Elegi kepompong pada kupu-kupu


Mengapa sulit menutur cinta,

Padahal jiwa dan nurani pun merasa

Mengapa kelu mengucap cinta,

Bila sorot mata dan laku merasa.

Lantas, dimana pangkal harus bermula?

Ah, semua tak lebih dari gurauan saja.

 

Bukan, tapi engkau yang menuturkannya

Engkau yang membatasinya

Aku tanya, arus mana yang mampu menipu cinta?

Di awal,  tengah hingga akhir detik ini masih saja kita merasa nya

 

Aku selalu sama kepada dirimu

Selalu ingin melebihkan dirimu atas diriku

Ingin engkau selalu dalam ruang tasbih tutur ilahi

Selamanya menyimpanmu dalam helai robithoh pagi dan senja

 

Hm, pada akhirnya aku tak menuntutmu lebih

Tidak untuk membaca,

Tidak juga untuk mendengarku apalagi mengerti ruang hatiku

 

Sahabat, tiap robithoh pagi dan senja ku

Aku mencinta dan sayang kepadamu kerena Ilahi

Tapi, engkau tak menghendaki itu dari diriku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s