Mengapa Memilih Menjadi Penulis??


Sebenaranya, tulisan ini saya tulis atas permintaan dari seseorang, yang sama seperti saya; tengah mabuk menulis. Mabuk karena telah sampai pada klimaks kalimat,” kamu kok nggak progress sih, mana tulisanmu?”
Ya, tulisan ini adalah sedikit dari bantahan atas kebenaran itu. Bagi penulis pemula, tentu akan apa-apa manakala ia mampu membuat tulisan dalam sehari full. Jangan coba-coba membandingkan dengan mereka yang bertaraf professional.
Sebab menulis adalah panggilan jiwa, maka tulisan menjadi satu bukti kecintaan pada goresan tinta. Menulis bagi seorang pemula tak ubahnya mem-farafrase cerita kehidupan yang kemudian dituturkan dalam bahasa sendiri, untuk kemudian dinikmati sendiri, dan cukup dengan berbangga pada diri sendiri. Maka tak heran jika pada suatu ketika tersentil oleh sebaris kalimat,”kamu kok nggak progress sih, mana tulisanmu?”

Paralisis nulis? Itulah kendala sang pemula, right?

Seyogyanya, manakala seseorang tengah jatuh cinta maka apapun akan dilakukan sepanjang itu dapat meneguhkan rasa cintanya. Tapi ini adalah cerita tentang cinta yang telah mengalami paralisasi,kelumpuhan. Setidaknya ada 2 indikator mengapa penulis pemula bangga dengan semua yang serba untuk sendiri.
Pertama, kecintaan itu baru sebatas ungkapan hati. Pemula, biasanya memang kerap menuliskan ‘sesuatu’ yang keluar dari ungkapan hatinya. Baik itu di fesbuk, blog, ataupun menulis sms. Inilah yang kemudian mampu memparalisis cinta itu sendiri; aku bingung mau menulis tentang apa,nggak ada inspirasi.
Kedua, kecintaan itu hanya sebatas ucapan lisan. Ketika kecintaan pada coret-mencoret tulisan tengah mewabah, maka hal yang sering muncul adalah keinginan-keinginan untuk memberitahu orang lain bahwa ia bisa nulis! Minimal menuliskan siapa nama pena atau nama penulis favoritnya saja:;lihatlah, suatu saat nanti saya pasti seperti mereka.”
Kedua indikator ini, apabila tidak segera dipecahkan hemolimnya maka dengan sendirinya akan mematikan sang pencintanya sendiri,secara privasi.

Bagaimana dengan saya sendiri, masih pemula jugakah?

Saya sendiri termasuk kedalam golongan penulis pemula, ada banyak penulis-penulis yang menjadi inspirasi bagi saya. Sebut saja nama mereka: zaid ibn tsabit, khalil Gibran, andrea hirata, tere liye, helvy tiana rosa, bang syamsudin kadir, bang jusman dale, bang inggar saputra, dan penulis puisi lokal yang selalu membuat saya terpacu untuk terus menulis, dia adalah wahyu wibowo, adik tingkatku yang super awesome.
Perkenalan saya dengan dunia tulis-menulis muncul manakala saya mulai menggilai buku-buku sastra. Sejak saya SMP saya suka sekali membuat puisi dan mengarang cerita singkat. Biasanya cerita-cerita yang saya buat bercerita tentang sakit yang saya derita dan pembaca cerita saya yang paling setia adalah kakak perempuan saya. Tidak ada yang istimewa menjadikannya sebagai pembaca setia, selain dari kepuasan karena dia tersenyum-senyum bahkan tertawa membaca cerita saya, entahlah apa yang membuatnya seperti itu.
Pertama kali mengikuti lomba cerita pendek saat kelas VIII SMP, guru bahasa Indonesia saya memancing naluri saya untuk mengikuti lomba itu. Lekat sekali dalam ingatan, saya menulis lebih dari 10 halaman A4, dan cerita yang saya tulis itu berisi tentang kisah pemuda yang berusaha memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya dengan jalan menjual sabu-sabu. Inspirasi cerita ini adalah dari mimpi saya sendiri. Saya pribadi tidak tahu kelanjutan dari lomba ini, apakah karya saya jadi dikirimkan atau hanya menjadi bahan bacaan pribadi. Setelah itu saya tidak menulis,putus asa!
Di kelas IX, saya berhasil menelurkan dua buah cerita singkat dan pembacanya adalah sahabat-sahabat saya, tidak jauh-jauh inspirasinya;tentang saya dan sahabat. Menjelang SMA saya mulai merambah ke dunia puisi, mulai suka dengan karya-karya Khalil Gibran. Factor yang dominan sebenarnya adalah karena saya mulai menanjak masa-masa pubertas. Saya mulai rajin menulis diary, menghiasi buku-buku sekolah denagn puisi-puisi dan sesekali membuat cerita singkat.
Saat mulai menggeluti jurnalistik sekolah, saya semakin suka dengan puisi dan cerita pendek. Salah-satu cerita karangan saya yang dibuat bersambung sanggup bertahan selama 6 bulan. Cerita tentang percintaan remaja SMA, saya kala itu belum berpikir genre dari tulisan-tulisan saya. Hanya menulis dan menulis, itu saja. Oh ya, saya saat itu juga sudah memiliki nama pena, Bintang Fazaristy.
Setelah itu, karir menulis saya merosot tajam. Satu-satunya tulisan yang mampu saya hasilkan setelah episode bersambung itu ketika duduk di semester II UNSRI, itupun karena ada tantangan dari seseorang yang saat itu tengah menginspirasi. Jujur, saya sendiri bingung seperti apa kualitas dari tulisan saya. Yang pasti genre saya mulai terarah, genre fiksi remaja islami.

Apa yang membuat saya mandeg menulis?

Koreksi atas penurunan ini terus dan terus saya lakukan. Saat ini setidaknya ada dua hal yang membuat semangat menulis saya turun. Pertama, malas menulis. Meskipun ide-ide tulisan sudah membanjiri otak kiri dan kanan saya, tapi hasrat dan kemauan untuk menumpahkannya kedalam goresan tinta tidak ada. Cukup puas dengan berbangga diri karena punya segudang ide!
Kedua, lemahnya bahan bacaan. Saya akui ketika di perguruan tinggi ini kualitas bacaan dan frekuensi membaca saya menurun dibandingkan ketika SD ataupun SMA. Jarangnya aktivitas membaca ini berpengaruh pada aliran bahasa yang ingin dituangkan kedalam tulisan.

Lantas, apa yang membuat saya [kembali] menulis??

Beberapa waktu terakhir, saya mendapatkan anugerah untuk bisa mengenal banyak sosok yang menginspirasi. sebut saja diantaranya:Bang Syamsudin kadir, gayanya yang energik semi motivator membuat hasrat menulis saya timbul, saya mau jadi predator buku untuk tulisan-tulisan saya. Kedua, bang Jusman Dalle, analis yang cukup ternama di tataran nasional juga mampu membangkitkan gairah menulis saya, saya berharap suatu ketika saya bisa seperti beliau, menulis di Koran-koran nasional dan internasional. Harapan terdekat saya, ingin sekali saya mengenal langsung sosok beliau dan belajar menulis analisis dari beliau.

Kemudian bang Inggar Saputra, ditengah kebingungan saya tentang ‘anehnya’ sikap beliau, saya sangat mensyukuri bisa mengenal beliau. Setidaknya kerja keras dan kemauan menulis beliau menular pada diri saya. Kalau sudah tiba masanya, maka saya ingin membuat satu tulisan tentang beliau, perspektif pribadi.

Orang yang terakhir menginspirasi saya adalah wahyu wibowo, hasrat menulisnya begitu tinggi. Masih lekat diingatan saya bagaimana ia terus menanyakan sudah berapa tulisan yang saya hasilkan. Kini puisi-puisinya sudah bisa dikatakan melang-lang buana di Koran-koran lokal.
Apa strategi saya untuk mengatasi kemuduran ini?
Tidak banyak yang bisa saya kerjakan, saya hanya berusaha untuk mengikuti proses hidup yang digariskan kepada saya, terus mengupgrade diri dengan buku bacaan, terus mengupgrade diri dengan menulis. Pokoknya menulis,menulis, dan menulis!! Tak peduli apa yang saya tulis, yang saya inginkan adalah budaya menuangkan ide kedalam tulisan, saya ingin menjadi penulis yang candu untuk terus menulis, maka saat ini yang ada di otak saya adalah menulis-menulis-menulis-tulis!!
Akhirnya, hari ini saya hanya mampu menghasilkan 8 halaman A4. Tidak apa-apa, proses itu lebih indah daripada sekedar mengangankan hasil yang tak pasti. Semangat menulis!! Pemula ataupun profesionalis menulis hanya diukur dari kualitas dan kuantitas tulisan,maka sekali lagi:Tulislah!!

Nb: Saya tak boleh lupa untuk menyebutnya, ketika saat paralisis ini meningkat hemolimnya, maka yang mampu memecahkannya adalah bang Gol A Gong. saya mengikuti pelatihan menulis beliau, kala itu di adakan bertepatan dengan Musyawarah FLP sumsel [dan saat itu saya belum memutuskan untuk bergabung dengan FLP], tidak banyak yang saya harapkan dari pelatihan menulis tersebut, saya hanya ingin Cerpen saya di koreksi oleh beliau [dan hanya itu saja yang saya inginkan], akan tetapi berhubung beliau sedang tidak fit dan panitia tidak memfasilitasi maka naskah [tepatnya, draf ] cerpen itu saya berikan ke ketua FLP Palembang. sampai saat saya menulis ini pun, koreksi itu belum saya terima. Bertemu dengan Gol A Gong, adalah satu dari sekian ‘tamparan’ yang saya terima, bagaimanapun saya ini normal tetapi mengapa saya masih saja malas untuk menulis [saya benar-benar hanya mampu menatap tak percaya serta takjub pada kebesaran ALLAH SWT]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s