Ceritaku: Tentang Titik dan Lingkaran


Hari ini,aura keceriaan sepertinya tengah menyertai. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang diberikan dengan tulus sejatinya akan kembali dengan cara yang lebih indah kepada kita. Hari ini tugasku mengirim SMS tausiyah. Biasanya aku sering memberi cerita dalam tausiyah yang ku kirimkan,tapi hari ini kebetulan berbeda sedikit.

Entah mengapa aku begitu ingin mengirimkan pesan singkat itu.
“Jika saya bertanya,ketika anda di beri sebuah kertas yang di dalamnya terdapat sebuah lingkaran. Dimanakah anda akan meletakkan 1 titik pertama kali?” begitulah baris terakhir dari pesan yang ku tulis,selanjutnya send to all.

Dari 500 nomor yang umi kirim, 50% meresponnya dengan jawaban mereka masing-masing. Aku begitu menikmatinya,ternyata mereka antusias menjawab pertanyaanku. Menjelang maghrib,handphoneku kembali berdering.

“ Kalo mbk,mbak mulai dari tengah dek. Biar bisa membagi rata lingkaran itu menjadi dua.”

Aku tersenyum,lalu kukirim balasannya.

“Bagus juga sih,tapi gimana kalo’ di mulai dari luar mbak?”

aku sengaja memancing pemikiran lawan SMSku.

“Boleh jg,tp tetep dr pjok trz di tarik garis lurus spy bs membg lingkrn jd 2 dek.”

“Ooh,umi kira dari luar itu mbk mw nmbahi satu lingkaran utk di hbgkan mjd seket2 lain. Bisa jd kupu2,boneka atw mlh bunga mbk. Lebih indah tu..”
Aku tersenyum,entah mengapa aku tiba2 punya pikiran seperti itu.

Lama hpku sunyi, 6.45 ia kembali berdering. Ada pesan masuk rupanya.

“Wah, iya ya dek koq mbak g’ kpikiran ksitu dek. Maklum daya kreatifnya mbk gx tinggi”.

Lagi-lagi aku tersenyum,”mbak ini jujur sama hatiny”, pikirku.
“Tp mbk jg keren kq,mbk sllu kpikiran ma org lain. Itu kn suara ht mbk”

Hal yang menarik tentunya, Kita memang punya pola pandang yang berbeda, pertanyaan yang saya ajukan tadi adalah tentang bagaimana orang mampu keluar dari belenggu yang mampu mematikan kreativitasnya. Tapi sungguh,yang saya dapatkan lebih dari itu. Saat ada yang membalas maka saya terpacu untuk berpikir tentang hati orang itu yang sebenarnya juga cara ia berfikir. Saya menjadi lebih mengerti,bahwa memang kita ini mempunyai keunikan yang berbeda-beda. Maka alangkah kejamnya kita,saat kita tengah berada dalam sebuah organisasi tapi kita tidak pernah mengizinkan orang lain untuk mengeluarkan ide atau paling tidak cara berpikir orang lain akan sesuatu.
Jika kita otoriter terhadap ego diri,maka kita telah sukses menyalurkan aura negative kita kepada lingkungan dan kita adalah orang yang tega membunuh kreativitas. Satu hal yang mungkin luput dari pikiranku,bahkan aku sendiri tak tahu seberapa ego kah diriku saat berhadapan dengan orang lain. Aku bahkan takut seandainya aku termasuk orang yang sukses membunuh kreativitas orang lain.

Ada yang mengatakan bahwa aku kreatif dalam memikirkan dan mengonsep sesuatu,tapi sejujurnya aku adalah orang yang paling tidak mau menerima penolakan dari orang lain jika ide-ideku tidak di terima.

Lingkaran dan titik,sebuah pertanyaan sepele yang mampu mengusik suara hati ini bahwa saya ternyata egois. Sebuah pertanyaan yang membekas di ingatanku.
‘sebenarnya,makna titik itu sendiri bagi umi apa?” sebaris kalimat yang melipat jidatku.

Ah,aku bahkan belum menemukan jawaban yang pasti. Titik dan lingkaran,apa persepsiku??
Iseng-iseng aku menjawabnya.
“Mungkin itu adalah diriku sendiri,”

Menurut kamu gimana ??

*Syiefa_uL Qalbi*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s