Yang paling Nggak dilupakan, momen itu..


Kisah 6 September, Menuju Mudik

Hm, saya mau cerita tentang perjalanan mudik ku.Tanggal 6 september lalu tahun 2010, jam 8 pagisaya berniat untuk mudik. tapi, sebelum berangkat saya mau nyamperin teman yang kebetulan mau mudik bareng. Kostannya jauh dari kostan saya, tapi  saya memilih  jalan kaki ke kostan dia. Bukan ngiriit tapi enak aja apalagi sambil smsan (hehee..)
Tak disangka sewaktu melewati got , Innalillah! masuk got deh! Jari-jari tangan  lecet, rok belepotan tanah dan pas angkat muka, wuiiihh… ada orang yang liatin saya jatuh! (idiih,malunya.. malu banget dah) dalam hati  cuma bisa bilang,”inna lillahi wainna ilaihi rojiunn,makasih ya allah sudah menegur umi. Umi ikhlas jatuh kok,mungkin dengan cara ini umi bisa menghibur orang yang lagi sedih hatinya,terutama yang on the spot lihat adegan umi jatuh tadi. Aamiin.”
***

Kisah 17 September, menuju Indralaya

Naah, saya balik ke Indralaya tabggal 17 September. Saya datang ke Stasiun Kereta Api jam 15.14,langsung ngacir nyari masjid buat sholat ashar. Bakda sholat Ashar langsung nangkring aja di depan warung, dekat lobi stasiun. Eh, kebetulan banget ditawari tiket seharga 90rb sama Calo tiket. Saya tidak langsung mengiyakan,  mau izin dulu dengan orang rumah ini. Ketika mengiyakan tiketnya, si Calo’ bilang tiket sudah Habis. Ya sudah, di ladeni dah ngantri tiket dari jam 17.00 ampe 19.45.
Alhamdulillah, saya dapat temen dadakan (yang satu kursi nanti di kereta) seorang cewek.Tiket gerbong tambahan, kelas Ekonomi. Harga sama saja dengan Gerbong kelas bisnis, 70.000 dengan nomor kursi 15E. Udah kebayang dong gimana enaknya kelas skonomi? Yah seperti itu adanya..

Sekitar 15 menit sebelum Kereta Api meluncur tiba-tiba hujan turun dengan tidak sopan,deras sekali! Semua penghuni gerbong sibuk menutup jendela masing-masing termasuk saya. Rupa – rupa nya cuma gerbong saya aja yang nggak bisa ditutup. Alumunium jendelanya udah bengkok, ada seorang cowok yang berbaik hati menolong, mencoba meluruskan alumuniumnya. Mungkin memang harus menjadi cerita, usaha pertolongan tetangga tetap tidak memberi arti apa-apa selain senyum dan tawa.Yah kami harus rela menerima ketika perlahan – lahan air mulai masuk dari arah jendela kami. Selanjutnya bagian dasar gerbong pun banjir dah, mau gimana lagi? Kami hanya tersenyum geli melihat anak-anak main becek-becekan air.
Setelah hujan mereda, tak tahan harus mengungsi akhirnya kami kembali ke habitat asal, kursi yang basah. Tawaran bantuan Koran mengalir, jiaaahh kami duduk beralaskan Koran! Sepanjang perjalanan, hanya bisa bermuhasabah, semoga itu bukan teguran dari Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s