Diary Hati Bintang


24 Mei 2010 Hari ini ulang tahunku yang ke-19 tahun. Aku bahkan hampir lupa,seandainya wall facebook ku tidak penuh oleh ucapan selamat ulang tahun. Aku telah menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di provinsiku melalui jalur PMDK. Akhirnya mamak mengizinkan aku untuk kuliah meskipun kuakui aku harus berdebat panjang dengan mamak dan membatalkan beasiswa kuliah di Institut Teknologi di puau jawa serta beasiswa DIII computer El-Rahma di ibukota provinsi.

Angin pagi di belakang kostan membelai lembut,kumbang-kumbang telah menari di atas bunga rambutan.suasana ini mengingatkanku akan kampung halamanku yang telah 1 tahun kutinggalkan,membuatku semakin rindu akan kampungku. Ujung jilbabku tertiup angin,kurapikan lagi.
Aku banyak belajar disini,Alhamdulillah sholatku sudah rutin 5 waktu. Kalau dulu,maghrib adalah sholat idolaku maka saat ini kalau tidak sholat sunnah rawwatib barang satu kalipun aku seperti orang linglung,padahal SMA dulu ketika ada pesantren kilat atau karena ajakan guru agamaku saja aku sholat dhuha. Disini aku bahkan tak punya saudara,tidak ada bapak atau mamak sekalipun. Dulu,aku bahkan enggan menyentuh al-quran. Sekarang ia bahkan melebihi sahabatku, menjadi tempat aku berbagi rasa. Bapak,mamak,terimakasih telah memaksaku berjilbab saat itu. Kini aku benar-benar telah mencintai jilbabku. Aku bahkan tak peduli,apakah ada bapak atau ada siapapun itu karena jilbab ini adalah cintaku. Aku malu mengenang masa dulu,saat jilbab hanya kujadikan sebagai topeng kemunafikan dan keburukan pribadiku sehari-hari.

Kubasuh muka penuh semangat,kicauan burung gereja di sekitar kostan semakin mengharukan suasana hati ini. Tengadah kedua tangan membaca doa selepas wudhu.

“Ya allah,sampaikan kerinduan dan tangisan cinta ini kepada mamakku. Tolong jaga mamak ya Allah,bintang takut maaf ini tak bermuara dalam cinta dan keridhoan mamak seperti yang Engkau perintahkan. Ampuni kesalahan dan dosa-dosa bintang ya Allah,ampuni kesalahan bintang.”
Tak terasa butiran hangat mengalir di ujung kelopak mataku,meluluh lantakkan kekerasan hatiku selama ini. Ku tatap langit,aduhai indah nian… semburat jingga di ufuk timur,pertanda mentari akan segera menyambutku pagi ini. Aku harus bersiap-siap untuk berangkat ke kampus hijauku.

****

24 mei 2008 Fajar yang cerah berhias tetesan embun yang basah serta udara yang bersih menyemarakkan suasana shubuh pagi ini,suasana pagi yang indah. Aku bersiul-siul di sumur,menimba air untuk wudhu sambil melamun. Ah,hari ini adalah ulang tahunku yang sangat aku nanti-nantikan,ulang tahun ke-17 githu loh! Sweet seventeen,yang kata orang-orang di salah satu majalah favoritku penuh dengan sejuta warna,mulai dari cinta pertama(atau pacar pertama,hee). Masa-masa yang penuh cinta yang sarat hal-hal romantis lainnya serta saat dimana kita boleh mencicipi hal-hal baru sesuka kita.

“Bintang,kamu mau subuhan apa mau ngelamun?” tegur bapak,mungkin beliau melihatku yang sedang tersenyum-senyum sendiri,hanyut dengan khayalan indahku.

“iya pak,mau sholat laah. Masa’ ngelamun bentar nggak boleh sih? Bintang udah gede pak.” jawabku. Bintang hari ini sudah 17 tahun pak,batinku.

“ cepetan sholat,setengah jam cuma di sumur aja,kapan sholatnya??”

“iya pak,iya..” aku buru-buru wudhu sambil merengut,sambutan pagi di hari ulang tahunku yang kurang mengenakkan,gerutuku dalam hati.
Usai sholat subuh langsung mandi pagi,siap-siap berangkat ke sekolah. Seperti biasanya,aku selalu duduk di beranda rumah sambil membersihkan sepeda butut kesayanganku. Aku makin bersemangat,apalagi menatap mega-mega yang mulai memerah di ufuk timur

“Bintang,kamu itu sudah besar nak,,harus sudah bisa mengatur diri sendiri,sudah besar itu yaa mesti rajin sholat nak,gak malu apa sama jilbabmu itu. Masa muslimah yang pake jilbab sholatnya cuma maghrib saja,isya lewat. Subuh juga,kalau di banguni susah,di sumur satu jam cuma buat ngelamun,dhuhur entah kemana,ashar juga ditinggalkan. Kita itu punya kewajiban nak,sholat itu ada lima waktu. Bukan Cuma maghrib saja,lhaa yang empat kamu kemanain? Sudah besar mbok yaa lebih rajin ngaji,apa ngaji itu cukup pas kecil saja? Ya ndak tho? Apa kamu nggak malu sama teman-temanmu,sama guru-gurumu,kalau mereka tahu kebiasaanmu yang suka kekanak-kanakan? Apa nggak malu sama Allah nak?? Kurang apalagi yang Allah beri? Kamu bisa juara umum terus,dapat beasiswa terus,kurang apa nak?? Mbok ya berubah tho?” ceramah bapak.

“Di kostan juga, sholatnya yang rajin. Nggak ada yang ngingetin sholat kalau di kostan,jadi harus tau kewajiban. Jaga diri baik-baik, kebiasaan jelek dirumah nggak usah ditampilkan kalau di tempat orang.”lanjut bapak.

Mendengar ceramah bapak aku hanya pura-pura mendengarkannya,ceramah yang sama setiap pagi,setiap minggunya kalau aku pulang kerumah. Kelas XI SMA ini aku memilih kost di kecamatan,supaya ngak terlalu jauh kesekolah. Mungkin lebih dari seratus kali bapak menceramahiku dengan kalimat yang sama,monoton dan membosankan untuk didengar. Kurapikan jilbabku lalu mengeluarkan sepeda,pamitan pada bapak dan berangkat ke sekolah. Sepanjang jalan tak henti-hentinya aku tersenyum,membayangkan indahnya masa-masa remajaku.” Happy birthday to me,happy birthday happy birthday,happy birthday….to me” kunyanyikan lagu itu dalam hati,ah indahnya.

“bapak,siapa juga yang nyuruh bintang pakai jilbab coba?? Inikan maunya bapak. Bintang sudah bilang pak,bintang belum mau pakai jilbab. Bintang masih pengen bebas pak. Lagian sholatkan panggilan hati,kalau bintang mau sholat ya sholat. Kalau ndak mau sholat ya ndak apa-apa sih pak. Bintang sudah gede,sudah 17 tahun. Bintang berhak atas keputusan dan hidup bintang” protesku dalam hati.
Sesungguhnya aku begitu menghormati bapak,meskipun ceramah-ceramah bapak itu terasa berisik tapi aku tetap tidak bisa membantah bapak secara langsung. Sholat maghribku juga dalam rangka nyenengin bapak,setidaknya aku masih sholat walaupun dengan melawan rasa malas yang luar biasa. Aku pakai jilbabpun untuk menyenangkan hati bapak,setidaknya keinginan beliau supaya anak perempuannya ada yang pakai jilbab kesampaian. Masa iya sih guru ngaji yang terkenal di kampungku anaknya gak pakai jilbab. Gini-gini aku sayang bapak,suka-suka aku dong bagaimana mengekpresikannya.

“Bintaaang,selamat ulang tahun yaaa,ehm,, yang udah dewasa nie yee. Cieela,selamat yaa..” bertubi-tubi teman-teman satu kelasku mengucapkan selamat ulang tahun. Semua sepertinya turut merasakan kebahagiaanku,ah..benar-benar sambutan yang indah pikirku.

“Aduh,apaan sih kalian ini? Biasa aja lagi,nggak ada yang istimewa kok. Makasih untuk ucapannya.” Aku masih jaim,jaga imut gitu loh!

“Kayaknya ada yang beda hari ini,ada apa ya? Kok saya merasa sedari pagi tadi kelas ini ribut sekali? Ada apa?” Tanya Pak Raihan,wali kelas kami XI IPA 1. Beliau mendapati kelas kami yang gaduh karena ternyata teman-teman telah menyiapkan kejutan buatku.

“Bintang ulang tahun hari ini, pak.”jawab Ardi,salah satu temanku.
“Oh,barakallah ya bintang,selamat milad ya.. jadilah bintang yang selalu taat pada Allah.” Kata guruku kemudian.

“Terima kasih pak untuk ucapannya. Terima kasih atas do’a bapak”balasku kemudian.

Aku jadi malu,wali kelasku ini emang perhatian,alim, dekat dengan anak didiknya dan selalu menanamkan nilai-nilai islami setiap berada di kelas. Rasanya hari ini benar-benar milikku. Ternyata benar,sweet seventeen itu memang saat-saat yang indah seperti kata majalah kesayanganku. Kecuali keluargaku,mereka sepertinya kurang peduli dengan hari lahir.

***

5 juni 2008 Aku dijemput pulang oleh sepupuku,padahal hari ini aku baru saja menyelesaikan satu ujian praktek. Aku mengemasi bukuku lalu pamit ke guru yang mengawasi ujian praktek dan juga kepada teman-temanku.

“Bintang mau pulang ya? Hati-hati ya bintang” johan menyapaku diluar kelas. Temanku satu ini emang badung,ujian praktek belum selesai dia malah duduk di depan kelas.

“Heehe, ya iyalah Jo. Makasih.”aku tersenyum padanya,aneh dia nggak biasanya sok perhatian gitu sama aku. Tapi dia kan memang perhatian sama aku, dulu waktu kelas X.

Aku masuk ke ruang guru,semua tiba-tiba saja berdiri menyambutku. Mereka seperti menatap tidak percaya kepadaku, ah aku jadi risih. Aneh ah,nggak biasanya mereka seperti itu.

“permisi pak,permisi bu.” kataku,canggung mereka menatapku seperti itu.

“Oh ya,mau pulang ya? Hati-hati ya nak” jawab pak Amar,guru matematika kami.

“Iya pak,terima kasih”jawabku sambil tersenyum.

Mereka kenapa sih? Ada apa sih? Tanyaku dalam hati. Belum habis rasa heranku,eh pas di ruang tunggu aku bertemu dengan seorang guru baru,bapaknya masih muda serta ganteng pula.

“Bintang, ya?”sapa beliau kemudian.

“Iya pak,saya bintang. Permisi pak ,saya di jemput sepupu untuk pulang.”jawabku.

“Oh ya nak,Silakan. Hati-hati nak.”pesan beliau.

Aku hanya tersenyum,sudah berapa orang yang kutemui tapi semua mengucapkan pesan serta tatapan yang sama. Mereka kenapa sih?tanyaku tak henti-henti. Aku menemui sepupuku yang telah menungguku dari tadi di ruang tunggu.

“memangnya ada apa fi? Kok aku tiba-tiba disuruh pulang?”tanyaku pada Fia,sepupuku.

“Bapaknya kak bintang yang nyuruh jemput kok,kata uwak penting.”jawabnya.

Ada apa ya? Apa mamak sakit? Mamak meninggal? Ataukah kakak iparnya Ayuk Nur yang katanya sakit itu meninggal? Tanyaku dalam hati.
Kami berdua naik motor,sepanjang jalan aku diajak ngobrol sama Fia,hingga aku lupa dengan pertanyaan-pertanyaan dihatiku. Banyak hal-hal lucu yang kami temui dijalan dan kami tertawa-tawa dengan riang. Saat aku melihat ayah Fia lewat mengenakan peci dan baju koko, mengendarai motor dan terlihat buru-buru sekali aku kembali menanyakan kepada sepupuku.

“Mereka mau kemana Fi? Tumben pakai baju koko.”tanyaku.

“Bapak katanya ada urusan tadi, biasa masalah penjualan getah karet sama toke-toke karet. Katanya sih mau ke Linggau, mau jual ke gudang langsung” jawab Fia.

“oalah,karet lagi toh “ gumamku kemudian.

Begitulah,kami bercerita banyak di jalan. Tertawa,hingga tiba di kampungku. Dari atas tebing aku melihat banyak orang-orang bermotor menuju ke gang rumahku.

“Ramai benar,ada hajatan ya fi?? Kok bintang nggak tahu ya? Padahal bintang baru seminggu loh balik ke kostan.” Tanyaku lagi.

“Nggak tau juga Bin,kebetulan aja kali” jawab sepupuku.

Sampai di depan rumah tetanggku,pertanyaanku menjadi banyak. Aku bergegas turun dari motor diiringi sepupuku,dari jarak 5 meter aku mencium bau kapur barus. Dinding rumahku yang terbuat dari papan juga di buka 5 keping. Semua orang menatapku dengan muka iba,ku lihat bibiku di beranda rumah dan matanya sembab.Ya Allah, Ada apa ini??

“Bintang,jangan kaget ya kalau kakak sudah di ruang tamu” Kata sepupuku.

Aku berlari ke ruang tamu,ku lihat mamak dan adik bungsu duduk di sudut ruangan. Kulihat paman-pamanku,bibi-bibiku duduk melingkari seseorang yang terbaring di ruangan itu.

“Bi,bapak kenapa? Bapak sakit apa? Kok di kerumuni kayak gitu?” tanyaku.

Melihat aku datang,salah satu pamanku langsung memeluk aku. Memeluk erat sekali,hingga aku terheran-heran.

“Ya Allah nak,yang sabar ya anakku. Bapakmu sudah dipanggil yang Maha Kuasa. Yang sabar nduk ya”ujarnya kemudian.

Kuhempaskan pelukan paman seraya menyeruak diantara kerumunan itu. Kulihat tubuh bapak yang di selimuti kain, beliau tersenyum sambil terpejam kedua matanya. Tidak ada tanda-tanda bapak meninggal.

“Paman bohong! Bapak tidur kayak gitu kok dibilang meninggal sih? Pak,bapak bangun pak. Bintang pulang,assalamualaikum bapak” ku guncang-guncang tubuh bapak,kuraih telapak tangan bapak yang telah di sedekapkan di dada. Kucium tangannya,sama seperti kalau aku pulang ke rumah setiap hari minggu.

“ Anakku,bapakmu sudah meninggal nak,sudah yang sabar nak. Ambil wudhu terus bacakan yaasin untuk bapakmu. Ikhlaskan kepergian beliau” bisik paman kemudian.

Aku tatap semua orang yang ada diruangan itu,mencari kebenaran akan penglihatanku. Aku benar-benar tidak menyangka bapak secepat ini meninggalkan aku,padahal hari minggu yang lalu aku masih mendengar ceramah bapak yang membosankan itu. Berdebat dengan bapak masalah kakak,bahkan aku menuduh bapak telah terpengaruh omongan tetangga yang mengatakan kalau kakak sulungku suka mencuri ayam dan bebek tetangga bareng teman-teman satu gengnya. Aku benar-benar tidak menyangka,uang dua puluh ribu yang di berikan beliau kemarin adalah uang terakhir yang ku terima dari bapak meskipun dengan mukaku yang kulipat seribu. Kembali kutatap wajah teduh penuh senyum itu selanjutnya aku tidak ingat apa-apa lagi.

***

Pertengahan juli 2008 Meninggalnya bapak benar-benar membuatku berantakan. Aku bahkan marah pada mamak yang tampaknya tidak pernah menangis,barang setetes air matapun! Aku bahkan protes sama mamak pas 7 hari meninggalnya bapak.

“Mak,mamak kok nggak sedih sih waktu bapak meninggal? Mamak kok nggak nangis sih?” ku tatap wajah mamak dengan tatapan curiga. Setumpuk kebencian terpancar dari sorot mataku.

“Emangnya mamak kayak kamu? Bintang,apa kamu nggak nyadar sama kesalahanmu ke bapak? Sebelum bapak meninggal,semalaman bapakmu nangis. Nelangsa karna anak-anaknya nggak ada yang mau mendengar dan percaya dengan omongan bapak,sudah apa kamu minta maaf sama bapak? Buat apa nangis bintang? Buat apa kamu nangis? Nangis pura-pura juga!” jawab mamak.

Aku benar-benar tidak menyangka mamak akan berkata seperti itu. Aku tertohok dengan kata-kata itu,tak terasa butiran hangat mengalir di pipiku. Tanpa mampu mengucapkan kata-kata balasan(seperti biasanya,satu baris kalimat yang keluar dari mulut mamak,apabila menyinggung hatiku pasti aku jawab dengan satu paragraph kalimat),aku berlari ke kamar dan membanting pintu dengan keras tanpa peduli lagi dengan perasaan mamak. Aku menangis sesenggukan di kamar,bantalpun basah oleh air mataku. Kebencianku pada mamak bertambah satu tumpuk lagi. Aku memang tidak bisa satu kata dengan mamak, bagiku kata-kata mamak tidak pernah tidak menyalahkan aku.
“Mamak tega! Mamak jahaaaaaattt!!! Bintang benci mamaak!!!” teriakku dalam tangis. Entahlah mamak mendengar atau tidak jeritanku,aku tak peduli. Aku menangis hingga tertidur.

Bagi aku,bapak telah seperti separuh jiwaku. Meninggalnya bapak adalah hilangnya peganganku. Aku bahkan tidak peduli dengan hasil ujian semesterku,nilai ku anjlok. Biasanya,setiap pembagian rapor aku selalu menjadi juara umum 1 untuk 4 kelas yang kira-kira siswanya 160 lebih yang se angkatan denganku. Semester ini,aku harus menerima ke kalahanku menjadi juara umum 3. Posisiku di gantikan oleh Ami,siswa baru pindahan dari Lampung. Aku tak peduli,bagiku prestasiku dulu adalah karena ada bapak yang menjadi penyemangatku. Walaupun ada rasa sakit di dada karena kekalahan ini,tapi tidak berarti bagiku ketimbang kepergian bapak.

Hari-hari tanpa bapak,seperti gelap bagiku. Setiap hari mamak selalu memberiku uang dua puluh ribu,tapi uang itu selalu habis. Habis untuk jajan dan membeli keperluan yang nggak jelas kepentingannya,bahkan sholat maghrib juga aku tinggalkan. Janggal memang,tapi aku menganggap ini sebagai bentuk protesku pada Allah. Aku marah sama Allah,seenaknya saja mengambil bapak. Kenapa nggak mamak saja yang duluan meninggal,kan kalau mamak meninggal nggak ngefek sama aku. Masih ada bapak itu sudah cukup! Masih untung aku nggak lepas jilbab,masih malu sama guru-guruku. Seandainya ada bapak,pasti semua akan baik-baik saja seperti biasanya.

Hari-hari bersama mamak membuatku canggung sekali. Aku memang sedari kelas III SD sudah tidak akrab dengan mamak,bukan tidak akrab melainkan benci dengan mamak. Peristiwa itu benar-benar membuat aku trauma dengan mamak, bagaimana tidak trauma ketika ibu kandung sendiri tega memukul dan mendorong kepalaku berkali-kali hingga kepalaku terbentur ke salah satu tiang rumah. Aku tidak tahu apa dan bagaimana perasaan dan pikiran mamak saat itu. Ia hanya sibuk menenangkan Adikku, Fadhil yang tak sengaja kujatuhkan dari ranjang setinggi 1 meter. Benar, aku tak sengaja karna aku saat itu memang tengah bermain dengan Fadhil di ranjang itu. Seingatku,waktu kepalaku membentur ke tiang rumah aku berteriak protes ke mamak, untuk apa aku dilahirkan kalau aku harus dipukul dan sekali lagi tangan itu membenturkan kepalaku ke tiang rumah. Trauma, itu yang mungkin aku alami hingga aku berangsur-angsur mengurangi komunikasi dengan mamak. Aku tidak tahu apakah bapak mengetahui kejadian itu atau tidak, aku sendiri tidak menceritakan hal itu kepada siapapun.
Sejak peristiwa 7 hari meninggalnya bapak,hingga hari ini aku belum menegur mamak atau mengajaknya berbicara. Barang berbasa-basi sepatah katapun tidak,biar tahu mamak kalau aku marah padanya. Uang yang kuterima,bukan mamak langsung yang memberi melainkan adik bungsuku. Aku bahkan tak tahu mamak sedang apa, mamak pergi ke mana atau sedang di manapun, aku tidak mau tahu. Salah siapa ngomong seperti itu padaku. Sudah tahu aku sensitif sama mamak, masih saja mamak nyari gara-gara sama aku.

“Mbak bintang,di panggil mamak tuh.” kata Ali,adik bungsuku.
Dengan malas aku beranjak ke ruang tengah,menemui mamak. Kulihat mamak menatapku dengan tatapan yang tak kuketahui maksudnya.Aku duduk dengan muka masih cemberut.

“Mau bilang apa sih mamak?” tanyaku dalam hati.

“Bintang,mamak salah apa sama kamu? Sampai-sampai kamu memusuhi mamak,salah apa mamak sama kamu? Segitu bencinya kamu sama mamak,Kurang apa mamak samu bintang? Kurang apa? Kamu anggap mamak ini apa Bintang? Patung,batu atau pembantu di rumah ini? Apa salah mamak?” mamak memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan menusuk.
Aku benar-benar tidak menyangka. Aku tidak menjawab,aku berusaha untuk tidak mendengarkan kata-kata mamak.

“Bintang! Ngomong sama mamak kalau kamu nggak suka sama mak? Kamu sudah gede bintang,apa susahnya bilang sama mamak? Kamu kira mamak suka didiamkan? Kamu kira mamak nggak nangis kamu cemberuti,Kamu anggap mamak ini apa?” kembali mamak bertanya,tapi aku tak mampu menjawab. Dadaku terasa sesak,aku ingin menangis.

“Oh,kamu marah sama mamak karna mamak ndak nangis waktu bapakmu meninggal,Iya? Asal kamu tahu bintang,mamak janda sekarang. Bapakmu meninggal tanpa ada pesan sama mamak,sepatah katapun! Mamak bahkan ingin nangis bintan. Tapi Ali, adik bungsumu yang melarang mamak nangis,apa kamu tahu kalau adikmu yang menghibur mamak saat dia tahu mamak sedih. Apa kamu tahu itu bintang?” lanjut mamak.

Mamak menangis,adikku berlari memeluk mamak. Melihat mamak menangis,aku jadi tak tega. Aku juga ikut menangis,jadilah ruang tengah penuh dengan tangisan kami berdua. Hatiku melunak,sedikit.
“Mak,maafkan bintang karna bintanglah yang salah.” Hanya itu yang mampu aku ucapkan,setelah itu aku pergi ke kamar. Menangis lagi,hingga aku tertidur. Walaupun hati ini melunak,dan kata maaf mengalir dar mulutku tapi itu tidak mengurangi kebencianku pada mamak. Entahlah, kejadian masa kecilku benar-benar membuatku terus membenci mamak.

****

5 juni 2009 Alarm handphoneku berbunyi,”hilangnya sang bintang hati” kubaca tulisan di layar HPku. Ah,telah 1 tahun bapak meninggal tapi rasa kehilangan masih saja terasa hingga kini. Kutatap jam di dinding kelasku,tepat pukul 10.00 WIB. Kata mamak bapak meninggal jam 10.00 hari kamis wage.
Nenekku pernah bercerita,”Bapakmu dulu lahir hari kamis wage nduk,jam 10.00 pagi. Eh, meninggalnya juga pada hari dan jam yang sama. Bapakmu benar-benar beruntung sekali. Tapi kok ya malah bapakmu duluan,padahal nenek sama kakekmu ini sudah tua. Lah wong gigi saja sudah ndak punya kok ya malah masih hidup sampai sekarang,”
Bapak,sosok ayah yang begitu aku kagumi,aku menghormati dan mencintai bapak melebihi mamak sendiri. Meskipun aku belum bisa menghilangkan rasa sakit karena kepergian bapak,aku berusaha bangkit lagi. Meskipun hanya pura-pura berbaik hati dengan mamak,setidaknya aku telah berusaha untuk baik dengan mamak.

Teman-teman sekolahku,guru-guruku,mereka semua mungkin memaklumi kalau semester kemarin nilaiku anjlok. Tapi aku adalah Bintang,mana boleh orang lain berlama-lama di posisiku. Aku berjuang lagi mengejar ketertinggalanku. Membangun semangat,menyusun strategi dan taktik baru untuk meraih juara umum 1 lagi. Juara itu milikku,milik Bintang!

Hari ini rapor dibagikan. Pamanku yang mengambilnya. Aku berhasil melempar Ami dan merebut posisiku lagi. Aku bangga setelah tahu bahwa Ami hanya mendapat peringkat kedua di kelasnya. Siswi pindahan itu ternyata tidak setangguh yang aku kira. Seandainya ada bapak,beliau pasti bangga padaku. Oh ya,sholat maghribku sudah aku jalani lagi,aku mencoba berdamai dengan Allah. Setidaknya kulakukan itu demi bapakku.

“Bintang,di panggil sama wakasek kesiswaan tuh. Sedari tadi beliau mencari-cari kamu.” Kata tias,anak IPS.
“ Oh ya,makasih”jawabku. Aku bergegas ke ruang kesiswaan.
“ Assalamualaikum,permisi pak”salamku kemudian.
“Waalaikum salam masuk,duduk sini.” Jawab beliau.

Ternyata,beliau memberitahuku bahwa ada penawaran ke universitas negeri melalui jalur PMDK. Aku tertarik karena memang sejak lama aku ingin melanjutkan kuliah,impianku sejak awal masuk SMA dan bapaklah yang tahu.Sepulang dari sekolah,aku pulang kerumah. Kuceritakan tawaran PMDK ini ke mamak. Tapi mamak lagi-lagi mengecewakan aku. Mamak tidak memberiku izin untuk kuliah.

“Uang dari mana bintang? Kita ini hidup pas-pasan,mak juga sendirian. Kalau bapakmu masih ada ya nggak apa-apa. Sekolah SMA juga sudah Alhamdulillah,kalau mau kuliah di Linggau saja. Nggak usah neko-neko mau kuliah jauh. Palembang itu jauh, butuh biaya hidup yang nggak sedikit”jawab mamak.

Tanpa menjawab lagi,aku berlari ke kamar menagis sejadi-jadinya. Ah mamak,kenapa mamak membuat aku semakin membenci mamak! Apa mamak nggak tahu kalau bintang benar-benar mau kuliah. Bapak saja ndak melarang kok,inikan hak bintang mak! Daripada kuliah di Linggau lebih baik ndak kuliah sekalian. Langsung menikah saja kalau perlu,kayak Ayuk Nur dulu. Mamak egois,pekikku dalam hati.
Alhasil aku mendiamkan mamak lagi,Ya Allah …kenapa sih bintang punya mamak kayak gitu? Sungguh,kebencianku makin memuncak sama mamak. Seandainya bisa tak menyebutnya dengan panggilan tanpa kata “mamak” atau tak punya mamak seperti itu pasti hidupku lebih bahagia.

****

Awal September 2010 Cuaca siang ini begitu panas, semula aku ragu-ragu untuk mudik ke kampung. Tapi berjumpa dengan mamak adalah alasan kepulanganku kali ini. Aku sudah tak sanggup menahan gejolak rindu di hati,kerinduan yang hendak mencari muara rindu. Aku gelisah menunggu jemputanku,tak sabar rasanya ingin memeluk mamak dan menumpahkan kerinduan serta meminta maaf atas semua kesalahan selama ini.
“Bintang mengerti sekarang mak,mengapa Allah tidak memanggil mamak lebih dulu. Allah menasihati bintang supaya berbakti dan menyayangi mamak sama seperti bintang menyayangi bapak. Bintang mengerti sekarang,mengapa bapak yang lebih dulu meninggalkan kita mak. Allah ternyata tengah menasehati bintang supaya bintang taat sama Allah,supaya bintang sadar kalau hidup dan mati bintang itu hanya untuk Allah mak. Ibadah bintang harus karena Allah bukan karena bapak .
Bintang tahu sekarang,prestasi yang bintang banggakan dulu belum ada apa-apanya dengan yang lain. Mamak,ampuni kesalahan bintang mak. Maafkan kesalahan bintang sama mamak,disini tidak ada orang yang lebih bintang rindukan kecuali mamak seorang . Bintang kangen mamak,kangen masakan mamak,suara mamak,omelan mamak dan juga tangisan mamak setiap malam. Bintang kangen mamak,kangen kasih sayang mamak yang selama ini bintang abaikan mak. Bintang malu sama Allah mak,malu sama hati bintang mak karna selama ini bintang cuma pura-pura baik dan sayang sama mamak. Mamak tahu nggak mak,kepura-puraan itu ternyata menjebak bintang maka maafkanlah bintang mak. Bintang tak pernah mendengarkan bisikan hati bintang,bisikan hati yang selalu memanggil nama mamak.
Mamak,bintang benar-benar kangen mamak. Pengen dipeluk mamak,diajari akan makna kepercayaan serta kasih sayang dalam keluarga. Maafkan semua kesalahan bintang mak,maafkan kedurhakaan bintang. Bintang dalam hati ini sekarang ada dua,ada bapak dan juga mamak. Maafkan bintang mak,maafkan bintang. Telah bertahun-tahunbintang memusuhi dan mendurhakai mamak. Maafkan bintang mak,izinkan bintang meraih ridho mamak.”
Aku mondar-mandir di ujung jembatan di perbatasan ibukota kecamatan kami.
“ Lama sekali .. “Gerutuku dalam hati.
Tak lama kemudian,aku melihat orang yang menjemputku datang. Entahlah aku gugup sekali,jantungku bahkan berdebar-debar dan sepanjang perjalanan menuju rumah aku tak bisa menenangkan gejolak dalam dadaku. Ah,aku jadi malu dengan perasaanku sendiri,aku seperti gadis pingitan yang hendak bertemu dengan pujaan hati. Setelah turun dari motor aku mengucapkan terimakasih ke sepupuku yang telah menjemput. Aduh,aku semakin grogi untuk masuk,pintu depan rumah tertutup.

“Mamak kemana ya?”tanyaku dalam hati.
“Assalamualaikum…. Mamak,Ali… Asalamualaikum..”ku buka pintu dan masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumus salaam”sahut adikku.
Dia hanya tertawa melihatku lalu mencium telapak tanganku. Tak lama kemudian kulihat mamak keluar. Aduh bintang salah tingkah nih,bintang malu sama mamak. Kucium tangan mamak,lalu kupeluk erat tubuh kurus mamak.

“Ya Allah,maafkan kesalahan bintang selama ini.” Bisik hati kecilku.
“Mamak,maafkan bintang. Bintang sayang sama mamak.” Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari lidahku. Sekali lagi,kupeluk erat tubuh kurus mamak.

“Ya Allah,satukan hati bintang dengan mamak,jadikan bintang anak yang sholehah,jadikan bintang anak yang berbakti pada kedua orang tua bintang,terutama pada mamak. “

Sudut kostan,171110.
Syiefa_ul Qalbi

Iklan

One thought on “Diary Hati Bintang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s