kita bahas satu per satu yukk, oke?  Kita mulai pada point satu, memposisikan kembali maksudnya adalah mereset total urutan ketergantungan kita terhadap sesuatu. Sekedar catatan, urutan pertama adalah Allah, Rosulullah, Al-Qur’an dan Al-Hadist. Ini penting, ketika salah memposisikan hal ini maka kekecewaan demi kekecewaan akan terus datang menghampiri.

Dua, istighfar ternyata mampu mengembalikan semangat yang hilang, sedangkan sholat adalah sebaik-baik tempat mengadukan segala hal termasuk kelelahan hati kita. Jika pada point ini airmata mengalir, biarkan saja dia meluncur. Mengalirlah wahai airmata, mengalir bersama kesedihan yang akan segera sirna. J

Tiga, aktivitas tilawah Al-Qur’an ternyata mampu memutar kembali kepingan-kepingan memori kita bersama orang terdekat. Saya sangat menikmati proses ini, biasanya saya akan segera tahu dimana kesalahan yang saya lakukan sehingga saya kembali trauma. Saya sering terisak-isak jika memori itu mengulang ketika saya telah menyadari titik kesalahan saya.

Empat, sudah ketemu jawabannya kan? Saatnya untuk jujur pada hati nurani;jangan malu mengakui kesalahan diri sendiri dan bersikaplah legowo terhadap resiko yang terjadi. Contoh sikap legowo yang dimaksud, tidak bersedih atas orang terdekat yang pergi dari kehidupan kita.

Lima, pada segmen ini titik tekannya adalah menganggap seperti tidak ada hal yang perlu untuk ditraumakan. Anggap saja orang yang pergi itu seperti angin sepoi-sepoi yang hadir ketika kita memerlukan, jadi biasa jika kemudian angin itu pergi.

Enam, tidak ada yang lebih baik yang bisa kita lakukan selain tersenyum dan kembali membangun semanagt. J

Membicarakan sesuatu yang ada kaitannya dengan rasa trauma adalah satu dari sekian metode terapi batin untuk bisa keluar dari trauma. Selain itu, menuliskan trauma pun ternyata mampu mengalirkan energi negatif yang ada di dalam diri kita. Nggak percaya? Coba dan rasakan keampuhan metode terapi ini! Semoga menambah semangat kebermanfaatan. J

 

Umi Qona’ah

Nb: tulisan yang umi buat untuk menasehati diri sendiri. Percuma saja menangis jika engkau tak mampu mengenali dan berkomunikasi dengan hati. Meski susah untuk memaafkan, bangkitlah dari rasa trauma itu. Trauma hanya akan menambah deret kelemahan mu, sedang Allah tidak menghendaki hambanya dalam keadaan lemah. Umiqo, you can do it without them, just Allah in your life,ok? Stay to remember that you are Syiefa_uL Qalbi, remember it! Weak up syiefa, let me down alone. Loh?? Hehee..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s