Muslim Negarawan: Selamat Datang Generasi ….!!


Masih ingatkah dengan hiruk-pikuk Ujian Nasional? Tentang perjuangan melewati masa-masa SNMPTN dan registrasi masuk hingga sekarang resmi bergelar mahasiswa? Lantas, bagaimana perasaanmu ketika sudah menjadi mahasiswa? Biasa saja, luar biasa, atau malah tidak berkesan apa-apa?
Memilih menjadi mahasiswa adalah sebuah panggilan jiwa, panggilan jiwa yang menuntut diri kita untuk turut berada pada posisi mahasiswa. Hanya pertanyaan kecil, ketika telah menjadi seorang mahasiswa seperti saat ini, kesan mahasiswa yang seperti apa yang kita inginkan? Ada setidaknya tiga alternatif pilihan untuk mendapatkan kesan itu.
Pertama menjadi mahasiswa yang aktivitasnya hanya kuliah saja. Ini pilihan, sebab hampir 70% mahasiswa memilih kuliah saja tanpa aktivitas lainnya. Akan tetapi, memilih kuliah saja pun tidak bisa menjamin bahwa IP atau IPK kita akan diatas 3.50 atau 4.00. survey pribadi saya, tidak lebih dari 20% tiap-tiap kelas itu mahasiswanya ber-IPK lebih dari 3.50 padahal notabene mereka adalah aktivis kuliah sejati.
Kedua, menjadi mahasiswa kuliah ‘nyambi’ organisasi. Ini juga pilihan, ibarat perimbangan dalam persen maka kuliah 75% dan Organisasi 25%. Akan tetapi, kebanyakan dari pilihan kedua ini akan mengeluh manakala organisasi menuntut kefokusan lebih dari porsi yang ditentukan. Tak jarang juga dari pilihan ini kemudian menjadikan mahasiswa itu sebagai aktivis passif. Keuntungan dari pilihan ini, ada perimbangan pada nilai-nilai akademik walaupun pada dasarnya kemampuan akademik itu kembali kepada masing-masing pribadi.
Ketiga, menjadi aktivis yang juga kuliah. Pilihan ketiga ini adalah kontradiksi dari pilihan ketiga, 25% untuk kuliah dan 75% untuk organisasi. Mahasiswa yang larut dengan pilihan ini biasanya identik dengan mahasiswa PMDK (persatuan Mahasiswa Dua Koma), walaupun tidak seratus persen benar. Sementara ini, pilihan mana yang saat ini kita jalani? Bagaimanakah kesan yang di peroleh pada pilihan tersebut?

Berangkat dari panggilan jiwa, maka kita akan memulai generasi…

Setelah mengupas sedikit dari ketiga alternatif pilihan seperti di atas, maka selanjutnya kita beralih pada peran mahasiswa itu sendiri. Sejarah mencatat bahwa mahasiswa telah dan akan selalu menjadi mainstream sekaligus katalisator dalam melakukan gerakan-gerakan untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang bersih, ideal dan sejahtera pada negaranya. Sejatinya di benak mahasiswa pasti terbesit satu keinginan untuk kembali menata ulang kejayaan Indonesia.
Sering usaha meraih cita-cita kejayaan Indonesia tersebut tidak senantiasa berhasil sesuai rancangan dan tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Meski begitu, tetap ada segolongan mahasiswa yang semangat pengorbanan tidak pernah lepas dari pundak-pundaknya, bahkan kian menggelora semangat. Selanjutnya, mahasiswa akan selalu berusaha mengalirkan semangat perjuangannya dalam setiap aliran darah dan denyut jantung, kepada mahasiswa lainnya dan tak tertinggal pada para calon generasi penerusnya, lihatlah bersemangatnya para mahasiswa ketika menyambut calon-calon mahasiswa di kampusnya saat penerimaan mahasiswa baru (PMB) ataupun saat masa-masa perkenalan kampus (PPK).
Salah satu tokoh penggerak perlawanan rakyat, Bung Tomo. Beliau mengatakan bahwa “perjuangan tidak memiliki arti bila tidak ada generasi penerus yang memiliki jiwa patriot” Generasi baru inilah yang nantinya menjadi harapan dalam melanjutkan estafet perjuangan sampai akhirnya kemenangan itu diraih dan masyarakat dapat merasakan manisnya kehidupan ini. Generasi baru itu adalah calon-calon intelektual muda, generasi baru yang bernama mahasiswa

KAMMI menyebut Generasi baru itu dengan nama Muslim Negarawan..

Ada satu hal yang menarik dari gerakan mahasiswa, ialah mereka yang konsisten menyuarakan profil kadernya sebagai muslim negarawan. Dua padanan kata yang khas, muslim dan negarawan. Dari tafsir resminya, dikatakan bahwa dua kata ini bermakna netral yakni muslim, merujuk pada manusia yang beragama Islam dan negarawan merujuk pada kualitas pemimpin puncak sebuah Negara.
Satu hal yang menjadi pertanyaan, mengapa negarawan, dan apa bedanya dengan bangsawan? ketika di telusuri lebih lanjut, negarawan menurut beberapa kamus adalah pejabat pemimpin pemerintahan; seseorang yang dianggap berjasa dalam membangun bangsanya; mentalitas yang merasa memiliki bangsa dan negaranya dan karenanya ia berkontribusi dalam membela dan membangun negara dan bangsanya. Mengapa tidak bangsawan, sebab kata bangsawan memiliki konotasi elit dan strata khusus yang berbeda dengan rakyat biasa, yakni mereka yang memiliki trah/darah biru sebagai atau keturunan dari penguasa sebuah bangsa. Istilah bangsawan ini sudah tidak lagi relevan di zaman sekarang. Muslim Negarawan, penggabungan dua frase kata yang menjadi profil kader dari salah satu gerakan mahasiswa, gerakan itu bernama KAMMI.
Dalam konteks kekaderan KAMMI, makna negarawan di atas bagi KAMMI adalah misi dan peran-peran kenegaraan yang lebih kepada mentalitas, bukan jabatan. Hal itulah yang harus dijiwai kader KAMMI. Sebagai ballanching power, maka KAMMI harus dapat mengontrol negara untuk konsisten menjalankan peran-peran kenegaraan ini sebagaimana termaktub dalam preambule UUD ’45. Namun yang diinginkan KAMMI makna negarawan di atas tidak dimaknai secara sekuler. Dengan istilah Muslim Negarawan maka nilai-nilai keislaman menjiwai dan mewarnai watak kenegarawanan kader KAMMI. Muslim Negarawan adalah kader KAMMI yang memiliki basis ideologi Islam yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, idealis dan konsisten, berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa, serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan.

Kembali menghayati peran mahasiswa, maka Muslim Negarawan menjadi cita-cita dan warna tersendiri bagi gerakan mahasiswa KAMMI. Hal ini bukan tanpa dasar, Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) Mahasiswa yang cenderung akan bertindak anarkis ketika suara-suara rakyat tak lagi didengar penguasa negeri serta korelasinya dengan perkataan seorang ulama Likulli marhalatin rijaaluha, likulli marhalatin tabiatuha (setiap zaman ada pemimpinnya, setiap zaman ada tabiatnya) maka menjadi Muslim yang juga Negarawan adalah profil Mahasiswa yang berwawasan pemimpin, profil mahasiswa yang berkarakter kebangsaan. Menjadi Muslim Negarawan hanyalah sebagai upaya untuk berkontribusi demi kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara kita Indonesia tercinta.
Akhirnya, memilih menjadi mahasiswa memang sebuah panggilan jiwa, panggilan jiwa yang menuntut diri kita untuk turut berada pada posisi mahasiswa dan peran-perannya. Sebuah jawaban dari pertanyaan kecil, ketika telah menjadi seorang mahasiswa seperti saat ini, kesan mahasiswa yang seperti apa yang diinginkan? Maka inilah jawaban generasi mahasiswa KAMMI, menjadi Muslim Negarawan adalah bagian dari kesan yang KAMMI inginkan. Ini adalah tentang pilihan: lebih baik menjadi Muslim Negarawan atau aku akan menjadi rugi.(uq)

Umi Qona’ah
Pegiat Kaderisasi KAMMI Al-Quds UNSRI
Syiefaulqalbi@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s