Simfoni Hati, Bidadariku kini Telah Kembali


Kakak ku aneh. Iya, Aneh ! Dua bulan terakhir ini, dia Aneh. Bahkan aku, adik kandungnya pun seperti melihat orang asing dirumahku.
Kakak sangat cantik, aku dan dia tidak ada kemiripan sama sekali. Kulitnya kuning langsat, tinggi 165 cm, rambutnya panjang sepinggang dan hitam lebat, tubuhnya ideal, matanya sipit kecil, bulu matanya panjang dan lentik, dua lesung pipinya makin menambah cantik wajahnya yang lonjong. Aku faham betul penampilan fisik kakakku sebab aku adalah kebalikannya. Kakak kini kelas XII Ipa 1 di SMA N Muara Kelingi, tinggal sebulan lagi ujian kelulusan SMA. Septia Putri Larasati, namanya. Aku memanggilnya,kak Laras.
Keluarga kami hanya 5 orang. Dia adalah kakak sulungku, setelah aku masih ada adik laki-laki. Baik adikku yang biasanya kami panggil abang kecil maupun diriku, mewarisi kulit bapak yang gelap. Beruntung kulit ibuku tergolong kuning, jadi meskipun kulit kami hitam tetapi tidak hitam legam. Rambutku keriting dan adik laki-laki ku berambut ikal. Untuk rambut, aku mewarisi rambut ibuku yang keriting. Ah, jika ku sebutkan fisik ku satu-persatu, aku kerap berpikir bahwa kak Laras bukanlah kakak kandung ku .Usiaku hanya terpaut 2 tahun dari kak Laras, karenanya kami begitu akrab walaupun secara fisik kami berlainan.

“Kak Laras cantik banget ya Wi, mirip Geum Jan di deh. “
“Wi, titip salam dong buat kak Laras. Oh ya, ini puisi untuknya, dia suka sastra ‘kan? Minta nomor handphone kak laras dong..”
Begitulah, kadang aku iri dengan kak Laras tapi aku juga mengaguminya. Kak Laras adalah Ketua OSIS kami, penyuka sastra dan anak tari pula.

“Dek, kakak sore ini mau ngajarin anak-anak OSIS latihan. Ada lomba Tari Daerah di kabupaten bulan depan. Dedek mau ikut atau gimana nih?”
“Emm, dedek mau liat kakak aja deh. Males pulang sendiri, boleh ya?”
“Apa sih yang nggak buat adek ..”

Ya, dedek adalah panggilan sayang kakak untukku. Sore itu aku benar-benar mengagumi kelincahan kakak saat menari. Tutur katanya yang lembut, supel, humoris, Perfect!
Banyak cowok-cowok di sekolah yang diam-diam naksir bahkan ngefans berat sama kakak. Tapi, kakak menjatuhkan pilihannya pada seorang pemuda yang tentunya lebih tua darinya. Kak Sastri, mahasiswa FK UNSRI. Ups! Bukan mahasiswa lagi, kak Sastri sudah wisuda setahun yang lalu.
Tapi, 3 bulan terakhir ini kak Laras berubah! Biasanya ia paling update soal mode pakaian, modis dalam penampilan. Artistik tapi nggak nyentrik ,itu prinsip kakak. Sekarang, hanya bermodal kerudung putih panjang dan dengan hiasan sederhana. Aku kaget banget pas lihat kakak pakai kerudung putihnya, memang sih jadi lebih anggun. Isi tas kak Laras juga berubah, al-ma’tsurat dan al-qur’an. Hobi barunya hunting baju-baju muslimah, jilbab dan aksesoris jilbab. Majalah islam serta buku-buku remaja islam yang kini digandrunginya.
Dulu sajak-sajaknya banyak bercerita tentang cinta dan perasaannya pada Kak Sastri. Belakangan, sajak-sajaknya lebih religius dan bercerita tentang dirinya. Oh iya, sudah 1 bulan Kak Laras putus dengan kak Sastri padahal pedekate 6 bulanan lebih, sepengetahuan aku kak Laras baru 3 bulan pacaran.

“Kakak malu dedek sayang, malu sama Allah. Hubungan kakak dengan kak Sastri, itu tidak ada ajarannya dalam islam. Kakak ingin seperti Bunda Aisyah, Istri Rosulullah yang sangat beliau sayangi. Kakak hanya ingin lebih baik lagi.”
***
Sebenarnya, awal keanehan kakak sejak 4 bulan yang lalu. Malam itu kakak menanyakan pertanyaan yang sering juga aku menanyakannya dahulu.

“Pak, apa benar Laras bukan anak kandung bapak? Bu, apa benar Laras ini anak haram?”
“Laras, maafkan ibu nak ya.. “
“jadi benar, Laras anak haram bu? Jadi semua ini benar bu? Ooh, rupanya tetangga-tetangga kita selama ini tidak salah. Laras anak haram bu, Laras bukan anak kandung bapak,Bu?”
“Laraaas, maafkan ibu naak. Maafkan kesalahan ibu, naak…”
Awalnya, aku juga terkejut mendengar kebenaran itu. Tapi, walau bagaimanapun kak Laras tetaplah kakak kandungku walaupun berbeda bapak. Malam itu, ingin sekali aku menghibur kakak. Tapi aku tau diri, kakak pasti akan semakin sedih jika malam itu ia tau bahwa aku mendengar semuanya. Aku memang pura-pura tidak tau hingga saat ini. Cukup sudah aku kehilangan kak Laras karena kebenaran itu.
Sejak malam itu, bapak dan ibu sering bertengkar. Aku juga sering melihat kak Laras menangis sepanjang malam. Kakak mulai rajin mengujungi nenek di Linggau.
“kak Laras Cuma lagi sakit mata kok, dek. Oh ya, besok kak Laras mau ke tempat nenek. Mau ketemu tante Rini. Kabarnya habis pulang dari Jawa tante Rini pakai jilbab, mau ikut nggak?”

Hampir tiap hari minggu, kakak ke rumah nenek. Lambat laun, kak Laras mengajak aku. Olalaaaa, rupanya bukan ke rumah nenek tujuan utamanya tapi ke rumah temennya. Aku malu melihat teman-teman kak Laras itu. Mereka tampak anggun dan santun dengan jilbabnya yang lebar menutup dada. Mereka ramah sih,tapi melihat senyuman mereka hatiku semakin kecut.
Sebenarnya aku ogah diajak kakak kesana lagi tapi ingat pesan bapak jadi aku ikut terus. Lambat Laun aku juga menyukai obrolan mereka yang kadang-kadang menyentil.

“Bapak cuma khawatir dengan kakak, dek. Mata kakak mu itu kecil, nanti nggak bisa lihat ada bahaya di jalan.”

Aku tahu, bapak pasti sangat mengkhawatirkan kak Laras. Perasaan bapak sama dengan ku, kak Laras pasti sangat sedih dan terluka malam itu. Tunggu, keanehan kak Laras bukan Cuma itu! Dia mengundurkan diri dari klub Tari nya. Dugaan ku benar, kakak bergabung dengan anak-anak rohis.

“Alhamdulillah,sejak kak Laras gabung di Rohis, suasana Mushola kita jadi makin hidup. Kak Laras rajin banget ngisi rubrik puisi dan ensliklopedi muslim. Kita jadi tambah semangat juga belajar tentang agama islam.” Cerita Nurul, aktivis Rohis di kelasku.
Kakak juga makin sering menanyai kapan aku mau berjilbab.
“Dedek, belum mau pakai jilbab ya ke sekolah?”
“Ntar aja deh,kak. Kalau sudah lulus SMA, dedek pakai jilbabnya di kuliahan aja.”
“Dedek sayang,sekarang aja. Mumpung masih hidup dek, mana tau besok kita udah nggak hidup lagi.”
“Ih, kak Laras kok ngomong gitu sih, kita masih lama lagi kak hidupnya. Dewi aja baru 17 tahun, tenang aja deh kak. Inget nggak dulu kak Laras bilang apa? Rambut itu mahkotanya wanita dedek, ngapain juga pake ditutupin segala. Ntar dikiranya kita gundul atau nggak punya telinga lagi.”
“Dedek Dewi sayang, itu kakak bilang sebelum kakak tahu. Sekarang kakak udah tahu, nih baca”
Kak Laras menyodorkan Al-Qur’an mini warna pink.
“Baca terjemahannya saja,dek”
Dengan sungkan kuterima al-qur’an itu, kubaca kuat kuat.
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Qur’an Surah Al-ahzab ayat 59 !”
“tuh kan, hayooo mau dalih apalagi nih?”
“Ntar aja deh kak, nunggu dapat hidayah”
Kak Laras hanya menghela nafasnya kemudian memelukku dengan erat.
“Biar bagaimanapun, kakak beruntung punya adik kayak dedek sama abang kecil.”
Mendekati waktu sebulan terakhir, kakak semakin aneh. Bukan masalah sholat lima waktu atau rawatibnya yang on time, tapi kebiasaan menangis kakak saat tengah malam. Awalnya, ia hanya menangis saja sepanjang malam. Makin hari ia memang tetap menangis sepanjang malam, tapi menangisnya berbeda. Kulihat setiap malam ia pasti sholat 2 roka’at sambil menangis, meski sayup-sayup kudengar ia membaca Al-qur’an sambil menangis. Kadang kala, aku merinding mendengar tangisannya yang semakin hari semakin menyentuh dan mengiris hati. Seolah – olah ia tengah merayu dan memelas kasih.
Kemarin malam, kudengar lagi pembicaraan bapak, ibu dan kak Laras. Entahlah, akhir-akhir ini aku suka nguping pembicaraan orang.
“Ayah kandungmu meninggal sebelum akhirnya ibu tau bahwa ada Laras di rahim ibu, maafkan ibu nak..”
“Siapa ayah kandung Laras?”
“Dia sahabat karib bapak, nak. Dia meninggal karena sakit kanker getah bening, ayahmu orang yang baik menurut ayah. Dia masih punya darah Cina, namanya Septian Nugraha.”
“Seseorang yang baik, nggak mungkin sampai menghasilkan Laras sebelum nikah.. Laras malu pak”
“Laras sayang, maafkan kesalahan ibu nak..”
Pantas, makin hari kak Laras makin sipit matanya. Makin terluka jiwanya, meski di siang hari ia selalu menampakkan wajahnya yang ceria.
***
Hari ini 14 september, Ulang tahun kak Laras yang ke-19. Dulu,ia adalah orang yang paling sibuk menjelang hari ulang tahunnya. Mulai dari nyiapin kado buat ibu, masak makanan kesukaannya. Keluargaku memang suka merayakan ulang tahun, meskipun hanya makan-makan dan kumpul bersama selama satu hari penuh. Tapi, tampaknya kak Laras lupa dengan ulang tahunnya kali ini.
“Kak Laras belum pulang bu?”
“Belum,dek. Tadi pamitnya mau ke tempat nenek. Katanya sih, tante Rini mau balik lagi ke Jawa, hari ini berangkat. Mungkin sore pulang,dek.”
“kak Laras sendirian ya bu?”
“nggak, sama temannya tadi. Ada apa, dek?”
“Oh,nggak ada apa-apa sih, cuma.. hari ini kak Laras Ulang Tahun. Mau ngasih kejutan aja buat kakak, oh nya abang kecil mana bu?”
“Abang lagi mancing, diajak bapakmu tadi.”
Aku resah, hampir jam 4 sore kak Laras belum pulang. Ku buka lagi kado yang telah kusiapkan untuk kak Laras. Sebuah buku tebal, Aisyah r.a “The True of Beauty”. Iseng –iseng kulihat meja belajarnya. Rapi, bersih dan sejuk di pandang.

“Simfoni, pandanglah langit malam ini,
kelak kan kau lihat rembulan sabit.
itulah senyum yg ingin ku hadiahkan pd mu..
hanya ada rembuln, seperti itulah aq kpd Mu.”

Sajak hati kak Laras, kubuka lagi lembaran buku hariannya..

“langit mlm ini,berawan pnuh kabut..
begitpun rasa q saat ini.
sperti lentera yg tlh menggantikn lilin,
dlm cahaya-Nya, ada harapku..
bersama hembusan angin,
sajak ku untuk mu..”
Kak Laras begitu terluka,
“Dan dtak jam dinding, s’olah mengikut dtak jantg q..
meski hrs q ktahui, tlah terhitung detik, menit, bahkan jam..
tetap,, Aq tragu ak bs menemui mu..
*Simfoni Hati*
Simfoni hati kak Laras? Benar-benar deh, keanehan kak Laras menjalar hingga ke sajak-sajak nya. Sebentar, handphone ku bordering.

“Halo, iya,, Wa’alaikumussalam. Iya,benar.Saya Dewi, adik nya Septia. Ada apa ya,mas? Kak Laras?”
Aku bergegas lari ke dapur, mencari ibu.
“Ibu, kak laras…”
“kakakmu kenapa?”
“Kak laras, masuk ICU di R.S Dr. Sobirin..”
Ibu hampir saja pingsan, untung bapak dan adikku pulang.
Bakda Magrib aku baru sampai di ruang ICU, kulihat ada kak Ani, teman kak Laras dan seorang laki- laki berjas putih.
“Septia kolaps di tengah perjalanan, dia mengidap kanker getah bening stadium akhir.. oh ya, saya temannya Ani, Rahman”
“Rahman, dokter yang tadi menangani Laras dek,, “
Lutut ku lemas, aku teringat pada ayah kandung kak laras. Air mataku jatuh, tes ! tes !
Dokter Rahman mempersilakan kedua orang tuaku masuk, aku dan abang hanya menunggu di kursi Luar kamar ICU. Dokter Rahman mendekatiku, begitupun kak Ani.
“Dik, Septia perlu donor darah O untuk segera melakukan radioterapi . kondisinya benar-benar mengkhawatirkan. siapa dari keluarga adik yang punya golongan darah O ?”
Aku terbelalak. Keluargaku tidak ada yang bergolongan darah O. Aku AB, abang kecilku A. ibuku A dan bapak AB.
“nggak ada mas, kami nggak ada yang segolongan darah dengan kak Laras.”
Dulu, aku pernah mempermasalahkan golongan darah kami yang berbeda. Tapi ayah saat itu mengatakan bahwa mungkin ia yang salah waktu tes golongan darah.
“Hm, ya sudah.. kebetulan golongan darah saya O. nanti saya yang donor.”
Ibu dan bapakku keluar, giliran aku yang masuk. Kak laras makin aneh, selang-selang yang terhubung ke tubuhnya makin membuat dirinya menjadi aneh. Ia tampak begitu ringkih,jilbab birunya makin membiaskan pucat di wajahnya.
“Kak Laras, kakak bisa denger suara dedek kan? Kak, selamat ulang tahun yang ke-19 tahun ya. Maafkan dedek,belum bisa jadi adek yang baik. Kak Laras, bisa denger suara dedek kan? Kak, dedek sayang kak Laras.”
Kudengar dokter Rahaman berbicara serius dengan kedua orang tuaku.
“Septia kini tengah berada dalam kondisi kritis, Kemungkinan ia melewati masa kritis sangat tipis. Mukjizat yang bisa membangunkan dirinya,sepertinya ia sudah sering kolaps sebelum hari ini. Baiknya kita berdoa untuk kebaikannya”
Jadi, selama ini kakak bohong ! Aku kerap kali mendapati dirinya pucat, bahkan pernah 3 kali ia pingsan di kelasnya.
“Kakak memang lagi nggak fit aja,dek. Kemarin check up ke klinik, tensi darah kakak memang rendah. Nih,kakak bawa vitamin dan penambah darah.”
Kupandangi tubuh pucat itu, masih belum sadar juga meski telah satu minggu di ruang ICU.
***

“Dek, kira-kira kakak bisa ketemu bunda Aisyah nggak ya? Kakak takut, kerudung ini nggak bisa mempertemukan kak Laras dengan beliau.”
“Dedek nggak tau kak. Orang bukan dedek yang jadi Allah. Apa sih yang kakak suka dari bunda Aisyah?”
“yang kakak suka dari beliau cuma satu, beliau mampu menjadi istri Rosulullah yang luar biasa meskipun ia masih muda belia. Ia selalu penuh cinta dan ia di didik dalam didikan rosul serta orang tua yang Luar biasa. Bunda Aisyah, satu – satunya wanita yang mampu memberi banyak motivasi untuk kakak. Kak Laras ingin seperti beliau.”
Air mataku jatuh lagi, tes! Tes! Tes !
Aku tahu kesedihan kakak, ia pasti takut tak bisa bertemu bunda Aisyah karena ia lahir dari perbuatan yang dibenci oleh Allah.
“Dek, apapun yang terjadi dedek tetap sayang kak Laras kan? Dedek nggak akan benci kakak,kan?”
“Kak, sebesar rasa sayang matahari kepada bumi, sebesar cinta rembulan pada malam, sebesar itu pula sayang dedek untuk kak Laras. Engkau lah bidadari di bumi hati dedek,kak. Hehee..”
“Bisa aja deh, itu kan kata-kata kak Sastri. Ih, mana boleh copy paste kalimat orang.”
“Kak Laras sih, aneh pertanyaannya. Kangen kak Sastri ya,kak?”
“Nggak, kakak cuma kangen bunda Aisyah.. kapan ya kakak bisa ketemu beliau? Menurut adek,kapan?”
Tes ! tes, tes,tes ! air mataku makin deras. Kupandangi sonar perekam detak jantungnya, makin melemah saja.
“Dek, kakak pengen jadi bidadari syurga. Kakak sudah cukup cantik belum untuk jadi bidadari syurga?”
“Udah kak, kak Laras Cuantiik banget deh. Nadine Candrawinata mah lewaaat… suer deh!!”
“Dedek, bidadari syurga itu beda dengan bidadari dunia. Pantes nggak ya kalau kakak pengen jadi bidadari syurga?”
Tes ! kuseka air mataku, cewek tomboy mana boleh nangis terus-terusan! Aha, gimana kalau aku baca qur’an pakai Al-qur’annya kak Laras. Kali aja dia bangun, ya nggak sih?
“Adek,,,,”
“Kak Laras, syukurlah kakak bangun. Kakak tidurnya lama banget.”
“Adek yang bangunin kakak, coba kak Laras lihat, adek ngaji surah apa?”
“Hmm, Ar-Rahman kak. Soalnya kakak beri pembatas bunga, adek pikir kakak pasti suka surah ini.”
“ coba bacakan ayat yang ke empat, sekalian terjemahannya ya dek.”
“Fiihinna Qaashiroo tuthorfi lam yathmits hunna insyun qablahum walaa jaaan.. Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.”
“Dek, kakak pantes nggak jadi bidadari syurga? Apa kakak boleh jadi bidadari syurga?”
“Allah maha mengetahui apa yang di inginkan oleh hambanya, tante Rini bilang seperti itu kak.”
Aku terkejut, sebuah tangan menyentuh pundakku. Ah, dokter Rahman dan suster yang datang.
“Al-qur’an mu hampir jatuh, tuh.”
“Oh, ini Alqur’an kakak. Mau periksa kak Laras dok? Silakan, saya permisi keluar.”
“Oh,iya. Nanti temui saya di taman depan, ada yang mau saya bicarakan”
Taman depan R.S dokter sobirin? Ini mah bukan taman kali ! Mana ada taman panas kayak gini. Hufft, ini tepatnya taman kendaraan. mana belum sempat baca Al-qur’an, ketiduran tadi. Gara – gara dokter Rahman, mimpiku bertemu kak Laras jadi buyar !!
“Dewi, kemari ! “
“Mau bilang apa sih Mas? Tentang kak Laras?”
“Iya, tentang Septia. Sebenarnya, dia bukan kakak kandung mu kan?”
“Kenapa mas tanya itu kalau mas tahu jawabannya?”
“Hanya ingin memastikan, dia adikku atau bukan. Itu saja.”
“Apa? Adik??”
“Papa, sebelum meninggal sebenarnya telah menulis sebuah surat untuk ibu mu. Mulanya aku nggak mau peduli. Tapi, melihat Septia jadi teringat pada almarhum papa. Meskipun kami belum pernah berjumpa,tidakkah dewi lihat antara aku dan septia punya kemiripan?”
“Aku nggak percaya sebelum ada bukti.”
“Nih, ini foto papa.”
Gila ! kakak banget ini !! Hanya bibirnya yang berbeda.
“Tenang, aku sebatang kara. Selama ini yang mengasuhku adalah nenekku, tapi sekarang beliaupun sudah meninggal. Aku benar-benar bersyukur bisa bertemu Septia walaupun hanya sebentar.”
Aku berlari, kebohongan apalagi ini!! Ibu, aku harus menanyakan ini pada ibu.
“Iya,nak. Laki-laki itu memang telah duda ketika ibu mengenalnya. Maafkan ibu,nak…”
Tes ! Tes ! air mataku jatuh, entah sedih atau bahagia. Seorang suster memanggil bapak.
“Pasien sudah sadar, sekarang sudah di pindahkan ke ruang perawatan di kamar melati.”
Aku bergegas menuju kamar melati. Kakak pasti kesepian.
“Kak laras,,”
“Bapak sama ibu mana,dek?”
Bapak dan ibu masuk, begitupun dokter Rahman.
“Pak, ibu… Maafkan Laras.. “
“Laras sayang, kita semua yang bersalah padamu,nak…”
Kak laras tersenyum,manis sekali senyumnya !
“Anda, siapa?”
“Oh, kenalkan septia.. Aku, Rahman”
“dokter Rahman..”
Kami bahagia karena kak Laras bisa melewati masa kritisnya. Kak Laras memang luar biasa, 10 hari kritis masih kuat! Sejak hari itu, hanya aku yang menemani kakak. Aku bisa menyesuaikan dengan jadwal sekolahku. Bapak ada pekerjaan yang harus segera dikerjakannya. Ibu, siapa lagi yang akan mengurusi sekolahnya abang kecil kalau bukan ibu.
Hari ini aku membawa buklet Anggrek kesukaan kakak. Aku ingin kak Laras cepat pulih.
Dokter Rahman?? Kak laras menangis, dokter Rahman juga. Kuurungkan niat masuk ke ruangan kakak. Biarlah mereka berdua,akan kutunggu hingga dokter Rahman keluar.
Ah, keluar juga akhirnya!
“Assalamu’alaikum, kak Laras…..!!”
“Dedek sayang, cantik banget hari ini. Kamu pantas memakai jilbab itu. Kakak bahagia, mm ada anggrek ya? Bau nya udah kecium, nih.”
“Heheee, selamat Ulang tahun kak Laras. Ini hadiah dari adek.”
“Hadiah terbaik kakak adalah melihatmu berjilbab,dek. Kamu cantik!”
Ku tahan air mataku. Aku harus ceria didepan kak Laras.
“Dek, dedek udah tau kan?”
“Apa itu,kak?”
“Kak Laras bukan kakak kandung adek dan abang kecil. Kak Laras anak yang lahir dari perbuatan keji, kakak Anak haram,dek.”
“Kak, tidak ada yang salah dengan kelahiran kakak. Yang salah adalah perbuatan yang melakukannya. Allah membersihkan kak Laras dari dosa perbuatan keji itu. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,An-najm ayat 38. Kakak percaya dengan Kasih sayang Allah,kan?”
“Adek cerdas sekarang, Kakak bangga. Kakak hanya merasa, bahwa kakak tidak layak bertemu bunda Aisyah karena hal ini. Apalagi menjadi bidadari syurga, bidadari dunia juga tidak pantas..”
“Kak,,”
“Tapi, kakak bahagia.. ditengah keputusasaan kakak, kakak mandapatkan pancaran sinar-Nya.. “
“Kak Laras…”
“Hanya, kakak merasa sangat malu… Malu karena berharap bisa menjadi bidadari. Malu kepada Allah, malu pada Rosulullah, malu pada bunda Aisyah… malu pada bidadari-bidadari syurga..”
Aku merasa wajah kak Laras kembali memucat. Ya Allah..
“Kakak bersyukur diizinkan hidup di tengah-tengah orang yang menyayangi kakak. Dek,”
“Iya kak, adek disini..”
“Tolong bacakan Surah Ar-Rahman untuk kakak,dek. To long..”
Aku menahan jatuh air mataku. Entahlah, aku takut sekali. Kak laras seperti tengah menahan rasa sakit yang sangat meskipun ia tersenyum kepadaku.
Pelan-pelan kubaca surah Ar-rahman, ayat per ayat kubaca,begitupula dengan terjemahannya. Hatiku basah, ingin sekali aku menangis.
“Dek, coba ulang i ayat yang bar usan..”
“ Waliman khoofa maqaama robbihi jannatain..Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.”
Kak Laras menangis, aku hampir tak kuat menahan air mataku. Jari tangannya dingin. Nafasnya makin cepat tapi berat.
“Tabaarokasmu robbika dziljalaaliwal ikroom.. Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.”
“Sodaqqollahul Adziim. Dedek, sam pai kan ma af kak Laras untuk ba pak, ibu ju ga abang. Kata kan pada I bu, La ras mema afkan ma sa lalunya. Ma af ya,de k.”
“Kak, dedek panggil dokter Rahman ya?”
“Dek, hadiahkan se nyu m sa at ka kak ”
Suaranya melemah. Ya Robb, wajah itu memucat!
“Kak..”
“Laa ilaa ha il lall ah… Muham mad rosu lullaa h”
suara dan nafasnya berdesis. Air mataku tumpah! Seulas senyum menghias bibirnya yang tipis.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un… Bidadariku,semoga Allah mempertemukan kakak dengan bunda Aisyah.”
Kuseka air mata lalu ku cium kening kak Laras. Tubuhnya makin dingin dan pucat pasi. Rasa sakit dan luka jiwanya telah terobati.
Ibu masih saja menangis, bapak sesekali menyeka air matanya. Abang kecil ku juga ikut-ikutan menangis. Aku harus bisa tersenyum seperti pesan kak Laras.
***

Epilog
“Malam kian larut nan pekat,
Rembuln sabit yg makin redup trang.
Tetap, kan q hadiahkan senyum utk mu meski rasa q pekat n larut.
Sajak-sajakku, tetap ada untuk mu..
*Simfoni Hati*

Kututup buku harian warna biru laut milik kak Laras. Air mataku jatuh. Tes ! Tes ! Tes!

“Dek, jika memang kakak nggak bisa jadi bidadari syurga, akan kakak buat mereka iri dan cemburu pada kak Laras..”
“Gimana caranya,kak? Emang,Bidadari syurga bisa iri dan cemburu juga ya kak?”
“Iya, mereka akan dan harus cemburu pada kakak”

Air mataku kembali jatuh. Kakak memang aneh. Tiba-tiba ingin menjadi bidadari syurga. Aneh, tiba-tiba merasa mampu membuat bidadari cemburu kepadanya. Dia memang aneh, aneh karena merasa malu bertemu Rabbnya.

“Dek, pantes nggak kak Laras jadi bidadari syurga? Pantes nggak kalau kak Laras pengen ketemu bunda Aisyah?”

Tep! Lampu kamar kumatikan. Aku makin tak kuasa menahan derasnya aliran air mata ini.

“nyiur diterpa angin, suara-suara jangkrik turut meramaikan malam.
Tak ada yang berubah dan tak ada yang ingin aku ubah,kecuali hatimu..”

Syiefa_uL Qalbi
10:31 a.m at home with listening Jang geun suk song’s “Without words”

Iklan

One thought on “Simfoni Hati, Bidadariku kini Telah Kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s