Ukhti, PLis Dong !!


Hawa panas merebak ke semua sudut ruangan, 3 buah kipas angin besar ternyata tak cukup untuk membuat suasana lebih sejuk, panitia sibuk membagikan snack kepada para peserta Dauroh¹. Seorang gadis berjilbab biru lebar sebatas pinggang, duduk di barisan kedua,ia khusyuk mendengarkan pembicara yang tengah menyampaikan “wejangannya”,ia gelisah lalu menoleh ke belakang. Dilihatnya dua orang gadis yang juga berjilbab lebar tengah asyik “berdiskusi”, gadis berjilbab biru kembali menatap pemateri.
Ia gelisah lagi,ditolehnya gadis berjilbab putih yang duduk di samping kanannya. Hanya senyuman manis disertai bahu yang di angkat dan helaan nafas yang diterimanya dari gadis berjilbab putih. Gadis berjilbab biru meraih pena dan menulis sesuatu di kertas bindernya yang berwarna biru. Ia tersenyum,dipandangi tulisannya,dilepaskannya dari japitan binder lalu di serahkan ke gadis berjilbab putih. Yang diberi menatap kertas itu lalu tersenyum,di serahkan kembali kertas itu ke gadis jilbab biru.
Setengah jam berlalu,si jilbab biru masih asyik mendengarkan materi-materi yang di uraikan meskipun raut mukanya menunjukkan kegelisahan. Sejurus kemudian di tatapnya lagi tulisan yang dibuatnya tadi,ia putar tubuhnya kebelakang dan menyerahkan kertas itu ke meja dua orang jilbaber yang tengah “berdiskusi” itu. Mereka tersenyum,gadis jilbab biru membalas senyumannya dan kembali ke posisi semula.
“Diantara kewajiban seorang muslim terhadap tetangganya yaitu, tetangganya berhak untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dari gangguan lisannya² “ terdengar suara dari arah belakang gadis berjilbab biru.
“Ukh³,ini untuk kita berdua ya?” Tanya salah seorang dari kedua gadis itu.
“Siapa lagi? Eh,emang kita ngobrolnya keras ya? Perasaan nggak tuh” jawab gadis yang satu lagi.
“Iya kali ukh, nanti lagi deh ceritanya. Nggak enak ama tetangga kita. Ukhti,materi Ustadz ini tentang apa ya?” temannya menyahut.
“Nggak jelas juga,,kalau nggak salah denger sih tentang pentingnya membina”
Mendengar bisik-bisik itu,gadis berjilbab biru tersenyum.
“Alhamdulillah,mudah-mudahan mereka nggak khilaf lagi. Mahasuci Engkau Ya Robb,yang Maha lembut dan Maha Santun dalam segala sesuatu.” Bisik gadis berjilbab biru dalam hati, ditolehnya gadis berjilbab putih, mereka tersenyum.
Semua peserta dauroh menghembuskan nafas lega, tampak kegembiraan terpancar dari aura wajah setiap peserta menyambut saat break sholat dzuhur dan makan siang. Gadis berjilbab biru bergegas menuruni tangga menuju tempat wudhu. Antre, akhirnya gadis itu duduk di anak tangga. Tak lama, seorang gadis berjilbab biru tua duduk di sampingnya. Keduanya bercakap-cakap,sesekali mereka tersenyum.
“Ukhti Aini,coba liat deh. Yang pake jilbab merah,liat deh ukh..”
“Dia kenapa ukhti? Aini lihat nggak ada yang salah darinya,,” jawab gadis berjilbab biru,yang tak lain adalah Aini.
“Pakaiannya itu loh,coba lihat lagi deh. Kaos kaki hitam, rok hijau terang, baju warna hijau pupus, eeh..jilbabnya merah. Udah gitu,brossnya ukh, bross kain motif bunga eeh warnanya kuning. Serasa pelangi aja ya ukh. Sepatunya warna apa ya ukh?”
“Idih, ukhti ini..nggak boleh gitu dong. Kali aja beliaunya lagi bersemangat hari ini,jadi semua paduannya itu menggambarkan semangatnya. Aini juga nggak match kok,coba lihat deh. Kaos kaki Aini coklat,rok hitam terus bajunya ini abu-abu,dan seperti yang ukhti lihat,jilbab warna biru sama bros kecil warna putih pula. Kayak jemuran kan?”
“Hmm, kalau ukhti mah masih enak dilihat ukh. Masih ada padanannya,tapi dia kan beneran menyilaukan penglihatan ukh. Ya nggak sih?”
“Heehe,nggak juga ukhtii. Biasa aja, kali emang itu yang beliau punya hari ini. Udah ah,nggak baik ngomongin orang. Aini wudhu duluan ya ukh” Aini bergegas menuju tempat wudhu sambil menggelengkan kepalanya pelan-pelan.

***

Angkot kuning berdecit, Aini turun dari angkot diikuti kedua orang temannya. Angin sore hari berhembus, menggerakkan ujung-ujung jilbab mereka. Dari kejauhan tampak seorang wanita berkerudung coklat berjalan beriringan dengan seorang lelaki. Aini mengedarkan pandangannya ke lapak-lapak pinggir jalan yang menjajakan aneka buahan.
“Ukhti, lucu ya cewek itu..”
Aini dan gadis berkerudung putih saling berpandangan. Mereka menatap cewek yang ditunjukkan oleh teman mereka.
“ Emang kenapa Dek?” Tanya gadis yang berkerudung putih.
“Itu loh Mbak Rahma, kerudungnya lucu banget. Liat tuh baju kaosnya, itu mah cocok buat daleman kebaya. Aduuh, mana roknya model Cinderella pula. Kerudung warna coklat, kaosnya warna item, di masukin kedalam rok warna merah lagi. Aduuuuuh,niatnya sih boleh atuh mau gaya. Tapi kalau kayak gitu mah, malah nggak gaya banget kaliii” gadis itu menjelaskan.
Rahma dan Aini kembali berpandangan,keduanya tersenyum geli.
“Aduuuh ukhti sayaaaang, pLis dong.. Ada nggak sih bahasan lain selain ngomongin penampilan orang? Coba deh perhatiin dirimu, sepatu warna merah di paduin sama kaos kaki coklat. Dengan rok warna abu-abu, baju warna kuning pudar. Aduuuh gimana gitu, setelah semua merusak penglihatan, ukhti masih aja maksain pake jilbab warna biru tua di plus bross kain panel warna merah. Hayooo,nyiksa banget nggak sih?” jawab Aini sambil tertawa.
“Kebetulan ini yang tersisa Ukhti, jujur dua minggu belakangan ini ana memang belum sempat nyuci baju.”Jawabnya tersipu malu.

***

Dauroh¹ : pelatihan / training
lisannya² : lidah / ucapan
Ukhti³ : saudari ku

*Syiefa_uL Qalbi*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s